
Satu Minggu sudah berlalu, Amanda benar-benar menunjukkan betapa dia layak sebagai sekretaris seorang Presdir Nard atau Leo. Satu Minggu saja Ariel sering kesal dan merasa bosan karena hampir semua pekerjaan jadi di kerjakan oleh Amanda.
" Selamat pagi, Presdir Nard? Ini teh hijau untuk anda, gulanya juga seperti biasa tidak terlalu banyak. " Ucapnya dengan senyum yang begitu manis.
" Terimakasih. " Ucap Leo singkat.
" Pagi ini kita ada meeting dengan klien, Presdir Nard. Semuanya sudah saya siapkan, jadi saya akan kembali tiga puluh menit lagi untuk menemani anda meeting. "
" Iya. "
Amanda tersenyum, dia bergegas membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan Presdir, tapi begitu tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Ariel, Amanda justru terlihat tak suka padanya.
" Dasar sinting! " Maki Ariel pelan, dan hanya di sendiri yang mendengarnya.
Ariel menghela nafas sebalnya, sungguh dia tidak tahu apa gunanya dia berada disana. Satu ruangan dengan Presdir, tapi gunanya dia malah hanya untuk memenuhi kebutuhan lain dari seorang Presdir, ah! Maksudnya kebutuhan suami yang seharusnya di lakukan di rumah.
" Kau bosan? Ingin keluar jalan-jalan? " Tanya Leo yang bisa dengan jelas melihat wajah suntuk istrinya.
" Aku pulang ke rumah saja ya? Coba deh lihat apa pekerjaan ku disini? Cuma duduk, main ponsel, pekerjaan macam apa yang begini santainya? "
Leo tersenyum, dia bangkit dari tempatnya untuk mendekati Ariel.
" Kalau kau tidak disini, bagaimana kau bisa mengenalku lebih dalam? Kau dalam tahap itu kan? "
Ariel berdecih sebal, bagaimana tidak? Kalaupun mau saling mengenal lebih dalam, masalah ewita harusnya jangan dulu di lakukan kan? Sudah ewita berkali-kali, setiap hari, apa gunanya saling mengenal lebih dalam?
" Kenapa? Coba beri tahu aku, apa yang membuatmu kurang puas? "
" Tidak ada, puas! Aku puas! Puaaaass sekali! " Ariel menatap dengan kesal, memang apa lagi yang bisa dia katakan? Bagaimana membuatnya puas? Oh, haruskah dia mengatakan jika tidak semuanya terkecuali ewita yang menurutnya overload?
Leo terkekeh sembari mengusap, mengacak rambut Ariel. Ini adalah perasaan bahagia seorang pria karena mencintai wanitanya, iya! Itu adalah perasaan yang dirasakan Leo. Ariel, dia adalah wanita yang berbeda, dia wanita yang tetap memilih bertahan setelah sikap buruk dan juga keadaannya yang cacat.
" Nanti ikut meeting saja ya? "
Ariel menghela nafas.
" Aku tidak berguna juga, semua yang harus aku kerjakan kan sudah di ambil alih oleh Amanda si sekretaris yang luar biasa cantik dan rajin itu. "
Leo mengecup singkat kening Ariel, lalu mengusap wajahnya dengan lembut.
" Siapa bilang kau tidak berguna? Ada kau di dekatku selalu membuatku merasa lega karena aku yakin kau aman bersamaku. Aku tentu saja lebih bisa berkonsentrasi dalam bekerja, aku juga hanya tinggal melihatmu saat aku merasa lelah, karena dengan melihatmu aku akan kembali bersemangat. "
Ariel ternganga keheranan. Sungguh luar biasa sekali indahnya gombalan Leo barusa sampai dia malah jadi ingin mengsleding mulut manis tapi membuatnya kesal itu.
Suara pintu kembali di ketuk, dan itu adalah Amanda yang sudah siap untuk pergi meeting.
" Kau ikut ya? "
Ariel menggeleng dengan cepat.
" Aku disini saja, malas kalau ikut meeting tapi cuma jadi patung saja. "
Ariel mengangguk setuju, iya dari pada melihat Amanda dan Leo yang begitu kompak dalam bekerja, sedangkan dia tidak begitu paham, lebih baik kalau dia tidak ikut sekalian.
