Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 69



" Jangan tidur di dekatku! " Ucap Grade kepada Onard yang kini tengah bersiap untuk tidur. Pria itu menghela nafas sebal, ingin bertengkar mulut tapi dia sangat lelah, tidak bertengkar pun mulutnya gatal ingin menjawab. Ah, tapi ya sudahlah, biarkan saja mau mengoceh apa karena dia benar-benar lelah sekarang ini, jadi tidur adalah solusi paling endul.


" Sudah kubilang jangan tidur di dekat ku! " Grade bangkit dari posisinya yang tadi sudah akan tidur, dia duduk dan menatap Onard dengan tatapan marah.


" Lalu aku harus tidur di mana? Ini kan rumah kakek ku, kalau kau keberatan ya sudah pergi saja dari sini. " Onard mendengus kesal, dia tak mau mengamati wajah Grade yang melotot kesal itu dan memilih memposisikan dirinya agar nyaman untuk tidur. Grade yang benar-benar tidak ingin tidur di samping Onard akhirnya menarik selimut yang akan di gunakan Onard.


" Ini memang rumah kakek mu, tapi jangan lupa kalau aku dipaksa menikah denganmu! Jadi mau tidak mau kau hanya boleh mengalah dariku! "


Onard memejamkan matanya sebentar menahan kekesalan yang hampir naik ke kepalanya.


" Hei tuan putri palsu, kau ini kalau mau protes dan merasa keberatan tolong saja ingat siapa kau dan apa kau pantas? "


Grade mengepalkan tangannya dengan tatapan kesal. Sebenarnya masa bodoh saja Onard itu cacat atau tidak, mampu atau tidak miliknya digunakan. Tapi, melihat Onard seperti terus mengingatkan akan semua yang terjadi hingga kakaknya harus meninggal, Ayahnya dipenjara, Gun yang sudah dia anggap kakak sendiri juga masuk ke dalam penjara.


" Iya, kau paham kan? Kenapa kau menikahi ku secara paksa hah?! Kau bagiku benar-benar seperti mimpi buruk, menikah denganmu sudah seperti maut untukku. "


Onard membuang nafas kasarnya. Sungguh sangat dramatis sekali arti Onard bagi Grade, tapi yang tidak mau menikah kan bukan hanya Grade saja? Kenapa kesan nya seperti Onard yang meminta menikah secara paksa? Ah, kalau bukan karena keinginan kakeknya yang tidak masuk akal itu, mana mungkin juga dia menikah dengan anak dari pria yang paling dia benci selama ini?


" Sudah lah, lebih baik kau tidur saja dan berhenti mengoceh. Kalau kau tidak mau tidur di ranjang yang sama denganku, kau bisa tidur di sofa. Kau tahu kan kalau kaki ku ini masih membutuhkan kursi roda? Aku tidak boleh tidur dengan kaki menekuk, jadi silahkan, silahkan nikmati empuknya sofa duduk itu. " Tunjuk Onard ke arah sofa duduk yang ya jauh dari ranjang tidurnya.


Grade tak mau lagi terus bertengkar, dia membawa bantal dan menarik selimut tebal untuk dia pakai saat tidur di sofa nanti.


" Hei hei hei! Aku juga butuh selimut! "


" Aku tidak dengar! " Ucap Grade masa bodoh saja.


" Aku bisa gila kalau hidup lama dengan wanita sepertimu. "


" Bagus, lebih cepat kau gila maka akan lebih bagus. Oh, punya cita-cita ingin mati cepat tidak? Aku bisa membantu mewujudkannya loh. "


" Astaga! " Onard menganga kesal menatap Grade yang sudah dalam posisi untuk tidur di sofa.


Ibu Maria tersenyum senang melihat Ibu tiri dan juga Sephora sudah datang pagi-pagi untuk membantu membersihkan rumah, sementara Tuan Diro membantu tukang kebun untuk merawat tanaman. Benar-benar serasa indah dunia jika melihat si penjahat menunduk tak berdaya, kesal pun tak berani di ungkapkan secara langsung dan hanya bisa membatin saja.


