
Leo kembali saat malam hari, dan dia sudah membawa hasil pemeriksaan miliknya dan milik Ariel. Sebentar dia menghela nafas sebelum masuk ke dalam rumah, tadi Ariel sempat menghubunginya beberapa kali, tapi karena dia sedang berbicara serius dengan seseorang, dia jadi terpaksa mengabaikan Ariel dan sekarang hanya tinggal deg degan saja karena dia yakin benar jika Ariel pasti akan mengomel tidak jelas nantinya. Ah, dia sampai lupa bahwa dia harus mengantarkan hasil pemeriksaan tubuhnya kepada kakek. Tapi nanti kan ada Win yang bisa mengartikan bahasa medis, jadi tidak masalah tadi buru-buru mengambil hasil pemeriksaan meksipun Dokter ingin menyampaikan satu kabar baik. Ah, mungkin saja dia sangat sehat sehingga itu di anggap kabar bahagia.
Seperti dugaannya, Ariel benar-benar sedang merengut saat Leo sampai di dalam kamar mereka. Sudah bukan hal aneh lagi sih kalau Ariel cemberut, karena memang beberapa waktu terakhir Ariel memang sangat sering cemberut saat melihatnya.
" Sayang, kau sudah makan malam? "
" Sudah. " Jawab Ariel sinis.
" Oh, mau makan lagi tidak? Aku belum makan loh. "
" Tidak. "
Ariel merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menarik selimut tinggi-tinggi sampai ke batas leher. Tentu saja Leo paham jika Ariel sedang tidak ingin di ajak bicara, padahal sebenarnya dia juga tidak lapar, tadi itu hanya untuk bosa-basi saja agar Ariel bisa sedikit lupa dengan kekesalannya.
Perlahan Leo menyusul Ariel untuk merebahkan tubuhnya, dia dengan pelan menjalankan tangannya untuk memeluk Ariel yang saat itu juga belum bisa tidur.
" Sayang, maaf tadi tidak mengangkat telepon mu ya? Tadi aku sedang bertemu dengan pria yang menghamili Sephora. "
Ariel sontak bangun dari posisinya, dia menatap Leo dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa dia begitu tertarik untuk tahu apa saja yang mereka bicarakan padahal sudah jelas Sephora sudah menceritakan segalanya tapi Leo malah menemui pria itu dan bicara dengannya.
" Apa yang kalian bicarakan? "
Leo ikut bangkit dan duduk di sebelah Ariel.
" Ada kesalahpahaman dan dia perlu meluruskan itu, juga mencoba meyakinkan Sephora. "
Ariel mengeryit menandakan bahwa dia tidak setuju. Benar sih Sephora dulu begitu jahat padanya, tapi Sephora yang sekarang sangat kasihan sehingga dia tidak tega kalau harus melihat Sephora menderita oleh pria seperti Daniel.
" Mana ada kesalahpahaman?! Dari awal saja sudah jelas kalau dia itu bajingan! Cih! Memang pria dimana-mana tengik dan menyebalkan. "
Leo menelan salivanya sendiri, pria dimana-mana apakah dia juga termasuk?
" Sayang, kenapa harus menggunakan kata pria dimana-mana sih? Bagaimana denganku? "
Ariel menghela nafas, baru dia ingin membuka mulut untuk menjawab, pintu kamar mereka diketuk oleh Win.
" Kenapa dia malam-malam kesini? " Tanya Ariel bingung.
" Tadi aku buru-buru mengambil hasil pemeriksaan, aku sampai tidak ada waktu mendengarkan penjelasan Dokter yang ingin membacakan hasil pemeriksaan untukku, jadi aku minta Win datang dan membacakannya, Win lebih paham dengan istilah kedokteran di banding aku sendiri. "
Tak lama kemudian, Win, Ariel dan Leo berada di satu ruangan, yaitu ruangan di mana Leo bekerja dari rumah.
Ketika membaca semua hasil pemeriksaan Milik Leo, dia sudah memberikan hasilnya yaitu Leo dalam keadaan sehat kecuali tekanan darahnya yang agak rendah dari seharusnya. Tapi begitu membaca milik Ariel, Win bolak balik dengan dahi mengeryit.
