
Ibu tiri terdiam karena tak tahu harus berbicara apa. Sebenarnya kalau boleh jujur, dia benar-benar tidak pernah memikirkan bagaimana menjawab setiap perkataan yang keluar dari Ibu Maria karena dia terlalu meyakini bahwa Ibu Maria tidak akan mungkin bisa keluar dari penjara dengan cara apapun. Sekarang perempuan yang dia anggap remeh justru berada di hadapannya dengan aura menekan yang tidak bisa ia tahan, bahkan dia juga merasa seperti tidak bisa melawan meski mulutnya tak berhenti membantah sebisanya.
Senyumnya yang dulu begitu polos kini nampak begitu menakutkan, tatapannya yang terlihat lembut juga terasa membuat dirinya terancam. Kenapa? Dan bagaimana bisa Ibu Maria keluar dari penjara benar-benar membuatnya tak habis pikir. Sejenak dia kembali menatap Ibu Maria, dan tiba-tiba dia teringat dengan suami Ariel, atau Leo yang sempat mengatakan akan membebaskan Ibu Maria, dan ya! Dia tahu kalau yang membebaskan Ibu Maria pasti adalah Leo.
" Uang yang kalian gunakan adalah dua sembilan ratus delapan puluh tujuh juta, belum termasuk menjual mobil pribadiku, juga sebelum menjual perhiasan milik Ibuku, aku akan pergi ke toko emas dan menanyakan harganya nanti, lalu baru aku akan menentukan daftar rinciannya nanti. "
Bak disambar petir di siang bolong, mencari uang sebegitu banyak mana bisa? Sekarang Ayahnya sudah tidak lagi bekerja, Tuan Diro juga bukan orang kaya atau pengusaha yang terbilang sukses. Dia berhenti bekerja di tempat mereka dulu bekerja setelah Ibu Maria dipenjara.
" Apa kau gila?! Kenapa kau menghitung uang yang tidak tahu apa maksudnya! Kami ini membesarkan anakmu, jadi anggap saja itu biaya perawatan! " Kilah Ibu tiri yang tentu saja tidak sanggup membayar uang itu. Walaupun ada juga tidak akan mungkin dia Sudi membayarnya.
Ibu Maria tersenyum mendengar kalimat aneh yang keluar dari mulut Ibu tiri. Bagaimana tidak aneh? Padahal Ariel di titipkan kepada Ayah kandungnya sendiri, padahal dia mengizinkan suaminya menikah kembali dengan mantan istrinya demi memberikan kebahagian keluarga untuk putrinya setelah dia merasa putus asa karena semua pengacara uang di sewa tidak mampu memberikan kebebasan itu untuknya.
" Aku benar-benar bisa menilai benar kau orang seperti apa sekarang. Disini adalah tempat Ayah kandung Ariel, tapi bagaimana bisa Ariel dibebankan untuk membayar? "
Tuan Diro menatap Ibu Maria seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tak mampu mengatakannya.
" Kenapa? Kau ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja, karena belum tentu sesuatu saat nanti aku masih ingin mendengarkan ucapan mu. " Ucap Ibu Maria kepada mantan suaminya yang bisa dia lihat dengan jelas kalau dia seperti ingin mengatakan sesuatu tadi.
Tuan Diro mengeraskan rahangnya, dia menelan salivanya berharap dia bisa sanggup untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.
" Jangan bicara omong kosong! Siapa juga yang mau bicara denganmu?! Suamiku diam karena dia malas bicara denganmu! " Ujar Ibu tiri.
Ibu Maria kembali tersenyum, mulut Ibu tiri boleh saja terlihat sangat sadis dan tak kenal takut, tapi kalau melihat fokus matanya yang tidak pernah ada di satu titik, Ibu Maria bisa melihat benar adanya banyak kebohongan yang tidak ia ketahui. Sepertinya ibu tiri ingin itu segera di akhiri, tapi mana mungkin? Ibu Maria sudah mempersiapkan diri dengan baik, jadi mana mungkin dia akan pergi begitu saja?
