Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 94



Sephora dengan hati-hati menempelkan ujung kapas yang sudah dia teteskan obat untuk mengobati sisi bibirnya yang robek dan sedikit mengeluarkan darah. Bukan hanya luka di sana saja, tapi pipi dan lengannya lebam akibat serangan istri dari Daniel dan juga adiknya beberapa saat lalu. Sebenarnya wajar saja kala wanita itu tidak terima adanya wanita lain di dalam kehidupan rumah tangganya, tapi mau bagaimana lagi karena semua yang terjadi ini juga bukan karena keinginannya apalagi karena dia sengaja.


Sephora menghela nafas setelah selesai mengobati sisi bibirnya. Sekarang tinggal mengambil es batu untuk kompres luka lebamnya. Tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini, Sephora memutuskan untuk bermalam di sana dulu, dan tentunya dia sudah mengganti kode akses pintunya berjaga-jaga kalau saja wanita itu datang lagi kesana.


Setelah selsai semua, Sephora merebahkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kosong di kamar itu sembari berpikir. Dulu sekali, dia suka memukul Ariel sampai lebam, menarik rambut Ariel sampai rontok dan banyak tertinggal di tangannya. Dia suka sekali minat Ariel menangis seperti hiburan saja. Pernah juga dia menenggelamkan Ariel di kolam renang saat Ayahnya tidak ada di rumah. Ibu tiri yang saat itu memang tida menyukai Ariel sama sekali tak terlihat keberatan, itu ikut menertawakan seolah apa yang dia lakukan itu tidak akan berbahaya. Gila kan? Kalau saja Ariel mati waktu itu, mungkin dia hanya akan menganggap itu hal yang biasa tanpa perduli seberapa penting arti sebuah nyawa.


Sephora memiringkan tubuhnya, di dalam hati dia sedang bergelut dengan kisah masa lalu yang menunjukan betapa kejamnya dia, dan ketika Tuhan memberikan kesakitan itu padanya, sekarang dia benar-benar menyesal seolah ingin kembali ke masa lalu dan memperlakukan Ariel sedikit lebih baik meski memang dia tidak menyukai Ariel sama sekali.


Suara pesan masuk, dengan segera Sephora meraih ponselnya dan membaca pesan itu.


Buka pintunya!


Dia adalah Daniel, jadi dengan buru-buru Sephora bangkit keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju pintu untuk dia bukakan.


" Kenapa kau mengganti kodenya?! "


" Maaf... "


Sephora tak berani menjawab selain kata maaf, kenapa? Itu karena tempramen Daniel benar-benar tidak pernah bagus, dia selalu berbicara dengan maksud mengancam meski terdengar tenang, kalaupun tidak dia akan berbicara dengan intonasi yang tinggi seolah-olah Sephora adalah budak yang banyak sekali melakukan kesalahan di setiap di menggerakkan tubuh.


" Apa yang kau katakan kepada istriku?! Kenapa dia terus memojokkan ku hah?! Kau seharusnya tahu batasan, jangan membela diri dengan menjual namaku, kau paham?! "


Sephora mengepalkan kedua tangannya erat menahan kemarahan yah begitu besar. Jangan membela diri, apakah maksudnya dia hanya boleh diam saja di perlakukan tidak adil? Pertama dia hanya boleh diam di perlakukan buruk oleh Daniel, dia juga harus tetap diam saja ketika istrinya bersikap buruk? Aturan gila dari mana itu? Bahkan binatang juga akan mengingat, membalas, bahkan tidak segan-segan membunuh saat disakiti tidak perduli apakah itu saudara, teman atau siapapun.


" Anda juga hanya ingin saya tetap diam ketika istri anda dan adik anda memukuli saya? Tuan, saya bisa berada di sini juga karena paksaan anda, saya melakukan apa yang saya bisa yang penting saya bisa kembali ke keluarga saya. Lalu anda? Anda menginginkan anak dari saya, tapi tidak membuatkan saya tenang sebentar saja? Sebenarnya hutang apa yang saya miliki kepada anda? Kenapa anda selalu mendorong saja ke sisi di mana saya tidak. oleh memilih? "


Daniel terdiam, sebentar dia menatap Sephora yang nampak putus asa, lalu menghela nafas setelahnya.


" Terserah anda saja, berbicara dengan Anda benar-benar membuat saya kehabisan kata-kata. Tuan, yang di haruskan memberikan ana adalah saya, dan anda seharunya juga tahu bagaimana kehamilan itu bisa cepat terjadi kan? Poin utama saya tidak boleh kelelahan dan stres, tapi apa yang anda berikan kepada saya? Anda memberikan banyak sekali beban pikiran, belum lagi istri anda. Kalau seperti ini terus menerus, bahkan robot juga tida akan sanggup, Tuan. "


Daniel membuang nafas kasarnya, memang benar Sephora bukanlah orang yang memiliki hutang padanya, apa ya.g terjadi di antara mereka juga berawal dari kesalahpahaman, dan hanya karena ambisinya ingin memiliki anak kandung, dia bahkan sampai menjebak Sephora dan membuatnya berada di sisi tak memiliki kesempatan untuk menolak. Sebenarnya dia bukanlah orang yang kasar, tapi tekanan dari orang tuanya, mertua, juga istrinya membuatnya stres parah dan melampiaskan ini kepada Sephora yang sejatinya adalah orang luar yang tidak seharusnya ada di lingkaran memusingkan di antara keluarganya.


" Kalau begitu hidup lah dengan tenang mulai sekarang, aku pastikan istriku tidak akan datang lagi kesini. " Ucap Daniel tak berekspresi.


Tidak tahu harus sedih atau senang mendengar ucapan Daniel barusan, tapi Sephora merasa sedikit lega meski masih menolak keadaannya yang sekarang ini. Setelah mengatakan itu Daniel pergi mandi, sementara Sephora duduk di depa televisi. Dengan tubuh yang tak bergerak kecuali mata yang terus berkedip Sephora menonton televisi. Matanya boleh menatap televisi, tapi pikirannya sedang berkelana entah kemana arah tujuannya.


Dulu Sephora begitu bebas, tak heran jika sekarang dia begitu merindukan masa-masa itu. Dia pergi nongkrong di kafe bersama teman-temannya, pergi ke bar saat sedang suntuk, menonton film ketika ada film romantis yang tenar dan terbaru. Sekarang dia sudah amat jauh dari itu, kalaupun berada di rumah dia hanya akan diam saja karena Daniel akan terus mengirimkan Photo demi mengetahui dengan jelas dimana Ariel berada saat itu.


Beberapa saat kemudian, Daniel berjalan ke arah pintu untuk menerima makanan yang ia terima dari jaksa antar makanan yang di pesan Daniel tak lama dia datang tadi.


" Makanlah dulu. " Ucap Daniel sembari membuka bungkusan makanan itu. Sephora hanya menghela nafas, rasanya dia sudah kenyang, dan juga tidak berselera sama sekali. Ini juga sudah lumayan malam dan jelas Sephora tidak akan memakan apapun di jam malam mendekati waktunya untuk dia tidur.


" Kau tuli ya? Aku bilang makanlah dulu! "


Sephora menghela nafasnya.


" Aku sudah makan, kalau anda ingin makan maka makanlah sendiri, maaf saya tidak bisa menemani. "


Daniel menatap kesal Sephora, lalu segera dia memindahkan beberapa lauk pauk ke dalam piring, lalu meraih sendok dan garpu, barulah dia membawa untuk dekat dengan Sephora.


" Kita makan berdua, sekarang bukalah mulutmu! "


Bersambung.