Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 34



Nara membuang nafas kasarnya setelah selesai menggunakan alat uji kehamilan. Padahal sudah bekerja sangat keras, padahal dia tahu benar berapa banyak orang yang mengatakan membuat anak itu enak dan bisa menghilangkan stres. Duh! Enaknya ya sebentar saja, tapi setelah itu dia harus merasakan kedua kakinya gemetar sampai menapakkan kaki ke lantai saja tidak berasa, sudah begitu sakit pinggang, tubuh ngilu dan pegal seperti terlindas bulan.


Mau mengeluh pun juga mengeluh kepada siapa? Mau berhenti membuat anak tapi rasanya enak, ingin sering melakukanya tapi tersiksa. Ah, benar-benar membingungkan. Ini sudah dua hari dia libur dari mengembangbiakkan diri, sekarang Nata sudah tidak bisa lagi sok hebat dan banyak menantang Mario karena tahu benar resikonya kalau memprovokasi Mario adalah kesulitan berjalan, sakit pinggang, dan juga badan remuk.


" Nara, masih butuh berapa lama? Aku harus mandi. " Ucap Mario setelah beberapa kali mengetuk pintu.


Setelah mendengar suara Mario tentu saja Nara dengan segera bergegas untuk keluar agar Mario bisa mandi. Begitu Mario masuk ke dalam kamar mandi, dia tak sengaja melihat bekas alat penguji kehamilan beserta di dekat tong sampah. Yah, mungkin Nara buru-buru sampai tidak menyadari jika terjatuh di lantai. Mario megambil alat uji kehamilan itu, masih satu garis merah dan itu tandanya Nara belum hamil juga.


Mario memasukkan alat penguji kehamilan itu ke tong sampah. Sebenarnya dia sama sekali tidak begitu memikirkan soal anak, kalau awal mungkin iya karena desakan Ibunya. Tapi setelah berjalan hampir empat bulan pernikahannya dengan Nara, dia tidak begitu memikirkan soal anak lagi, Ibunya juga tidak membahas soal keturunan jadi Mario tidak ingin mengharuskan Nara juga agar segera hamil.


Begitu selesai mandi Mario melihat Nara yang duduk diam di pinggiran tempat tidur. Nara sudah rapih karena sudah mandi sedari tadi.


Mario membuang nafasnya, sepertinya dia tahu kenapa Nara melamun seperti itu. Yah, sudah pasti itu karena alat penguji kehamilan yang masih memberikan satu garis untuknya.


" Jangan terbebani begitu, Ibuku kan sudah tidak merengek minta cucu seperti awal kita menikah. " Ucap Mario, entah sadar atau tidak, tapi tindakan Mario ini jelas menunjukkan kalau dia ingin menghibur Nara agar tidak begitu sedih lagi.


Nara menoleh ke arah Mario, gila! Dia terus larut dalam lamunannya sampai dia tidak sadar kalau Mario sudah keluar dari kamar mandi.


" Kau tahu ya aku sedang memikirkan apa? " Nara bangkit dan berjalan mendekati Mario yang kini mulai menggunakan pakaian. Ah, sudah tidak ada malu-malu lagi di antara mereka berdua karena setiap inci kulit serta bagian tubuh mereka sudah bisa mereka ingat dengan jelas.


" Tahu, bekas alat penguji kehamilan yang kau gunakan tadi jatuh ke lantai. "


Nara membuang nafasnya. Sekarang dia sudah berubah tempat duduk di pinggiran tempat tidur yang dekat dengan Mario.


" Tapi kan aku sudah janji dengan Ibu mertua untuk segera memberikan cucu. " Nara berucap dengan wajah lesu.


" Memangnya punya anak segampang beli es dung dung? "


" Yah mana aku tahu? Aku pikir sekali buat langsung jadi. Waktu itu karena aku tidak ingin gagal sama sekali dan lebih efektif lagi, aku dan kau kan sudah melakukan itu setiap hari, tapi tetap saja tidak hamil juga. "


Mario menghela nafas seraya mengancingkan kemejanya.