Setelah kepergian Leo, Ariel di dalam ruangan sendirian. Sebenarnya dia benar-benar ingin pulang, tapi entah mengapa dia merasa malas juga dan tetap disana sebentar lagi. Tapi sialnya dia malah berada di sana hanya untuk menyambut kedatangan si brengsek yang tak lain adalah Mark.
" Selamat siang, Ariel? "
Ariel terdiam meski bibirnya sedikit tergerak tersenyum. Sebenarnya awalnya dia tidak merasa takut sama sekali dengan Mark, tapi begitu mengingat bahwa Win dan Leo begitu berhati-hati terhadap mereka berdua, Ariel jadi merasa tidak boleh menganggap remeh apalagi sampai menyinggung kedua orang itu.
" Selamat siang, Mark. Ada apa? Presdir Nard sedang ada meeting. "
Mark tersenyum, dan jujur saja, senyum itu membuat Ariel merasa gugup tak tahu mengapa.
" Aku tahu kok, makanya aku datang untuk menemanimu. "
Menemaniku? Sayang sekali dari pada di temani olehmu, aku justru merasa lebih baik kalau sendirian saja.
" Ariel, aku tadi membeli es kopi saat kesini. Aku sih belinya tiga karena aku pikir Nard ada di sini, tapi karena kita hanya berdua, kita minum saja berdua sembari mengobrol yuk? "
Ariel menelan salivanya sendiri. Minuman? Apakah ini akan seperti kebanyakan film kejahatan yang akan pingsan setelah meminum minuman itu. Apalagi minumannya kan berwarna, jelas lah sudah Ariel tidak bisa membedakannya kalau itu ada racunnya atau tidak.
" Kenapa? Jangan bilang kau takut aku meracuni mu. " Ucap Mark yang bisa dengan mudah membaca ekspresi Ariel.
" Jangan khawatir, aku mau kok mencicipi satu persatu supaya kau percaya. Mau dicoba? "
Ariel tak menjawab, tapi segera Mark mengeluarkan satu sedotan dan mencobanya satu persatu.
" Nih, aku tidak apa-apa kan? " Mark tersenyum dengan begitu manis.
Ariel memaksakan senyumnya, dia mengangguk lalu mengambil satu es kopi yang sudah di letakkan di atas meja dan mulai menyedotnya perlahan.
Mark tersenyum miring.
Belum waktunya, Ariel. Sekarang aku hanya perlu mendekatkan diri padamu, tapi jangan salahkan aku jika ada masanya kau tidak waspada terhadapku.
***
Setelah selesai meeting, tadinya Leo ingin segera kembali ke perusahaan dan bertemu istrinya, tapi entah mengapa jalan pulang menemui Ariel seperti begitu banyak rintangan. Mulai dari mobil yang mogok, macet karena kecelakaan, sudah satu jam dia berada di dalam perjalanan, tapi jarak untuk bertemu Ariel belum juga banyak terkikis.
" Presdir Nard, ini sudah mulai sore, bagaimana kalau kita makan dulu saja? Anda juga sudah melewatkan makan siang, maaf saya agak cerewet, karena kesehatan anda kan sangat penting. Bukan hanya untuk anda sendiri, tapi juga penting untuk saya, dan juga para pegawai yang hanya mampu bergerak saat anda memberikan perintah. "
Leo tak menjawab, kalau boleh jujur sebenarnya dia memang lapar, tapi entah mengapa perasaannya sedari tidak enak. Sudah mencoba mengirim pesan kepada Win, tapi pria itu sedang keluar kota untuk menyelesaikan sebuah urusan yang terbilang penting. Anehnya juga pengawal yang biasanya ada di luar ruangannya juga tida mengangkat telepon darinya.
" Presdir, kita berhenti di depan jalan saja ya? Disana ada tempat makan yang terbilang berkualitas baik. Saya yakin anda akan menyukai makanan dan suasananya. "
Leo menghela nafas ingin menatap Amanda dengan tatapan tak suka, tapi begitu melihat dada Amanda yang menonjol sempurna, Leo segera mengalihkan pandangan dan malah menjadi semakin kesal di buatnya.
Bersambung.