" Win, kau jangan menyakitiku dengan ekspresi mu itu! " Ucap Ariel yang tentu saja akan merasa takut jika Win berekspresi semacam itu.
" Nona Ariel sedang hamil, benar ya? "
Ariel mengeryit bingung, sementara Leo melongo menatap Win, lalu menatap Ariel yang malah terlihat mengeryit bingung.
" Hamil apa? Siapa yang hamil? jangan sok tahu! "
" Apa sih?! aku tidak mengerti apa itu artinya. " Ucap Ariel membaca kertas itu tapi tidak terlalu paham.
" Nona Ariel sedang hamil. " Ucap lagi Win yang membuat Leo semakin syok hingga tida tahu harus bagaimana.
Ariel terdiam sebentar sembari mengingat kapan dia datang bulan, ah! memang sudah lewat bulan dan dia sampai lupa karena terlaku santai dan bodoh amat.
" Serius? " Ariel menatap Win dengan tatapan yang penuh pengharapan untuk di iyakan oleh Win.
" Menurut hasil pemeriksaan sih begitu. "
" Ma maksudnya, maksudnya adalah, "EO menunjuk dirinya sendiri, dia gelagapan bingung mau mengatakan apa, ah! Bukan-bukan! Yang jelas dia malah lupa bagaimana caranya bicara, atau mungkin saja lupa bahasanya sendiri.
" Iya, Tuan akan jadi seorang Ayah. " Win tersenyum ikut bahagia.
Leo menatap Ariel dengan senyum indah yang terbit dari bibirnya. Sedangkan Ariel masih menolak percaya karena dia tidak ingin terlaku banyak berharap, dan merasa sakit dan kecewa luar biasa saat harapannya tidak menjadi nyata nantinya.
" Sayang, sayang kita akan punya anak! " Leo memeluk dengan bahagia tubuh Ariel.
" Ah, aku akan jadi kakek ya? "
Ariel mengeryit dengan tatapan kaget menatap Win yang sempat tersenyum seolah dia adalah Ayahnya Ariel, alias suami Ibunya.
" Sayang, kita ke rumah sakit besok pagi ya? Oke? " Leo terlihat begitu semangat, dan itu membuat Ariel jadi merasa takut kalau nanti tidak sesuai harapan.
" Bagaimana kalau hasil pemeriksaan itu salah? Bagaimana kalau aku tidak hamil? "
Leo menghela nafas, dia mengusap wajah Ariel dengan lembut.
" Tentu saja tidak masalah, kita bisa coba terus kan? "
Ariel tersenyum dan mengangguk.
Win terlihat bahagia serasa merasakan apa yang sedang dirasakan Leo. Sekilas mata Ariel bertemu dengan Win, sontak Win memperbaiki ekspresinya dan menghilangkan senyum itu.
Besok paginya.
Ariel dan Leo berangkat pagi-pagi untuk memeriksakan dan memastikan hasil pemeriksaan kesehatan yang kemarin di lakukan. Sementara Sephora masih di sana dengan harapan agar segera di kirim jauh sehingga Daniel tidak akan bisa menemukannya.
Sephora mengenal nafas menatap kopernya yang sudah siap di ujung ruangan. Dia benar-benar tidak sabar untuk pergi dari sana dan hidup tenang bersama anaknya nanti. Sebenarnya kalau boleh jujur, hamil tanpa seorang suami memang sungguh berat, apalagi saat Sephora harus mual di pagi hari, bahkan saat malam pun dia tidak akan bisa tidur nyenyak karena hampir setiap malam dia akan terbangun saat perutnya terus merasa lapar.
" Sayang, kau harus tumbuh dengan sehat ya? Ibu janji akan menjagamu baik-baik. " Ucap Sephora laku tersenyum sembari mengusap perutnya dengan lembut. Tak lama terdengar suara ketukan pintu, jadi Sephora bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.
" Kau?! "
Sephora mudur beberapa langkah dengan tatapan takut, tubuhnya gemetar hebat karena tidak menyangka jika Daniel, pria yang dia takutkan akan bisa masuk ke dalam rumah Leo yang jelas tidak mungkin bisa masuk tanpa izin dari Leo sendiri.
Bersambung.