
" Bercanda apanya? Aku ini sudah menahan diri selama ini, kalau aku harus menunggu seperti suami di dalam drama pernikahan ya aku mana bisa? Masa iya sudah menikah tapi mau ehem-ehem pun tidak bisa. Nanti kalau aku pakai wanita di luar sana salah lagi, jadi tujuan pernikahan ini apakah hanya untuk membuatku belajar menjadi biksu? "
" Oke, ayo kita melakukan itu! "
Mike terperangah menatap Lope dengan tayangan terkejut dan tidak percaya.
" Kau benar-benar ingin membuatku menjadi biksu atau Kasim? Kau, bagaimana bisa menjadi seorang istri yang sangat kejam seperti itu? Meskipun kadang durasi ku tidak terlalu lama, tapi aku masih bisa menggunakan milikku dengan baik, kau istri paling kejam yang, tidak berperasaan! Bagaimana bisa istri sendiri yang seharunya aku pakai lubangnya siang malam lagi dan sore malah memintaku menjadi biksu atau Kasim? Astaga, dosa apa aku ini sampai memiliki istri jahat begini. " Mike mendengus kesal setelahnya, dia sampai mengelus dadanya dengan mimik melas, ya pasti lah dia melas kepada dirinya sendiri karena menganggap Lope adalah istri kejam dan sangat tega sekali.
" Sudah selesai? " Lope menatap sebal Mike karena sembarangan sekali menuduh dirinya.
" Apanya yang selesai? Siapa memangnya yang berniat untuk benar-benar jadi kasim atau biksu? "
" Memangnya aku mengajakmu untuk menjadi kasim atau biksu? "
" Eh? Terus melakukan apa yang kau maksud? "
Lope membuang nafas sebalnya dan membuang pandangan ke arah lain.
" Aku sudah malas karena kesal, terserah kau saja deh mau menganggap apa maksudku. "
Mike menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari memikirkan apa sekiranya maksud dari ucapan Lope tadi. Tidak menjadi biksu dan Kasim, apakah? Mike membulatkan matanya menatap Lope yang benar-benar terlihat kesal tapi tak lagi bicara.
" Ma maksudnya kau mau di ajak anuan? "
" Tidak, aku sudah tidak memiliki minat itu, aku sekarang cuma ingin menyiapkan baju kerjamu saja dan keluar kalau sudah selesai. "
Mike tentu saja tidak ingin membuang kesempatan, memang benar wajah Lope sudah terlihat masam karena kesal, tapi tadi sempat mengiyakan keinginannya itu berarti iya selamanya untuk Mike. Segera dia meraih tubuh Lope yang sedang berjalan menuju kemari di kamarnya dan membuatnya jatuh di atas tempat tidur.
" Ah! " Pekik Lope begitu tubuhnya membentur tempat tidur, bukan sakit, hanya saja dia sangat terkejut karena dalam beberapa gerakan dia mampu membawa tubuh Lope ambruk di atas tempat tidur.
" Mike, kau ini apa-apaan?! " Protes Lope yang semakin terkejut, apalagi saat Mike mengubah posisi untuk berada di atas tubuhnya, mengungkung dengan mimik wajah yang menakutkan sudah seperti singa yang akan bersiap merobek daging mangsanya.
" Apanya yang apa-apaan? Kan tadi kau sudah setuju? "
Lope menelan salivanya mencoba untuk mengusir rasa gugupnya. Yah, ternyata memang tidak berpengaruh sehingga lagi-lagi dia hanya bisa sedikit menggerakkan bola matanya agar tidak langsung menatap mata Mike yang jelas akan membuatnya tambah gugup nantinya.
" Kau belum mandi! "
" Tapi aku tidak bau, kau bisa merasakannya sendiri kan? Nanti kalau sudah selesai kita bisa mandi bersama. "
" A aku, aku yang belum mandi! "
Mike terdiam mengamati wajah Lope yang memang benar-benar cantik, ini pertama kali untuknya melihat wajah Lope sedekat itu dan dia benar-benar membuat Mike terpesona.
