Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 5



Mario menghela nafas menatap para tamu undangan yang ikut menghadiri pesta pernikahannya. Iya, hari ini dia dinikahkan dengan wanita menyebalkan bernama Nara, wanita itu jelas masih dia ingat dengan baik. Bagiamana tidak? Wanita yang mengejarnya seperti babi hutan memburu mangsa mana mungkin dia akan lupa secepat itu?


" Tersenyumlah, sayang. " Bisik Nara dengan jarak yang begitu dekat membuat Mario melotot kaget, dia benar-benar sudah sangat menahan diri untuk tidak memberontak, dia juga sudah menahan diri untuk tidak mengucapkan kata kasar kepada Nara yang sedari tadi terus tersenyum kepada semua tamu undangan, menyapanya dan menerima ucapan selamat menempuh hidup baru seolah mereka adalah pasangan menikah karena cinta. Sekarang berani-beraninya dia begitu dekat dan berbisik dengan nada bicara yang menggoda, di tambah lagi sekarang semua orang menatap ke arahnya. Sialan! Dia benar-benar kesal tapi tetap harus stay cool demi menjaga wajah kedua orang tuanya. Padahal sih, dia ingin sekali menunju wajah Kinara alias Nara yang selalu menatapnya dengan tatapan menggoda, begitu juga cara bicaranya.


Nara tersenyum lagi-lagi dengan begitu manis, memang sih terkesan murahan dan menyebalkan bagi Mario, tapi bagaimanapun ini adalah saran dari mertuanya yang tidak lain adalah Marile selaku Ibu dari Mario sendiri. Dia sudah menjelaskan sedetail mungkin mengenai Mario yang sangat menarik diri dari wanita, jadi Marile ingin Nara lebih aktif dalam hubungan mereka agar Mario bisa cepat terbiasa dan segera memiliki cucu. Yah, Nara tentu saja akan melakukan itu dengan sangat baik mengingat nasib perusahaan orang tuanya yang akan bangkrut sedang berada di tangannya.


" Sayang, biarkan aku mencium pipimu ya? "


" Lebih baik kau jangan macam ma- "


Mario tak lagi mampu bicara setelah Nara mendaratkan bibirnya di pipi Mario. Ah, rasanya benar-benar kesal sekali sampai ingin menjambak rambut wanita itu, memutar tubuhnya ke udara dengan rambut di tangannya, lalu melemparkan Nara sampai ke planet Pluto, yah kalau tidak salah baru-baru ini NS menemukan planet lain yang lebih jauh dari Pluto kan? Ya! Itu dia tempat yang cocok untuk Nara.


" Jangan sembarang mencium! "


Nara menghela nafas tapi dia tak kehilangan senyum di wajahnya, bagaimanapun dia tidak boleh menyerah oleh sikap Mario yang ketus dan juga dingin.


" Mencium tidak boleh, bagaimana kalau menjilat? Memegang? Memijat bagian tubuh? "


Mario terperangah tak sanggup berkata-kata, sungguh melihat mimik wajah Nara yang seperti serigala hendak memakan kelinci membuatnya bergidik ngeri. Sialnya, sekarang ini dia merasa bahwa dia adalah kelinci itu.


" Sayang...... " Panggil Nara sembari mengusap lengan Mario dan sontak membuat Mario bangkit dari duduknya hendak kabur sejauh mungkin.


" Eh, Mario mau kemana? " Tanya salah satu tamu yang baru akan berjalan mendekati mereka untuk memberikan ucapan selamat.


Nara segera bangkit juga, dia tersenyum sembari memeluk lengan Mario. Jelas Mario mencoba menyingkirkan tangan Nara, tapi Nara tak membiarkan hal itu dan tetap pada keinginanya sehingga Mario memilih untuk mengalah.


" Suamiku mengajak untuk ke kamar sekarang, bibi. Ah, maklum saja kami berdua kan anak muda yang sedang panas-panasnya dalam urusan itu. "


Mario terdiam dengan batin yang begitu tersiksa, sialan! Entah mengapa dia seperti terkunci mulutnya sehingga tidak bisa membantah apa yang di katakan Nara barusan.


