
Mario mengusap wajahnya dengan kasar setelah selesai menyelesaikan mandinya. Ini sudah sangat malam, tapi Nara malah masih saja menunggunya di atas tempat tidur. Benar-benar membuat Mario keheranan tak berhenti membatin, apakah memang benar wanita jaman sekarang adalah wanita yang begitu membara dalam hal anuan?
Lelah juga berlama-lama berada di dalam kamar mandi, Mario akhirnya memutuskan untuk keluar dari sana. Begitu membuka pintu dia benar-benar di buat terkejut melihat Nara yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, dan yang lebih membuatnya kaget luar biasa adalah pakaian aneh yang digunakan Nara. Entah kurang bahan atau apa, tapi baju Nara benar-benar tidak pantas di sebut baju, sekian karena begitu pendek, juga begitu tipis membuat bentukan tubuhnya terlihat jelas.
" Kau, mau apa?! " Mario yang kala itu hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya sontak memegang erat-erat handuk itu, tatapannya benar-benar terlihat ngeri padahal selama ini dia adalah manusia paling ahli berwajah datar, tapi bila dekat dengan Nara, dia benar-benar tidak bisa mengontrol mimik wajahnya.
Nara tersenyum, bolehkah dia jujur kepada dirinya sendiri kalau sebenarnya dia benar-benar malu dengan lingerie di tubuhnya? Walaupun sebelumnya dia hidup berkecukupan, tapi Nara benar-benar di didik dengan sangat tertib oleh orang tuanya sehingga tidak pernah melakukan hal-hal yang menjurus ke arah perbuatan dewasa. Dia sungguh malu, bahkan sebelumnya juga terasa gemetar tubuhnya, tapi lagi-lagi karena janjinya terhadap orang tua Mario, juga masa depan keluarganya ada di tangannya saat ini, Nara benar-benar tidak punya pilihan selain merendahkan diri, membuang harga dirinya jauh tidak perduli ada atau tidaknya rasa suka atau ketertarikan kepada Mario.
" Ini kan malam pertama kita, alias malam pengantin. Jadi, seharusnya kita melakukan apa yang dilakukan kebanyakan pasangan pengantin baru kan? " Nara memajukan langkahnya untuk semakin dekat dengan Mario, dan itu membuang Mario menggeser tubuh Nara dengan reflek, lalu berlari menjauh untuk mengambil pakaiannya.
Baru saja Mario memegang pakaiannya berniat mengenakan baju itu dengan segera, tapi sial sekali karena Nara justru malah sudah begitu dekat dengannya, tanpa aba-aba malah sudah menarik handuk yang melingkar di pinggangnya membuat tubuh Mario menjadi polos tanpa busana.
" Kau! " Mario tidak berani berbalik karena Nara berada di balik punggungnya. Malu tentu saja sehingga Mario mengunakan bajunya untuk menutupi bagian belakangnya.
" Berani melangkah, aku benar-benar akan- "
" Akan apa, sayang? " Nara justru semakin melajukan langkahnya agar semkin dekat dengan Mario meksipun jantungnya benar-benar berdebar kencang, meksipun dia agak gemetar setelah melihat bagian belakang Mario yang nampa mulus dan bagus membuat yang melihatnya menjadi, menjadi apa ya? Ah, maaf sekali karena jika mengatakannya akan membuat si wanita jadi terkesan mesum.
" Me menjauhlah dariku, aku bukannya tidak mampu melakukannya, hanya saja aku tidak siap, jadi- "
Mario melotot kaget karena tiba-tiba Nara memeluknya dari belakang membuat tangannya yang berada di belakang tubuhnya menyentuh bagian yang seharunya tidak ia sentuh.
" Kenapa kau ini?! Sana, sana! Masa iya kau seperti tidak tahu malu begini?! " Protes Mario protes dan meronta tapi tidak berani menjauhkan kedua tangannya yang menutupi bagian depan dan belakang miliknya.
Nara tersenyum, sungguh dia ingat sekali semua nasehat dari mertuanya yaitu Marile di tambah kenekatan yang kuat biasa besar membuatnya tak lagi perduli apa itu harga diri.
