Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 25



" Aku sempat mendengar pembicaraan kalian tentang Ibunya Ariel, aku hanya ingin memberitahu saja, bahwa lusa Ibunya Ariel pasti akan di bebaskan. "


Jelas kalimat yang tersusun rapih dan keluar dari mulut Leo membuat Ariel, juga semua orang yang ada disana terbelalak kaget. Mereka seperti ingin tidak percaya, tapi melihat bagaimana tatapan Leo, mereka mulai menahan diri agar tidak terlihat gemetar. Taun Diro, pria berusia empat puluh delapan tahun itu sempat terkejut pada awalnya, tapi dia juga terlihat seperti sedang menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang mungkin akan dia sesali nantinya.


Pria yang duduk di hadapannya, dia adalah menantunya, dia memang orang cacat yang tidak bisa berdiri dan berwajah jelek karena kulitnya terkena luka bakar yang parah. Rasanya tidak ingin mempercayai ucapan Leo, tapi dia juga tidak ingin meremehkan karena kakek Leo adalah orang yang pernah menolongnya. Sekarang ini dia memilih diam, karena hatinya meyakini jika Maria tidak akan mungkin bebas apapun caranya.


Leo tersenyum minat bagaimana Tuan Diro berekspresi, dia sungguh bisa mengartikan senyuman itu. Senyuman seperti mengejek di dalam hati, istrinya dan Sephora juga terdiam meski mereka ingin sekali menyangkal bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Tidak masalah, tatapan semacam itu sudah sering di dapatkan Leo selama ini, lagi pula, Leo bukan orang yang akan membuang energi untuk marah kepada orang yang dia rasa tidak penting sama sekali.


" Iya, kami harap wanita itu bisa bebas. " Ujar Ibu tiri.


Ariel, gadis cantik itu masih menatap Leo dengan tatapan terkejut. Tidak tahu mengapa, meksipun itu benar atau tidak, Ariel merasakan hatinya bergetar karena Leo terlihat seperti memperdulikan Ibunya, padahal Ayahnya sendiri tidak perduli, karena selama ini dia hanya sok perduli dan berpura-pura perhatian entah apa maksud dan tujuan utamanya.


" Sayang sekali ya? Wanita cantik seperti Ibu Maria harus mendekam di penjara karena dia terlalu baik hati. "


Tuan Diro mengeryit menatap Leo. Iya, kalimat itu cukup menyentil egonya karena bagaimana Maria menjadi tersangka kala itu dia tahu benar bagaimana alurnya. Tuan Diro masih berusaha sebaik mungkin untuk menutupi apa yang dia pikirkan di balik wajah datarnya. Tapi sayangnya saat dia mengeryit tadi Leo bisa membaca segalanya apa yah dia pikirkan. Tidak masalah, kalimat itu akan membuat Tuan Diro kepikiran nantinya, dan itu adalah tujuan utama Leo mengatakan itu.


" Jagan bicara begitu, dia itu dipenjara ya karena memang dia bersalah. Semua bukti dan saksi jelas mengarah padanya, jadi bukan urusan kami lagi kalau tentang dia. " Ujar Ibu tiri, sedangkan Sephora, gadis itu sedari tadi sibuk memandangi ruangan, juga rumah Leo yang sepertinya sangat mahal desain dan furniture nya.


Andai saja pria itu tidak cacat dan jelek.


Sephora menghela nafas, dia berpikir sekaya apapun pria, kalau dia cacat dan jelek seperti Leo mana ada yang akan mau dengannya? Yakin sih kalau Leo pasti tidak bisa bereaksi layaknya pria jantan seperti Bram. Yah, meskipun Bram itu agak menyebalkan karena selalu membuatnya kesal saat akan melajukan hubungan intim. Bagaiman tidak? Pemanasan berlangsung lama, tapi begitu masuk sudah keluar saja cairannya. Sejujurnya dia juga tidak terpuaskan, tapi karena Bram anak dari orang kaya, dia sisihkan dulu kepuasan itu sampai gol menikah dengan Bram, nanti baru cari kepuasan di luar sana.


Leo lagi-lagi tersenyum melihat bagaimana Sephora memandangi isi rumahnya, lalu memandangi dirinya dari atas hingga ke bawah. Menjijikan sekali, karena Sephora seperti binatang buas yang memikirkan kelaparan di saat yang tidak tepat seperti ini.