" Kau benar-benar cantik. " Ucap Mike yang sebenarnya tidak menyadari jika dia kelepasan bicara saat konsentrasinya begitu teralihkan oleh wajah Lope.
Lope kini berani menatap wajah Mike yang begitu dekat jaraknya dari wajahnya. Aneh sekali, padahal sudah sering dia dengar dan di puji kalau dia cantik, anehnya kenapa pujian dari Mike membuat jantungnya berdebar kencang. Mike juga sama, dia merasakan juga bahwa jantungnya berdebar kencang hingga mereka berdua saling menatap dan entah debaran jantung siapa yang mereka dengar.
" Mike? " Panggil Lope setelah Mike melepaskan bibir mereka dan berniat mendaratkan bibirnya di leher Lope.
" Hem? "
" Bisa berjanji satu hal padaku? "
Mike menghentikan kegiatannya sebentar untuk menatap Lope dan mendengarkan apa yang di inginkan Lope.
" Apa? "
" Aku tidak masalah kau ingin menyentuhku kapanpun, hanya saja kau harus tahu kalau aku tidak memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya. Tolong jangan pernah merasa bosan, katakan saja apa yang kau inginkan dalam hal apapun dan aku akan berusaha sebaik mungkin melakukannya, tapi berjanjilah tidak akan membawa wanita manapun, menyentuh wanita manapun selain aku selama kita terikat dalam pernikahan. "
Mike terdiam sebentar.
" Iya. " Bukan benar-benar berjanji dari dalam hati dan penuh keyakinan, tapi Mike mengiyakan saja karena dia sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk berbuat lebih jauh kepada tubuh Lope.
***
Moza terdiam sejenak memikirkan bagiamana caranya menyelesaikan masalah kehamilan yang terus di ungkit oleh orang tuanya, juga orang tua Wiliam. Sebenarnya kalau di pikirkan lagi benar sajalah menekan Moza dan Wiliam tidaklah benar karena hanya akan membuat mereka stres saja. Awalnya Moza masih ingin bersantai saja dulu dan mengamati bagaimana Wiliam bertingkah untuk memberikan pukulan keras, tapi sialnya dia harus melihat mantan kekasihnya yang tengah bahagia menyabut kelahiran bayinya. Padahal dulu mantan kekasihnya menikah dengan alsan perjodohan dan tidak mencintai istrinya, eh tahunya baru empat bulan menikah istrinya itu sudah hamil tujuh bulan. Dasar memang mulut pria brengsek tidak bisa di percaya, gara-gara itu kan Moza jadi kesal dan ingin memiliki bayi juga.
" Apa-apaan sih otakku ini?! Punya anak kan bukan hal main-main, apalagi ingin punya anak karena kesal dengan matan kekasih, benar-benar sudah tidak tertolong lagi pemikiran ku tadi. " Gumam Moza setelah membuang nafasnya.
" Anak apa? Kau ini sedang terobsesi dengan anak ya? "
Moza tersentak, segera dia menoleh dan rupanya Wiliam baru saja masuk ke dalam kamar tanpa dia sadari karena asik melamun.
" Bukan aku yang terobsesi, tapi orang tua kita. "
Wiliam membuang nafas kasarnya.
" Ah, kalau membuat anak denganmu itu tidak menakutkan, aku sih bisa saja memberikan anak untuk mereka. "
Moza mengeryit menatap Wiliam sedikit kesal.
" Apa maksudmu? "
" Kau ini minta di buatkan anak, tapi belum juga aku beraksi malah cucungku sudah di buat luka. Kalau begitu siapa yang berani membuat anak denganmu? "
" Hei, brengsek? Kalau begitu kau kan bisa mulai duluan supaya aku bisa sambil belajar! "
Wiliam terdiam, benar juga sih, lah kenapa dong kemarin dia malah seperti gadis belia yang hampir di lecehkan?!
Bersambung.