Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 59



" Kau bisa membayangkan betapa tidak adilnya itu bagi Ayah kan? Setiap hari Ayah harus melihat bagaimana kakek mu memperlakukan Ayahnya Leo dengan penuh cinta, mereka hidup seperti sebuah keluarga bahagia tanpa menoleh ke arahku yang sebenarnya selalu ada bersama mereka. Cinta, itu adalah rasa yang membuat kakek mu lupa dengan adanya Ayah yang sejatinya adalah anak pertamanya. Ayah adalah anak kandungnya, tapi setelah adanya Ayahnya Leo, Ayah benar-benar seperti pelengkap saja di rumah itu, dan seketika Ayah merasa jika Ayah adalah orang asing. "


Mark terdiam, sebenarnya dia memang merasa jika kakeknya agak tak perduli terhadapnya. Entah apa alasannya, tapi perbedaan antara Leo dan dia begitu jelas dan terasa.


" Ayah, aku akan menjalankan rencana sesuai yang Ayah perintahkan. " Ucap Mark yang tidak tega juga mendengar cerita menyedihkan dari Ayahnya.


" Kau tidak boleh mengecewakan Ayah, Mark. "


" Aku akan berusaha semampuku, Ayah. "


Setelah diskusi di antara mereka selesai, Paman Daris segera melanjutkan rencananya. Pertama dia memberikan obat untuk memicu tekanan darah Kakek alias Ayahnya agar naik, dan efek sampingnya adalah kelumpuhan. Benar saja, siang obat itu di campurkan ke makanannya, sore ini kakek benar-benar mengalami tekanan darah tinggi, dan akhirnya di bawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Leo, pria itu benar-benar lemas tak berenergi setelah mendapatkan kabar dari Win. Dia sungguh tidak menyangka kalau kakeknya juga akan mendapatkan masalah dalam hal ini. Padahal selama ini dia sudah menahan diri tidak menunjukkan perhatian dan betapa cintanya dia terhadap Leo secara langsung, tapi tetap saja ya membuat posisinya aman.


" Win, bagaimana dengan sumber daya Pakan Daris dan Mark? "


" Semua sudah berjalan seperti yang kita inginkan, orang-orang kita juga sudah satu persatu masuk untuk mengguncang perusahannya. Kalau semua bukti sudah di tangan kita, baru kami akan mulai melaporkan perusahan itu karena memalsukan izin dari negara. "


" Bagus, buat dia kesulitan materi, karena hanya dengan itu lah dia tidak akan bisa melakukan apapun. "


" Baik.


Leo menatap photo keluarganya, kakek, Ayah, Ibunya juga. Rasanya sudah kehilangan kedua orang tua, tapi bagaimana bisa itu semua tidak membuat Paman Daris dan Mark puas? Apakah akan terus seperti ini? Apakah nyawa orang lain sama Sekali tidak penting untuk mereka? Bukankah mereka seharusnya sadar jika setiap manusia memiliki hak untuk hidup, mereka pasti mencintai nyawanya agar bisa terus merasakan kebahagiaan dunia kan? Kenapa begitu mudahnya bagi mereka merenggut nyawa manusia?


" Win, minta pria itu datang secepatnya. Aku benar-benar butuh bantuannya sekarang. "


Win terdiam sebentar mencari tahu arti dari mimik wajah Leo saat berbicara.


" Anda serius? "


Leo menatap Win dengan tatapan serius.


" Iya. " Leo mengepalkan tangannya.


" Sebenarnya aku tidak bisa membenci dia selama ini, hanya saja melihat atau membicarakan dia selalu mengingatkan ku akan tragedi itu. Aku memang menderita karena tragedi kebakaran itu, tapi aku yakin dia jauh lebih menderita dari pada aku. Dia pernah bilang kalau dia siap membantu kita kapanpun kita butuhkan kan? Maka aku butuh dia sekarang. "


Win mengangguk setuju juga paham.


" Tuan Leonarde pasti akan sangat gembira karena pada akhirnya dia memiliki kesempatan untuk membalas sakit hatinya. "


Leo terdiam sebentar. Sebenarnya Saudara tirinya itu benar-benar membuatnya terus mengingat tragedi, sekaligus juga pembuktian betapa bajingan mendiang Ayahnya. Tapi sekuat apapun dia menolak, nyatanya Leonarde juga bukan orang patut dia salahkan untuk semua yang terjadi, toh selama ini dia juga jauh menderita dibanding dirinya.


