
Setelah mendapatkan kabar bahagia luar biasa dari Leo dan Onard, Kakek benar-benar tidak bisa menahan dan bersikap biasa saja dengan kebahagiaan bahwa dia akan segera memiliki dua cicit dari kedua cucunya. Hati mana yang tidak bahagia ketika anggota keluarga mereka akan bertambah secara bersamaan begini?
Hari ini adalah hari dimana acara syukuran di laksanakan, Kakek sengaja mengundang banyak anak Hatim piatu, juga yang kurang mampu untuk berbagi kebahagiaan dengan memberikan mereka sedikit uang dan bahan makanan. Mungkin agak berlebihan, tapi itu juga di anggap sebagai bentuk syukur, juga agar semua orang mendoakan keselamatan keluarganya, juga melindungi kedua cicitnya juga Ibunya agar tetap sehat dan bahagia.
Sephora juga menghadiri acara itu, dia menjadi bagian dari Ariel dan Grade atas permintaan kakek yang tak merasa berat hati menganggap Sephora sebagai cucunya juga.
Sephora membuang nafas sebal, begitu juga dengan Grade.
" Semoga saja anak ku tidak mirip seperti orang yang aku benci itu. " Ujar Sephora melirik Garde yang berada di samping Ariel, yah benar-benar kebetulan sekali Ariel berada di tengah-tengah mereka sehingga suasana masih terbilang kondusif.
" Aku juga berharap anak ku tidak mirip seperti perempuan gila itu! " Grade mengusap perutnya cepat-cepat, matanya juga melirik sinis Sephora.
Ariel menghela nafas sebalnya. Memang sedari pertama mereka bertemu, Sephora dan Grade sudah saling melemparkan tatapan sinis, senyum mengancam yang terus membuat Ariel merasa kesal sendiri.
" Yah, aku juga berharap anak ku tidak mirip kalian berdua. "
Sephora dan Grade menatap Ariel dengan tatapan sebal.
" Kenapa kau berbicara seperti itu, kau lupa aku kakakmu? " Protes Sephora tak terima.
" Jangan lupa, aku adalah Kakak ipar mu, seharusnya kau lebih hormat padaku kan? "
Ariel menaikkan sisi bibirnya, memang sebal sekali berada di dekat dua orang berisik itu.
" Duh, aku sudah merindukan suami ku tersayang, dimana ya dia? " Ucap Grade sembari menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Onard. Ah, rupanya pria itu sedang bersama Leo dan kakeknya, ada juga dia pria paruh baya mungkin itu kenalan bisnis atau apa lah tidak tahu. Segera Grade berjalan untuk menghampiri Onard.
" Suamiku sayang, kenapa lama sekali sih? " Grade memeluk Onard yang duduk di kursi roda dengan tatapan terkejut. Ohoi, ini begitu banyak orang tapi kenapa Grade bertingkah tidak tahu malu seperti ini? Sungguh sangat tidak biasa di saksikan wanita yang dulu hobi sekali memilih pria tampan dan gagah, menggantinya juga setiap waktu justru menjadi begitu bersemangat dan begitu manja kepada satu pria yang bahkan tidak bisa berdiri dengan benar. Iya memang sih Onard itu tampan, biarpun duduk di kursi roda terus menerus dia tidak buncit, tubuhnya benar-benar bagus.
Sephora menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan sebal melihat tingkah Grade yang berubah menjadi seperti kucing rumahan saat dekat dengan suaminya. Ariel, dia yang melihat Daniel sedari tadi menatap terus ke arah Sephora dengan tatapan lembut penuh cinta akhirnya memilih untuk pergi juga dari sana karena setidaknya memberikan peluang mereka untuk berdua juga adalah hal baik.
" Ah, aku juga ingin menemani suamiku tercinta! "
" Tunggu! " Sephora menahan lengan Ariel, memeluk lengan itu erat-erat dengan bibir merengut seperti tidak terima jika akan di tinggalkan sendirian.
" Kau ini jangan kumat lagi ya, Ariel! Suamimu sudah banyak orang yang menemani, lihat tuh! Aku ini orang asing disini, masa iya mau kau tinggalkan sendiri? "
Ariel memaksa tangan Spehora untuk menyingkir.