Mulai dari hari ini, mereka bertiga sudah harus membersihkan rumah Leo dan Ariel seperti perjanjian. Mungkin agak bertele-tele cara menghukum mereka, tapi percayalah hukuman yang sesungguhnya adalah ketika Ariel pulang dari bulan madu nanti.


Ibu tiri dan juga Sephora kini tengah berada di ruang mencuci, memang sih mencuci baju menggunakan mesin cuci, tapi tetap saja mereka merasa tidak rela meski harus tetap melakukannya. Sedari pagi mereka sama sekali tidak berhenti bekerja, mulai dari menyapu rumah yang besarnya tidak boleh di ragukan lagi, belum menyapu halaman, mengepel, lanjut membantu pelayan di sana untuk memasak, belum membersihkan dulu meja makan sebelum Ibu Maria sarapan, dan sampai sekarang mereka harus mencuci baju, lalu setelah kering menyetrika, barulah mereka bisa makan dengan tenang.


" Ibu, kalau begini terus aku tidak tahan! Lihat nih! Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk mengecat kukuku, tapi dalam sehari sudah empat kuku yang patah dan catnya rusak, aku tidak sanggup lagi, Ibu! "


Ibu tiri hanya bisa menghela nafas panjangnya, bagaimana bisa dia tahan juga untuk tidak mengeluh? Pekerjaan di rumah itu seolah di serahkan semua kepada mereka, sedangkan pelayan di sana malah bisa beristirahat, bahkan mengobrol juga. Kalau saja bukan karena mereka terpaksa melakukanya agar pernikahan Sephora dan Bram berlangsung sukses, mana mau mereka seperti ini? Iya, anggap saja mereka sedang menderita dahulu sebelum pada akhirnya mendapatkan menantu kaya dan bisa menopang hidup mereka.


" Sudahlah, Sephora. Nanti kalau kau sudah menikah dengan Bram, baru Ibu pikirkan lagi bagaimana caranya menguasai rumah itu, dan membalas apa yang sudah dilakukan oleh perempuan itu kepada kita. "


Sephora menghela nafas sebalnya. Jujur saja adalah rasa iri melihat kehidupan Ariel yang begitu hebat sekarang, meski suaminya jelek dan cacat, tapi kalau banyak uang seperti itu memang siapa juga yang tidak mau? Ah, ada rasa menyesal sudah menolak Leo dulu, tapi bagaimanapun juga dia akan menikah dengan Bram yang punya wajah tampan, meski tidak sekaya Leo itu juga termasuk lumayan kan?


" Bu, aku sebenarnya iri dengan kehidupan Ariel, kalau aku tidak menolak pernikahan itu, aku pasti sudah hidup dengan kaya kan? "


" Tapi kau kan tahu sendiri kalau pria itu cacat. "


" Yah, kalaupun dia cacat yang penting kan uangnya Bu. Masalah kepuasan aku bisa cari di luar kan? Hah! benar-benar bodoh sekali karena tidak pikir panjang waktu itu. "


" Sudahlah Sephora, percuma saja menyesal, kau tahu sendiri semua sudah jadi begini. Sekarang hanya tinggal pernikahan mu dengan Bram, jangan sampai pernikahan mu gagal ya? Bram akan berguna untuk membantu kehidupan kita. "


Di teras rumah, Tuan Diro hanya bisa memandangi Ibu Maria yang sibuk dengan laptopnya. Sekarang ini dia sedang merencanakan akan membuka bisnis properti, dan itu dia dedikasikan penuh untuk Ariel. Putri semata wayangnya itu sudah kehilangan banyak hal, dan sekarang sudah waktunya untuk dia memberikan apa yang bisa dia berikan membarengi cinta kasih untuk putrinya.


Tuan Diro sungguh merindukan wanita yang pernah mengisi hatinya itu, Ibu dari Ariel yang mulai ia yakini bahwa Ariel adalah putri kandungnya. Tapi karena semua sudah menjadi kacau seperti sekarang ini, dia benar-benar harus menahan diri untuk tidak mendekati Ibu Maria dan juga Marile selaku putrinya.


Bersambung.