Tamu itu terkekeh lalu mengangguk paham, bagaimanapun dia pernah muda jadi tahu benar kalau apa yang dikatakan Nara itu adalah benar.


" Iya, seumuran kalian pasti bersemangat. Ayo gencatan senjata agar bisa punya anak secepatnya. " Ucap tamu itu.


Nara tersenyum sementara Mario terdiam tak tahu harus bagaimana.


" Iya, rencananya kami akan melahirkan anak setiap tahun selama masa produksiku masih bagus. "


Tolong, aku benar-benar tidak tahan lagi dengan pembicaraan ini. Gencatan senjata apa? Siapa pula yang ingin melahirkan anak setiap tahun? Barusan itu manusia atau iblis yang berbicara? Tolong, siapapun culik aku, selamatkan aku dari wanita terkutuk ini!


***


Di sisi lain, Mike terus tersenyum memandangi wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Ah, dia benar-benar sangat cantik, memang sih tubuhnya tidak sebagus selera atau tipenya. Penelope, itu adalah nama istrinya biasanya juga dia akan di panggil Lope oleh orang-orang terdekat. Ah, benar-benar menyesal karena pernah menolak perjodohan tanpa melihat photonya waktu itu. Duh, sudah cantik harum lagi, batin Mike di dalam hati hingga dia tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum terus menerus.


" Aduh istriku yang cantik, kenapa baru saja selesai mengambil sumpah pernikahan malah sudah marah? Sini aku cium dulu untuk meredakan amarahmu. " Lope menahan wajah Mike dengan tengahnya dan mendorongnya untuk menjauh dari wajahnya.


" Jagalah sikapmu, kau tahu disini bukan hanya ada tiga pasang suami istri yang baru saja menikah kan? Minimal tahan sifat liarmu itu sebentar. "


Mike menatap Lope dengan tatapan berbinar.


" Jadi kalau acara sudah selesai aku sudah boleh liar? Kita bisa kikuk kikuk ya? " Mike tersenyum lebar menunjukan barusan giginya


Lope membuang nafas kasarnya, dia menggigit bibir bawahnya menahan kesal yang luar biasa menumpuk di dadanya.


" Tutup mulutmu, atau aku akan membuat mulutmu tidak bisa mengoceh lagi. " Ucap Lope sebentar melirik tajam kepada Mike.


" Aduh mau dong di buat tidak bisa mengoceh, itu artinya kan cipuk cipukan, iya kan? "


Lope menatap Mike dengan tatapan tajam.


" Oke, ayo kita lakukan apa yang kau katakan tadi, tapi sekarang tolong diamlah dan jangan mengatakan apapun karena kepalaku sangat sakit mendengar ocehan mu. "


" Oke oke, Sofia. "


" Penelope, namaku Penelope! "


" Eh, iya Penelope istriku. "


Sialan! Wajah pria ini benar-benar penuh dengan selangka. Lihat saja bagaimana aku memberikan pelajaran nanti.


***


Disisi lain, Wiliam terdiam tak mampu mengatakan apapun karena dia benar-benar tersiksa dengan apa yang terjadi sekarang. Dia duduk dengan wanita yang terlihat sangat keren, tatapan matanya benar-benar tajam tapi terkesan anggun. Namanya Moza, dia adalah putri dari Dosen kampus dimana Wiliam pernah menimba ilmu di sana.


Tidak seperti Mike yang terpesona mati-matian dengan istrinya, Wiliam justru merasa iri karena Moza seperti mematikan pesonanya, bahkan hampir semua mata pria dan juga wanita tertuju padanya seolah menandakan betapa bersinarnya dia dan tidak bisa di bandingkan dengan Wiliam. Ah, padahal selama ini dia cukup membuat perhatian selalu tertuju padanya.


" Tegakkan tubuhmu, jangan membuat kesan bahwa kau adalah pria cupu. "


Wiliam menelan salivanya.


" Biasanya aku paling bersinar di antara banyak orang. " Sombong Wiliam.


" Sayangnya aku tidak bisa melihat sinarmu yang hampir tidak ada bedanya dengan warna hitam. "


Bersambung.