
Grade menangis tak tertahankan membaca surat yang diberikan Ayahnya. Mungkin ini adalah surat pertama dan terakhir yang diterimanya dari pria yang paling berjasa di dalam hidupnya. Ucapan penuh cinta, sayang, kasih, harapan sebagai seorang Ayah, juga rasa bersalah yang luar biasa seakan begitu terasa. Air mata begitu deras terjatuh dari mata indah Grade, dia yang jasanya tak pernah menunjukkan sisi kemah ini akhirnya hanya bisa masa bodoh saja dengan adanya Onard disana.
Dear my princess... Apa kabar mu hari ini nak? Semoga kau selalu sehat, dan juga bahagia seperti biasanya, dan juga bersemangat seperti hari sebelum semua kesedihan ini terjadi. Hari ini Ayah yang sudah menahan diri untuk tidak mengirimkan pesan untukmu akhirnya Ayah kirim lembaran kertas yang akan mewakili seluruh apa yang akan Ayah rasakan.
*Maaf, Ayah hanya akan sekali ini mengirimkan surat untukmu. Nak, Ayah baru dengar dari pengacara Ayah bahwa kau menikah dengan Onard, jujur Ayah tidak setuju sama sekali karena Ayah khawatir dia hanya akan melampiaskan kebenciannya terhadapmu. Ayah memang bukan orang yang baik, benar jika Ayah memang dalang dari pembunuhan, Ayah begitu mengedepankan luka lama hingga menjadi malapetaka berkepanjangan seperti ini.
Jujur, Ayah begitu menyesal karena pada akhirnya semua yang terjadi tak sesuai dengan yang Ayah harapkan. Tapi, Ayah juga bersyukur bisa merasa begitu tenang di dalam tahanan, Ayah jadi bisa berpikir jernih dan memahami segala keburukan yang Ayah lakukan. Sudahlah, Ayah tidak ingin membahas masalah itu yang jelas memang Ayah bersalah.
Nak, tolong hiduplah dengan baik, tolong bantu Ayah dengan bersikap baiklah kepada Onard. Dia adalah salah satu korban dari kejahatan Ayah yang kini menjadi suami mu. Ayah tahu ini akan berat bagimu, tapi hanya kau yang tersisa jadi Ayah tidak memiliki pilihan lain.
Grade, putriku yang paling Ayah cintai, surat ini Ayah tulis dengan linangan air mata tiada henti karena mungkin sampai Ayah mati pun tidak bisa melihatmu. Tolong jangan menemui Ayah, tenanglah dan terima jasad Ayah nanti.
Ayah tahu kau adalah gadis yang kuat, Ayah tahu kau adalah gadis yang pemberani dan tidak mudah menyerah. Tawamu, kelucuan mu, wajah cantikmu yang mirip seperti Ibumu akan Ayah simpan hingga kapanpun meski jasad Ayah sudah keburu menjadi tanah. Terimakasih sudah hadis di dalam hidup Ayah, terimakasih sudah memiliki wajah seperti Ibumu yang membuat Ayah merasa baik-baik saja setiap waktu dengan melihat wajahmu yang tersenyum manis kepada Ayah.
Grade putriku, Ayah harap kau jangan terlalu bersedih ya? Semua yang ada di dekatmu anggap saja adalah keluarga mu. Berperilaku lah dengan baik, jangan seperti Ayah yang begitu menyedihkan karena begitu hanyut dalam kesedihan hingga meracuni pikiran Ayah sendiri sampai Ayah menjadi iblis. Berusahalah menyayangi Onard meski itu sulit, karena Meksi Ayah tidak menyukai pria itu, Ayah berasa yakin jika pria itu adalah pria yang baik untukmu.
Sekian, Ayah akhiri pesan ini, jangan terus bersedih, ingatlah saja bahwa semua orang pasti akan mati, anggap saja Ayah hanya beruntung untuk menyusul Ibumu dan kakak mu lebih dulu, biarkan kami bertiga berkumpul bersama, nanti kalau sudah waktunya kau bisa datang kepada kami.