" Lagi pula rahim siapa yang begitu gampangan sekali buat langsung jadi? Rahim juga perlu di latih agar tidak gampang hamil, wanita saja kalau gampang menerima lelaki di sebut murahan kan? "


Nara terperangah heran.


" Maksudnya rahim murahan begitu? "


" Mungkin. "


" Cih! Yang benar ya rahim baperan! Senggol sedikit langsung hamil. "


***


Wiliam tersenyum paksa begitu wanita di hadapannya dengan sengaja menekan dadanya menggunakan kedua lengannya, betingkah centil dan manja padahal Wiliam sudah menolak beberapa saat lalu.


Wiliam menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Aku datang kesini karena salah satu sahabatku yang mengundang. Dia bilang Minggu depan akan menikah jadi dia ingin mengadakan pesta sebelum nanti sulit untuknya bisa keluar dari rumah. Aku juga tidak memiliki banyak waktu untuk bermain, jadi lain kali saja ya? "


" Em? Tapi sahabatmu kan belum datang? Aku temani ya? Lagi pula mau sampai kapan kau diam disini sendirian saja? " Goda lagi wanita itu.


" Dia sudah bilang akan datang agak terlambat, jadi tidak apa-apa aku akan menunggu sampai dia datang. " Lagi-lagi Wiliam memuaskan senyumnya, tak biasa untuknya bersikap kasar kepada wanita, dia juga tidak terlalu terbiasa mengusir wanita karena jelas wanita yang datang padanya adalah wanita yang pernah menjalin hubungan asmara dengannya. Tidak seperti Mike, Wiliam lebih ketik dalam memilih wanita, dan utamanya adalah cantik fisiknya.


" Ya sudah, aku temani kau minum di sini ya? "


Wiliam mengangguk saja karena tidak enak untuk menolak mantan kekasihnya itu.


Moza, wanita itu baru sampai di bar tempat Wiliam berada. Tadinya dia memang tidak ingin sampai di tempat itu, tapi karena permintaan dari Ibunya Wiliam untuk membawa pulang Wiliam sebelum Wiliam melakukan hal kotor, maka Moza hanya bisa menyusul suaminya untuk pulang meski dia cukup yakin Wiliam tidak akan melakukan hal macam-macam di luar sana yang melewati batasan.


Moza tersenyum miring dengan tatapan mengancam, tentu saja dia kesal dan marah minat Wiliam masih bersebelahan dengan seorang wanita cantik, berambut panjang tinggi dan langsing. Hah, ingin mengatai mirip bihun tapi tidak tega, batin Moza.


Perlahan tapi pasti, dengan langkah anggun bak model kelas atas Moza melangkahkan kakinya membuat banyak mata pria terarah kepadanya penuh kekaguman.


" Kau sedang bersenang-senang rupanya, suamiku. " Bisik Moza di telinga Wiliam dengan posisi tubuhnya berada di belakang punggung Wiliam dan menunduk untuk berbisik.


Wiliam tersentak tentunya, dia bangkit dan menatap Moza dengan tatapan terkejut.


" Mo Moza? Kenapa kau ada disini? "


Moza tersenyum, dia menegakkan tubuhnya, membuat Wiliam bisa melihat begitu indahnya tubuh Moza dengan dress ketat berwarna hitam yang melekat sempurna di tubuh Moza.


" Wiliam, dia siapa? " Tanya wanita yang sedari tadi berada di dekat Wiliam untuk menemaninya minum.


Moza tersenyum dengan begitu percaya diri, tapi tatapannya jelas memperlihatkan bahwa dia sedang menghina mantan kekasih Wiliam itu dengan menatap dari ujung kaki ke ujung kepala.


" Siapa aku memangnya perlu untuk memberitahu padamu? "


" Jangan sok jual mahal, palingan kau itu adalah pacar Wiliam yang di putuskan beberapa waktu lalu dan masih ingin kembali lagi kan? Kau pasti datang kesini untuk membujuk Wiliam agar tidak meninggalkanmu, iya kan?! "


Moza membuang nafasnya, lalu menatap Wiliam.


" Beritahu dia siapa aku, itu pun kalau kau tidak ingin libur tiga bulan. "


Wiliam membulatkan matanya.


" Istri! Istri! Dia istriku! "


Bersambung.