" Apa yang sedang kau coba cegah? Kau pasti sudah menciptakan kebohongan besar ya? "
Ibu tiri menelan salivanya sendiri, karena merasa Ibu Maria sudah semakin memancing, dengan segera dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan ke fokus yang lain.
" Jangan sok tahu! Aku hanya terpikirkan hal gila apa yang akan kau lakukan demi mendapatkan uang anakmu. "
Ibu tiri menelan salivanya, sekarang dia gak seberani sebelumnya dalam berkata-kata seolah dia tidak ingin pembahasan tentang itu berlanjut semakin dalam. Mungkin terdengar biasa, tapi Ibu tiri yang menyembunyikan sesuatu bukan hanya kepada Ibu Maria saja, tetapi juga kepada suaminya yang gak lain Tuan Diro hanya bisa berharap didalam hati agar pembahasan mengenai itu segera berakhir.
" Maria, aku ingin menanyakan satu hal padamu, mau kah kau menjawabnya dengan jujur? " Tuan Diro menatap Ibu Maria, dan kali ini tatapan matanya seperti menyiratkan bahwa dia benar-benar mengharapkan sebuah kejujuran dari mantan istri yang selama sepuluh tahun mendekap di dalam penjara.
" Sudahlah, suamiku. Jangan membahas masalah yang tidak penting, toh sekarang kita hanya perlu membahas tentang uang yang katanya di pakai kita kan? " Ibu tiri meraih tangan tuan Diro, menepuk punggungnya pelan, dia sungguh ingin menyudahi pembahasan itu.
Ibu Maria menghela nafas, jujur melihat laki-laki yang dia cintai bersama wanita lain secara langsung seperti sekarang ini benar-benar menyakitkan. Penyesalan akan keikhlasannya yang sudah mempersilahkan suaminya kembali dengan mantan istri kini ia rasakan. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu sekarang ini dia hanya punya Ariel yang harus dia cintai sepenuh hati, dan harus dia berikan kasih sayang apalagi sepuluh tahun terakhir waktu mereka telah hilang seperti kisah orang bodoh yang menyelamatkan si licik.
" Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, Diro. Setelah itu kita harus segera membahas masalah yang lebih penting. " Ucap Ibu Maria semakin penasaran kenapa Ibu tiri seperti tidak mengizinkan Tuan Diro bertanya sesuatu.
" Suamiku, "
" Diam, biarkan aku bicara sekarang! " Ucap Tuan Diro yang merasa kesal juga karena seperti tak memiliki kesempatan untuknya sebentar saja menyampaikan apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi, ah! Bahkan sedari dulu.
Tuan Diro kembali menatap Ibu Maria yang juga menatapnya menunggu apa yang ingin ditanyakan oleh Tuan Diro, maka segera tak membuang waktu lagi dan segera berbicara.
" Maria, kenapa kau membohongiku? Ariel bukan anak kandung ku kan? "
Ibu Maria menatap keheranan kepada mantan suaminya itu. Entah ingin marah atau apa, tapi melihat wajah aneh Tuan Diro dia merasa ada yang tidak beres dengan apa yang dia katakan tadi.
" Diro, apa kau sadar dengan apa yang kau tanyakan? Apa kau lupa berapa usia ku saat menikah denganmu? Apa kau lupa bahwa kau adalah pria pertama dan satu-satunya yang menyentuh tubuhku? Kau tahu benar aku, tapi kau bisa beranggapan bahwa Ariel bukan anak mu? Apa kau waras? "
Tuan Dior terdiam, tentu saja dia tahu dan jawaban semua itu adalah Iya. Tapi, dia juga ingat benar kalau Ibu Maria memang dekat dengan asistennya waktu itu, ditambah lagi ada beberapa bukti yang menguatkan kecurigaannya.
" Aku mendapatkan hasil uji DNA yang mengatakan bahwa Ariel bukan anak kandung ku. "
Bersambung.