
" Bagus, bagus sekali kalau kau hamil, nak? Akhirnya aku yakin sekali kalau cucung anakku bisa berguna juga. Hah! Padahal sampai beberapa waktu lalu aku sempat khawatir, jangan-jangan dia memiliki cucung hanya untuk pelengkap tubuhnya saja. Aku senang sekali akhirnya kau hamil! " Begitulah respon Ariel begitu tahu kalau Nara hamil. Di banding bahagia memiliki cucu, sebenarnya dia benar-benar bahagia karena ternyata anaknya tidak belok kanan atau belum kiri alias penyuka sesama jenis, dan dia bisa dengan bangga menceritakan perihal kehamilan Nara kepada teman-temannya yang berarti menjelaskan kepada temannya juga bahwa Mario benar-benar mampu menghamili istrinya.
Lukas, adik dari Mario hanya bisa memaksakan senyumnya, entah mengapa dia merasa kalau kehamilan Nara akan membuatnya merasa tidak biasa. Ah, semoga saja ini hanya perasannya saja. Jadi sekarang sudah waktunya untuk dia mengatakan selamat kepada kakak iparnya itu.
" Selamat ya kakak ip- "
" Tuh! Lihat kakakmu sudah akan punya anak! Kau kapan berniat mau menikah? Jangan hanya tahu pacaran saja, menyentuh anak orang sembarangan tapi tidak pikirkan soal menikah. Apa kau tidak iri sebentar lagi kakakmu mau punya anak? Pergi menikah sana, buat anak supaya kau juga tahu bagaimana rasanya. " Ucap Ariel yang sukses membuat bibir Lukas tak bisa lagi bergerak untuk melanjutkan ucapan selamat kepada kakak iparnya.
Tuh kan, sudah pasti ujung-ujungnya dia akan mendapatkan sindiran. Tidak tahu lah, Ibunya memang sangat terobsesi dengan pernikahan, dia pikir menikah itu mudah dan akan seperti dirinya juga Mario yang akan mendapatkan cinta seiring waktu. Dia yang masih ingin bebas menjelajah banyak hal tentu saja tidak akan setuju dan tidak akan mau terikat oleh hubungan suami istri yang sepertinya rumit.
" Iya, iya nanti aku menikah deh. " Ujar Mario membuat Ariel terlihat bersemangat.
" Yang benar? Kapan, dengan siapa? "
" Dengan siapanya ya pasti dengan perempuan, kalau kapannya yang tentu saja kapan-kapan kalau ada waktu. "
" Ih, dasar anak tidak berbakti! Menikah kalau ada waktu, kau pikir menikah sama artinya dengan mampir ke rumah kenalan?! "
" Ya sudah iya deh, Bu. "
Mario dan Nara tersenyum melihat pertengkaran Ibu dan anak itu, Leo yang berada di sana juga hanya bisa menghela nafasnya. Bagaimanapun dia paham sekali bagiamana Lukas, dia lebih sulit di banding Mario, keinginanya untuk menikah juga tidak terlihat sama sekali sampai detik ini. Yah, mungkin karena dia masih begitu muda, di tambah dia yang terbiasa dengan pergaulan anak jaman modern tentu saja jauh berbeda dan sebagai seorang Ayah dia hanya bisa memperhatikan anaknya saja agar tak keluar jalur dan membahayakan dirinya.
Dua hari setelah itu.
" Sayang, aku mau makan ayam ya? Sayang, aku mau makan daging bakar, sayang aku mau makan sup ayam, sayang aku mau makan burger yang ukuran paling besar, sayang mau pizza, sayang mau ramen, sayang mau kue kering, sayang aku mau makan kentang goreng dari restauran, sayang mau salad, sayang mau bubur apel, sayang mau bla bla bla bla...... "
Mario membuang nafasnya setelah lelah seharian mondar mandir dari kantor ke rumahnya hanya untuk membelikan makanan yang di minta Nara. Tadinya Mario sudah akan marah dan melampiaskan kepada Nara, tapi sebelum melakukan itu dia bertemu Ibunya. Niat hati ingin mencurahkan segala keluh kesahnya terhadap permintaan Nara yang begitu merepotkan, tapi dengan sabar Ibunya memberi pengertian mengenai bagaimana proses ngidam yang hanya akan berlangsung selama beberapa bulan saja. Jika melayani ngidamnya si calon bayi saja sudah tidak sabar, bagaimana bisa nanti mengurus bayi yang pasti akan jauh lebih merepotkan?