" Di dekatmu tidak enak! "
Sephora membelalakkan mata dengan mimik sebal menatap kepergian Ariel yang dengan teganya meninggalkan dia di sana bersama orang yang sama sekali tidak di kenal. Baru saja ingin melangkahkan kaki untuk menyusul Ariel, langkah kaki Sephora terhenti begitu mendapati Daniel berdiri tak jauh darinya, dia tersenyum dengan begitu lembut membuat Sephora membeku dengan pemikirannya sendiri.
Ariel kabur pasti ingin memberikan kesempatan untuk Daniel kan? Baiklah Ariel, jika kau mempercayai pria ini, maka tidak ada salahnya untukku mempercayainya juga.
Aku akan mencobanya, semoga saja kali ini aku memilih pria yang tepat.
Daniel berjalan semakin dekat, dia mengulurkan tangan untuk Sephora meraihnya. Mereka saling menggenggam dan berjalan beriringan di antara kerumunan orang.
" Aku pernah mendoakan kesengsaraan mu, Sephora. Tapi kali ini aku sungguh-sungguh berdoa untuk kau bisa hidup dengan bahagia. " Ucap Ariel tersenyum menatap Sephora dan Daniel yang terlihat sudah bisa untuk hidup bersama.
" Aku juga ingin kau selalu bahagia. " Ucap Leo yang entah sejak kapan berada di belakang punggung Ariel, dia mengecup pipi Ariel dan tersenyum dengan begitu lembut.
Tentu saja aku akan bahagia, bersama dengan pria menyebalkan ini.
Ariel tersenyum menatap Leo yang kini sudah berada di sampingnya, menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
Hari-hari terus berlalu, usia kandungan mereka juga sudah masuk ke trimester tiga. Perut boleh besar, tapi semangat pada tiga wanita itu benar-benar luar biasa, apalagi kalau untuk saling sindir. Iya, apapun si Diran dan kata-kata pedas yang keluar dari mulut mereka hanyalah sebatas omongan saja dan tidak pernah terealisasikan barang sekalipun.
Hari ini adalah hari Minggu, mereka kompak untuk pergi ke pusat belanja demi membeli kebutuhan bayi mereka yang di rasa masih kurang. Tidak perlu mengajak suami mereka, karena ini juga di anggap hati bebas suami di tiap Minggunya. Mereka akan mengobrol sembari makan siang di sana, lalu melanjutkan kegiatan mereka untuk berbelanja.
" Wah, ini lucu sekali! " Tunjuk Sephora saat melihat satu set baju bayi perempuan yang sangat cantik menurutnya. Warnanya pink, memiliki renda di keliling lehernya, bahannya sangat lembut, juga ada hiasan kepalanya, sarung tangan, juga sepatu yang di buat dari rajutan.
" Ingat, bayimu kan laki-laki! " Ujar Garde mengingatkan dengan tatapan sinisnya.
" Memang kenapa? Aku kan cuma bilang ini lucu! "
" Iya, jangan sampai anak mu nanti melambai saat sudah besar. "
Sephora melotot kesal.
" Jangan bicara begitu! Kau jangan terlaku sinis dan menyakitkan saat bicara, kau mau anakmu ketus padamu nanti? Anakmu kan juga laki-laki, apa kau mau anak mu memiliki mulut cerewet dan sadis sepertimu? "
Ariel membuang nafas kasarnya. Memang beginilah yang di rasakan setiap Minggu ketika berpergian bersama Sephora dan Grade.
" Ah, bagaimana kalau Ariel saja yang beli? Siapa tahu bayimu perempuan saat lahir? "
Ariel ternganga kesal, dia memeluk perutnya yang sudah membesar dengan tatapan kesal.
" Jangan bicara begitu? Bayiku kan juga laki-laki, mana boleh aku beli baju anak perempuan dan berandai-andai sepertimu! "
Sephora berdecih sebal. Jujur saja Sephora sebenarnya ingin anak perempuan, tapi karena bayi yang dia kandung laki-laki ya tentu saja dia sudah tidak bisa memimpikan lagi bagaimana mengikat rambut bayinya. Padahal kalau anak Ariel perempuan kan dia bisa ikut mengurus dan mendandaninya sesuai yang dia bayangkan.
Bersambung.