Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 45



" Apanya yang olah raga?! Yang ada kau membuat mata pria di sana harus berolah raga melihat perutmu! Apa-apaan ini?! Kau tidak melihat bagian bokong dan dadamu yang begitu jelas ini? Kau mau membuat mereka melatih iman atau bagaimana?! " Tanya Mario kesal sembari memutar tubuh Nara ke kanan dan ke kiri memperhatikan dengan seksama.


Nara menjauhkan tubuhnya dari Mario, heh! Sok perhatian dan sok protektif. Kemarin bicara seolah Nara begitu kurang kerjaan sehingga tahunya hanya cemburu dan cemburu saja. Nara membenahi pakaian olah raganya yang cukup berantakan karena Mario terus menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri tadi. Dia kini menatap Mario dengan berani, lalu menghela nafas sebelum memulai untuk bicara.


" Sayangku, baju olah raga ini termasuk sudah tertutup loh. Celana panjang dan juga atasan minim ini sudah banyak di gunakan para wanita di tempat olah raga, please jangan berlebihan, ini juga sudah siang aku harus segera berangkat. "


" Tidak boleh! Tertutup katamu? Kau ini mengaca lah baik-baik dulu. Lihat! Lihat bagian itumu! Bagaimana bisa membentuk lengkungan seperti huruf V begitu?! Kau ingin membuat air liur pria di sana terus menetes sampai tempat olah raga banjir hah?! " Ucap Mario sembari menunjukkan tubuh Nara di cermin yang ada di seberang mereka.


Nara menelan salivanya sendiri, ya ampun! Dia benar-benar terkejut sekali, dia tidak memperhatikan bagian itu tadi, dia hanya fokus memperhatikan dadanya saja saat memakai baju olah raga yang baru dia beli itu.


" Sekarang kau sudah tahu dimana salahnya baju olah raga ini kan? Sekarang ganti bajumu, lagi pula kau tahu aku baru saja pulang dari bekerja kan? "


" Iya aku tahu, aku akan mengambil kan baju untukmu, menyiapkan makanan, vitamin, buah, lalu apa lagi? Nanti kalau sudah selesai aku bisa menyusul pergi ke tempat olah raga. "


" Tidak, tidak, tidak, tidak! "


" Boleh! "


" Nara! "


Nara terdiam, dia menghela nafas dan beranjak untuk mengganti pakaiannya. Setelah mengenakan baju rumahan seperti biasanya, Nara mengambilkan baju ganti untuk Mario yang pasti akan istirahat dulu di rumah.


Mario mulai melepaskan pakaiannya sembari menatap Nara yang tidak banyak bicara lagi, persis seperti hari sebelum Mario berangkat dinas ke luar kota.


" Aku siapkan sarapan untukmu dulu, nanti kalau butuh sesuatu tinggal panggil aku saja ya? Kau mau sarapan di mana? Di kamar atau di bawah saja? "


" Di kamar saja. " Ucap Mario agak kaku karena mimik Nara benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Tanpa bertanya lagi, Nara segera turun ke bawah untuk mengambilkan makanan yang di sukai Mario, lalu kembali ke atas dengan satu nampan makanan berisi nasi serta lauk, potongan buah, air minum, vitamin harian Mario, juga ada susu hangat.


Karena Mario tengah mandi, jadilah Nara membereskan pakaian yang tadi di gunakan Mario untuk dia letakkan ke keranjang cucian kotor. Sebentar dia membuang nafas sebelum dia masuk kembali ke kamarnya. Sejujurnya, Nara mulai merasa rendah sekarang ini, tapi pilihan ini adalah pilihan yang sudah mantap untuk doa pilih dari awal untuk menyelamatkan perusahaan orang tuanya. Sekarang dia tidak boleh menyesalinya, semua sudah berjalan sejauh ini jadi dia hanya boleh menerima saja dan jangan mengeluh karena dari awal dia adalah pihak yang banyak menerima dari keluarga Mario.