" Jangan menuduh Ibuku yang bukan-bukan! Selama sembilan tahun terakhir Ibuku selalu membantah semua tuduhan itu, aku sebenarnya heran kenapa Ibuku mulai diam setahun ini. " Ujar Ariel yang kini terlihat tertekan. Leo yang melihat bagaimana wajah Ariel bersedih rasanya sangat kesal, tapi penting juga baginya untuk tetap tenang dan menahan diri dengan baik.


" Ariel, kalau aku bilang Ibumu bebas, pasti akan bebas. Iya kan, Ayah mertua? "


Tuan Diro agak membuka matanya lebar karena tak mampu menahan perasaan tertekan hanya karena senyum aneh, dan tatapan mengancam dari Leo yang seharunya menghormatinya sebagai Ayah mertua. Aneh, meksipun dia bisa menggunakan itu sebagian alat untuk membungkam Leo, tapi nyatanya dia tidak mampu melakukannya dan merasa kalau dia harus terus menahan diri entah siapa kapan? Sebenarnya niat mereka datang menemui Ariel untuk memastikan apakah Ariel yang mencoba mengorek kasus Ibunya, atau bukan. Tapi sekarang Tuan Diro paham dan yakin benar siapa orang itu. Iya, dia adalah Leo, menantunya sendiri.


" Kau ini jangan sombong, aku dengar kau ini kan hanya cucu manja yang terbiasa duduk di rumah dengan santai. Makan di suapi, semua serba di bantu dan di layani oleh orang lain, jangan sembarangan bicara akan membebaskan orang yang sudah di penjara selama sepuluh tahun, lebih baik kau belajar berdiri saja, apa kau tidak lelah duduk terus seperti itu? "


Ariel melotot marah, dia bangkit dan menatap Ibu tirinya dengan tatapan yang sungguh dia kesal.


" Hentikan, tenangkan diri kalian. " Ujar Tuan Diro yang merasa situasi sekarang ini tidak mendukung kalau pihak mereka membuat gara-gara.


" Bagaimana seorang istri bisa tenang saat suaminya di hina? Kau boleh menghinaku, tapi jangan sampai menghina Ibu dan suamiku. Kau ini apakah tidak sadar diri juga? Kau kan sudah menikmati uang hasil menjual ku, bukanya baik-baik dirumah untuk merenungkan kesalahan mu! "


" Ariel! Ayah bilang, tenangkan diri kalian. "


Ariel terdiam tetapi tatapan matanya jelas menunjukkan betapa tidak sudi nya dia mengikuti perintah Ayahnya itu. Ibu tiri yang tadinya ingin membuka mulut untuk membalas ucapan Ariel juga jadi terpaksa untuk diam dan memaki saja lewat tatapan matanya.


Lepas tersenyum tipis, sungguh dia semakin yakin sekarang ini.


" Sepertinya hubungan istriku dan keluarganya memang tidak baik ya? Bagaimana kalau kalian pulang saja? Aku tidak ingin tekanan darah istriku naik. " Leo tersenyum di akhir kalimat seolah mencaci dengan sangat buruk kepada mereka.


Tidak ingin berdebat lebih banyak lagi karena situasinya belum bisa di pahami oleh Tuan Diro, dia memilih untuk pergi sebelum istri dan anak pertama membuat ulah yang lebih fatal nantinya.


" Ayah, aku ingin bicara sebentar dengan Ariel. " Ujar Sephora.


" Tidak, pergi sama-sama! " Tegas Tuan Diro.


Sephora menghela nafas sebalnya, lalu menatap Ariel dan Leo bergantian.


" Ariel, kalau dilihat suamimu ini, sepertinya anunya tidak bisa berdiri ya? Hihi..." Tuan Diro melotot kaget, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun selain memerintahkan Sephora agar segera pergi.


" Sephora! "


Ariel menatap Sephora dengan jutaan kemarahan yang tak terbendung.


" Berhentilah memikirkan apakah suamiku bisa melakukannya atau tidak, tapi pikirkan saja bagaimana caranya mensinkronisasikan dada mu, dan rambut di di donat mu yang sangat banyak seperti hutan belantara. "


Bersambung.