I love you, always and forever*.
Erat-erat Grade membawa surat itu ke dalam dadanya sembari menangis tersedu-sedu. Sakit, benar-benar sangat sakit harus berpisah hingga maut memisahkan padahal hal itu belum terjadi tapi dia tidak mampu dan tidak bisa menemui Ayahnya karena itulah harapan Ayahnya. Mungkin, sebagai seorang Ayah yang tahu ingin di hukum mati akan merasa berat ketika melihat wajah putrinya jadi Paman Daris memilih untuk tidak melihat sama sekali wajah putrinya dan menganggap kalau kematiannya hanya jalan untuk berpindah dimensi agar bisa bertemu dengan putra dan juga istrinya. Tapi Grade, dia tentu saja ingin memeluk, mencium sang Ayah sebelum sang Ayah memejamkan mata untuk selamanya, dan begitu hancurnya hati ketika keinginan sederhana itu tak mendapatkan restu dari sang Ayah.
Mendengar kata-kata itu dari Onard sebenarnya Grade ingin sekali membantahnya dan memprotes Onard karena dia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi dirinya. Tapi, dia juga mengingat bahwa Ayahnya memintanya untuk bersikap baik kepada Onard, dia hanya bisa menahan itu dengan mata yang semakin tak tertahankan.
Onard, pria itu sebenarnya memang sangat membenci Paman Daris, bahkan keinginan membunuh pria itu dengan tangannya sendiri juga tak pernah hilang dari hatinya hingga Aat ini. Dia juga egois, dia juga memiliki keinginan untuk menyiksa Grade pada awalnya. Dia ingin menjadikan Grade pelayan dirumah, lalu menjualnya kepada seorang pria hidung belang nantinya. Tapi, begitu arah cerita berubah hanya dengan kalimat dari sang kakek untuk menikahi Grade, pada akhirnya dia juga merasakan perubahan rasa. Dia mulai memahami jika Grade tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi dengan dirinya, dan keluarga Ayahnya. Grade saat itu juga masih kecil belum tahu apapun, jadi mana mungkin dia akan terlibat.
" Tolong keluarlah, biarkan aku sendiri. Kau mohon. " Ucap Grade untuk pertama kalinya dia begitu sopan meski suaranya begitu terisak dan gemetar karena tak bisa berhenti menangis.
" Iya. " Onard menjalankan kursi rodanya keluar dari kamar. Sebentar Onard terdiam begitu ia menutup rapat pintu kamarnya. Jujur melihat Grade yang tidak pernah menangis di hadapan orang lain cukup membuatnya merasa tidak nyaman dan seperti merasakan betapa menyesakkan itu. Padahal dia pernah mengalami dimana dia merasa dunianya begitu hancur, dia juga sampai memohon kematiannya di setiap dia membuka mata.
Semua masa itu sudah berlalu meski tak banyak merasakan kebahagiaan di masa lalu, Onard kini bisa hidup dan mencoba sebaik mungkin dalam hidup agar dapat merasakan apa yang di sebut kebahagiaan.
" Kau adalah wanita yang kuat, jadi jangan terlalu lama bersedih. " Ucap Onard pelan, lalu segera meninggalkan tempat itu menuju ruang dimana dia bisa bekerja.
***
Setelah menunggu cukup lama rupanya Sephora masih tak di biarkan keluar dari apartemen itu. Dia sudah ratusan kali meminta untuk di izinkan keluar, dia bahkan sampai rela bersujud di kaki pria itu karena harus kembali ke rumah, tapi pria itu malah semakin bersemangat menyekapnya di sana. Dengan alasan takut jika nanti Sephora hamil, pria itu memutuskan seorang diri untuk menahan Sephora sampai Sephora datang bulan nantinya.
" Kau tetaplah di dalam, karena kalau sampai kau mencoba untuk keluar, aku tidak akan segan-segan mematahkan kedua kakimu! "
Bersambung.