Nara masuk kembali ke kamar, Mario juga sudah selesai mandi dan mulai menggunakan pakaian yang tadi Nara siapkan.


" Mario, nanti sore aku sebentar ke rumah orang tuaku ya? Kalau boleh aku menginap semalam, kalau tidak aku pulang malam nanti. "


Mario terdiam sebentar, sebenarnya dia agak tidak sreg dengan panggilan Nara yang beberapa hari ini tidak seperti biasanya. Rasanya aneh sekali setelah sekian lama Mata memanggilnya dengan sebutan sayang, lalu sekarang dengan nama, tentu tidak biasa lagi untuk dia dengar.


" Nanti aku yang akan antar, kalau tidak ada yang mendesak aku juga ingin ikut menginap di rumah orang tuamu. "


Nara menggeleng dengan cepat.


" Jangan! "


" Sebenarnya rumah orang tuaku sedang di renovasi, pasti tidak akan nyaman untukmu, jadi kau tidur saja di rumah. Aku tidak jadi menginap, malam saja aku akan pulang. "


" Tidak boleh! Aku mau menginap. " Ujar Mario yang justru semakin di buat curiga karena Nara melarangnya.


" Jangan! "


" Pokoknya menginap! "


" Sudah aku bilang tidak bisa. "


Mario berjalan cepat, meraih pinggang Nara dan membuat tubuh mereka menyatu dalam pelukan.


" Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini? Ucapan ku yang kemarin aku sudah tahu kalau salah, jadi berhentilah bersikap seolah aku adalah suami yang kejam, kau tidak cocok dengan sikap seperti ini. "


Nara menahan tangisnya, ah! sialan! Padahal dia tidak ingin mengisi sih, tapi ya mau bagaimana lagi kalau ucapan biasa saja itu mala membuat Nara terharu dan ingin menangis.


" Kau sendiri kan yang tidak mengizinkan ku terus bersikap ke kanak-kanakan, aku hanya mencoba bersikap dewasa, tidak mudah cemburu, dan tidak mudah menjiwai novel, drama atau tontonan serta bacaan lain yang membuat otak ku berpikir jelek. "


Mario membuang nafasnya, dia kembali menatap Nara lebih intens dari sebelumnya.


" Kalau begitu, aku tarik kembali ucapanku, jadilah Nara seperti yang sebelumya. Aku tidak akan mengeluh lagi, tidak akan memarahimu lagi, jadi bisa berhenti bersikap dingin? "


" Tidak mau! Nanti kalau kau sedang kesal kau akan mengatakan yang seperti kemarin lagi. "


" Tidak, janji kok. "


Nara mulai membentuk senyuman di bibirnya. Gila sih, cuma ucapan seperti itu saja hatinya sudah meleleh.


" Kalau begitu, lepaskan aku dulu dan makan lah sarapanmu. "


Mario tersenyum tipis, lalu menggerakkan satu tangannya menyentuh wajah Nara dengan tatapan yang begitu dalam.


" Sarapan yang ini saja lebih enak, aku sudah libur beberapa hari jadi tidak bisa menunda lagi. " Mario mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Nara, lalu membawa Nara kedalam pelukannya, dan mengangkat tubuh Nara untuk menuju ke tempat tidur.


***


" Maaf sekali, Nona. Presdir kami sedang berada di luar, kemungkinan untuk datang ke kantor juga belum jelas, mohon untuk kembali besok ya? " Ucap Resepsionis yang bekerja di perusahaan RC. Dia adalah Luna, hari ini dia nekat mendatangi perusahaan RC, tempat dimana Mario memimpin perusahaan. Niatnya datang adalah untuk menyerahkan proposal secara langsung ahar dapat menjelaskan juga kepada Mario karena dia sudah yakin benar Mario akan menyukai proposal itu dan tidak keberatan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan milik orang tuanya.


" Maaf kalau saya lancang, apa boleh saya minta nomor pribadi Presdir RC? "


Bersambung.