Nara selain mengeratkan pelukannya, satu tangannya turun ingin merah sesuatu yang tengah di tutupi oleh Mario.
" Hei hei hei! Jangan menyentuh sembarangan! Lepaskan aku! tunggu dulu, kenapa kau meremasnya?! Menjauhlah! Sana pergi atau aku akan memotong tubuhmu! Hei! Hentikan! Ibu......! Tolong bawa wanita ini keluar! Ibu......! "
Leo dan Marile menelan salivanya bersamaan mendengar teriakan Mario.
***
" Nah, istriku, aku sudah siap nih. Aku cuma pakai jubah mandi saja loh, kalau di singkap jubah mandi ini kau bisa langsung menemukannya kok. " Mike tersenyum menatap Lope yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Lope menghela nafas, memang sangat menguji kesabaran memiliki suami seperti Mike. Selain pikiran dan wajahnya sangat mesum, cara bicara Mike juga selaras membuatnya kesal luar biasa. Ini jelas adalah malam pertama mereka, tapi jangankan ingin tidur bersama dengan Mike, menatapnya sebentar saja dia masih sangat malas. Heh! Untung saja Tuhan sedang memberkatinya dengan datang bulan yang sedang deras-derasnya seperti banjir bandang.
" Aku ingin memberikan saran yang bagus untukmu, lebih baik kita tidur saja karena ini sudah larut. " Ucap Lope yang langsung mendapatkan tatapan tidak setuju dari Mike. Bagaimana bisa dia tidur begitu saja di malam pengantinnya? Memang iya sih dia sudah tahu bagaimana rasanya anuan dengan perempuan karena itu bukan hanya sekali dia kali dia melakukan dengan berbeda wanita. Tapi, tetap saja rugi sekali kalau tidak ewita dengan istrinya sendiri. Padahal sebelum menikah dia di kerangkeng di dalam rumah selama sebulan, tentulah dia ingin melampiaskan si kemoceng berbulu miliknya yang sudah sebulan ini libur dari penjajahan lubang wanita.
" Tidak mau! Kau kan istriku, rugi sekali kalau tidak melakukannya?! " Mike bergerak menindih tubuh Lope, membuka jubah tidur yang digunakan Lope membuat tubuhnya terekspos kecuali bagian dada dan bagian bawahnya.
" Kenapa ada darahnya? " Tanya Mike dengan tatapan penuh tanya setelah tak sengaja melihat kain segitiga yang di gunakan Lope ada noda merah di sana.
Lope tersenyum.
Aku sengaja tidak menggunakan pembalut karena aku ingin kau tahu!
***
Moza duduk di sofa sembari meminum jus jeruk, dia saat ini sedang sibuk dengan ponselnya entah apa yang sedang di perhatikan dari ponselnya. Wiliam yang tidak bisa tidur juga tidak tahu harus bagaimana, ingin memainkan ponselnya juga sudah cukup malas, ingin pergi keluar dan party juga dengan siapa? Dua sahabat sekaligus sepupunya sedang menjadi tahanan pengantin kan?
Wiliam bangkit karena kesal tak bisa juga untuk memejamkan mata dan tidur.
" Hei, Zoya? "
Moza menghela nafasnya, dengan mimik santai dan anggun dia menatap Wiliam.
" Moza. " Ucapnya untuk memperingati William agar tak salah memanggil namanya lagi.
Wiliam pria itu benar-benar kesal karena hanya menyebutkan nama saja Moza terlihat sangat keren. Wiliam jadi berpikir kalau dia pergi dengan Moza, pasti rugi sekali karena kebanyakan mata malah hanya akan mengarah pada Moza di Bandung dirinya kan?
" Kenapa? Ingin melakukan ritual malam pertama? " Tanya Moza dengan wajah dinginnya, tapi tatapan matanya masih begitu asyik menatap ponselnya.
" Apa?! siapa yang ingin? "
Moza menatap Wiliam, dia bangkit setelah meletakkan ponselnya dengan hati-hati. Begitu dekat dengan Wiliam dia meraih dagu Wiliam membuat pandangan mereka bertemu.
" Aku tidak suka pria yang lemah. "
Bersambung.