Setelah mendengarkan nasehat Ibunya ya tentu saja Mario akan mengikuti saran Ibunya dengan baik.
Sebentar Mario meraih ponselnya, dia membaca pesan yang di kirimkan Mike dan Wiliam, mereka mengajak bertemu tentunya. Mario menghela nafas, apa niat mereka mengajak bertemu hanya untuk memamerkan kehamilan istri mereka saja? Cih! Kalau begitu tentu saja harus di sambut dengan baik, toh dia juga bisa pamer kalau istrinya sedang hamil juga.
Beberapa saat kemudian.
" Aku banyak pekerjaan, tidak bisa santai seperti kalian berdua. "
Wiliam mengusap wajahnya dengan kasar, laku menatap Mario.
" Aku juga banyak pekerjaan, tapi datang kesini hanya untuk berbagi cerita saja. "
" Aku juga. " Ujar Wiliam memasang wajah sedihnya.
Mario berdecih sebal.
" Kalau kalian ingin pamer tentang kalian yang akan jadi Ayah, lebih baik tidak usah cerita. " Ujar Mario yang tidak tahu harus bagiamana memancing Mike dan Wiliam agar bertanya padanya sehingga dia bisa memberitahu kalau dia juga akan menjadi Ayah.
" Bukan, bukan seperti itu. Aku pikir yang namanya hamil ya sudah hamil saja, tapi tidak tahunya harus ada segala morning sickness, ada ngidam, mood yang turun naik, aku benar-benar tertekan sekali. " Ujar Wiliam kau menghela nafasnya dengan mimik sedih.
" Sama, aku juga merasakan yang sama. Dulu, Lope sama sekali tidak pernah mempermasalahkan di mana aku menaruh handuk karena dia akan memindahkannya. Tali sekarang, aku selalu kena semprot mana aku orangnya kan sering lupa. Belum lagi kalau aku bilang masakannya agak asin, dia akan langsung mengomel tidak cukup tiga puluh menit. Aku pernah pergi mengindari karena pusing dengan Omelan Lope, tapi dia malah menangis dan mengadu kepada Ibuku, aku jadi kena omel bukan dari Lope saja, Ibu dan Ayahku juga. "
Mario menelan salivanya. Dia baru dua hari menghadapi ngidamnya Nara saja sudah lelah, kalau sampai Nara juga menjadi sama seperti istrinya Wiliam dan istrinya Mike, apakah dia benar-benar sanggup menjalaninya?
" Sesimple itu Mike, kau memang salah makanya kau di marahai. Kalau aku? Salah atau tidak aku benar-benar di tuntut untuk belajar setiap hari, belajar etiket, mempelajari buku adab, dan buku lainnya karena Moza sangat takut anaknya akan menjadi sepertiku. Otakku yang arahnya hanya kebisnis benar-benar tidak bisa menyaingi Moza yang adalah Dosen. Aku ingin menyerah, tapi aku sudah berjanji kepada Moza, lagi pula anak itu adalah anak ku, tapi sial sekali perasaan lelah dan tertekan ini sangat menyiksa. " Ujar Wiliam yang membuat Mari menekan salivanya dengan perasaan ngeri sendiri. Padahal beberapa hari kemarin Wiliam dan Mike begitu berbinar-binar wajahnya karena bahagia, tapi kenapa sekarang begitu suram, bahkan juga angker seperti kuburan saja.
" Mario, tunda lah dulu punya anak. Orang semacam kau pasti akan kesulitan. " Ucap Wiliam dan Mike bersamaan.
Mario menatap mereka satu persatu.
" Masalahnya, Nara juga sudah hamil. "
Mario, Wiliam, dan juga Mike kompak menghela nafas.
Bersambung.