" Win, jangan lupa pantau terus keadaan kakek ku. "


" Baik, kapan rencana anda akan berkunjung, Tuan? "


" Hari ini juga, tolong siapkan semuanya. "


Setelah semuanya selesai, Leo bersama dengan Win kini tengah di dalam perjalanan menuju rumah sakit dimana kakeknya di rawat. Sementara Ariel, dia diminta untuk tinggal di dalam kamar, sampai Leo kembali ke rumah. Bukan maksud ingin memenjarakan istrinya, hanya saja dia takut kalau Ariel akan berada dalam bahaya saat keluar dari rumah, atau dari kamar sekalipun.


Sesampainya disana, Leo yang berada di kursi roda dan Win berada di belakang mendorong kursi roda itu. Leo menatap Mark dan Paman Daris yang jelas sekali kalau mereka berdua sama sekali tak kaget dengan apa yang terjadi dengan kakeknya.


" Kau datang juga akhirnya, kakek mu pasti terhibur dengan kehadiran mu di sini. "


Tak menjawab pertanyaan itu, Leo justru meminta Win untuk terus mendorong kursi rodanya hingga masuk ke dalam ruang perawatan dimana kakeknya berada.


" Benar-benar seperti anjing Patih. " Gumam Gun saat Win akan masuk kedalam ruang perawatan. Win jelas mendengar barisan kalimat yang pasti membuat emosinya naik, tapi bukan Win kalau tidak bisa menahannya dan membalas di waktu yang tepat.


Win tersenyum, dia menatap Gun sebentar dengan tatapan yang tak bisa untuk Gun artikan apa maksudnya, tali ucapan Win barusan benar-benar seperti sebuah ancaman yang cukup membuat Gun berdebar gentar.


" Aku bahagia menjadi anjing dari orang hebat, terimakasih pujiannya. " Seperti itulah balasan Win kepada Gun dan itu sontak membuat Gun menatap sinis tanpa bisa berkata-kata.


Begitu sampai di dalam ruangan, Leo sebentar menatap pilu tubuh kakeknya yang terbaring tak berdaya. Matanya memerah menahan tangis kesedihan, dia juga sudah akan menyentuh tangan kakeknya, tapi segera dia menatap untuk mengisyaratkan agar tak melakukan itu.


Pria tua itu hanya bisa menahan tangis, dia juga merasakan kesedihan yang tak bisa dia bendung dengan kondisinya, tapi dia juga tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu dengan Leo jika Leo terlalu menunjukkan kesedihannya.


" Kakek, bertahan sebentar lagi ya? Aku janji akan segera menyelesaikan semuanya, mengumpulkan semua bukti, menghancurkan sumber keuangannya, dengan begitu dia tidak akan bisa menyakiti kita lagi. " Ucap Leo pelan, dan dengan matanya kakek mengiyakan Meksi dia tak berani banyak berharap banyak, baginya sudah cukup Leo hidup dengan nyaman dan aman, jadi dia tidak menginginkan yang lain.


Di luar ruangan.


Mark menutup teleponnya setelah mendapatkan telepon dari orang yang dia suruh untuk memata-matai Leo dan Nard selama ini.


" Ayah, aku ingin memastikan sesuatu, tunggu aku membawa kabar bak. "


Paman Daris tersenyum, lalu segera mengangguk.


Di sebuah tempat yang kurang lebih mirip seperti gudang terbengkalai tak terpakai, Mark kini telah sampai ke sana untuk melihat dan berbicara langsung dengan orang yang ditangkap oleh orang-orangnya.


" Jadi, apa gunanya kau untuk Leo? " Pria itu tak menjawab, padahal dia sudah di hajar habis-habisan sampai wajahnya berdarah-darah.


" Heh! Kau tidak ingin bicara? Baiklah, aku sangat suka menyiksa dengan cara ya g ekstrem, jadi aku ingin mulai dari bagian bawah mu, aku akan memotongnya sampai habis. "


Pria itu memilih untuk diam, padahal lagi-lagi dua orang suruhan Mark sudah memukul perutnya berkali-kali, bahkan sudah membuka celananya untuk membuatnya mengaku.


" Masih tidak ingin menjawab? " Mark tersenyum miring.


" Kau tahu siapa dua orang di photo ini kan? "


Pria itu menatap dengan terkejut sebuah photo yang di pegang oleh Mark.


Bersambung.