
Ariel tersenyum puas karena merasa begitu senang. Ternyata Leo benar-benar tidak tergoda sama sekali dengan rayuan Sephora, yang ada di malah terlihat benar-benar muak hingga sering sekali menghela nafas dan menghembuskan nafas kasarnya. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan Bram yang memang sangat menyukai wanita cantik, dia akan tersenyum sok tak memihak demi keuntungannya sendiri. Perilakunya memang lembut, tapi semua itu demi menyeleksi wanita yang ingin dia jadikan pendamping hidup.
Aneh memang, tapi begitulah Bram. Dengan telinganya sendiri dia dengan jelas mendengar bahwa pria itu memang seperti yang di jabarkan.
Beberapa hukuman sepertinya masih kurang memberikan efek jera kepada Sephora, juga Ibunya. Nyatanya, Sephora masih begitu penasaran dan tertarik dengan Leo. Dia terus mencoba mengambil hati dan mencoba mendekatkan diri, tapi sayang Leo seperti sulit untuk dia raih dan membuatnya semakin gencar karena menjadi semakin penasaran dengan Leo. Mulai dari menyiapkan makanan untuk Leo seharian penuh, terus menanyai apakah membutuhkan sesuatu, juga sudah beberapa kali menawarkan kopi dan teh. Tapi malam ini dia harus berhenti sok rajin dulu karena harus bertemu dengan Bram seperti yang sudah mereka janjikan.
Karena malam ini adalah malam Minggu, Ariel yang merasa bosan terus berada di rumah akhirnya mengajak Leo untuk pergi menonton salah satu film yang sedang populer belakangan. Sebenarnya menonton film di bioskop adalah hal yang tidak di sukai oleh Leo, sekian mengingatkan dengan wanita sebelumnya yang suka sekali menonton film, dia juga malas harus mengantri. Tapi, karena yang mengajak pergi adalah Ariel, dia bergegas menyingkirkan segala macam perasaan berat hati dan berangkat dengan suka hati.
" Sayang, beli saja deh semua tiketnya supaya kita tidak perlu mengantri. " Ucap Leo begitu mereka sampai di penjualan tiket, dan ternyata memang cukup antri karena film itu populer.
Ariel membuang nafas sebalnya, mungkin memang begitu bagi kebanyakan orang kaya, tapi bagi Ariel yang tidak suka menyia-nyiakan uang tentu saja amat ogah melakukannya.
" Jangan aneh-aneh! "
" Eh, itu bukanya Sephora ya? " Ariel mengeryit untuk memastikan penglihatannya, dan itu memang benar-benar Sephora juga Bram yang mesra sekali dengan saling merangkul.
" Cih! Sok mesra sekali! Pria itu juga bekas ku kan? Menyebalkan. " Gumam Ariel yang sebenarnya bukan cemburu, tapi dia merasa sebal karena harus melihat dua orang itu di sana.
Leo, dia hanya bisa melotot melihat pria yang bernama Bram, kalau dari kalimat yang Ariel ucapkan, semua pasti akan menyangka jika Ariel cemburu dan masih menyimpan rasa untuk Bram pasti.
" Aku ingin membunuh pria itu. " Kesal Leo.
Ariel yang menyadari jika ucapan itu ditunjukan kepada Bram karena Leo terus menatapnya dengan tajam, maka segera Ariel melarangnya.
" Pria tampan akan berkurang satu dong nantinya. "
Leo kini menatap Ariel dengan tatapan kesal.
" Memang aku tidak bisa di bandingkan dengan dia? "
" Tidak. "
" Ariel, aku ini suami mu tahu tidak?! "
Ariel menahan tawanya. Tahu, sungguh dia tahu kalau Leo itu sangat mudah cemburu.
" Tentu saja aku tahu, kau itu kan suamiku, kau tampan jauh lebih tampan dari pada Bram, jadi mana bisa kau dibandingkan dengan dia? "
Leo memalingkan wajahnya karena merasa malu dengan ucapan Ariel. Ah, sia sia sudah kan dia cemburu dengan pria yang berada jauh di bawahnya.
Tak lama juga Sephora menyadari adanya Ariel dan Leo. Tentu saja dia merasa kesal, dirumah saja mereka sudah begitu mesra tidak perduli kalau mereka adalah pasangan selingkuh, apalagi kalau dia luar?
" Itu kan Ariel? Dia kok bisa bersama Presdir Nard? " Tanya Bram kebingungan. Dia bahkan sampai menggosok matanya beberapa kali karen takut apa yang dilihat tidak seperti yang terlihat.
Bram menatap Sephora dengan tatapan tak percaya. Jelas lah dia tidak percaya, Presdir Nard itu kan sudah sangat dikenal dengan pribadinya yang sangat sulit di dekati, tapi sekarang ini Bram malah melihat wajah penuh cinta dari Presdir Nard saat menatap Ariel. Ah, bahkan Presdir Nard juga sering sekali tersenyum menatap wajah Ariel, tangannya begitu erat menggenggam tangan Ariel sepertinya dia benar-benar jatuh cinta dengan Ariel.
" Bukanya Ariel sudah menikah ya? " Gumam Bram bertanya karena masih merasa tidak percaya juga keheranan.
" Iya, kau lihat sendiri kan? Dari awal itu, Ariel memang wanita yang seperti itu! Dia menuduhku sering di pakai pria, tapi coba lihat! Dia yang sudah bersuami malah menunjukkan betapa tidak tahu malunya, belum lagi dia dengan terang-terangan berselingkuh di rumah Leo. Kau bisa membayangkan bagaimana perasaan Leo kan? dia sedang bekerja di luar negeri, sementara istrinya selingkuh dirumah, bahkan menggunakan kamar mereka juga. "
Bram menatap heran, sebenarnya dia masih meragukan Ariel yang menurut Sephora adalah wanita rendahan yang sok suci karena dari awal Ariel menolak melakukan hubungan badan dengannya saat mereka sedang berpacaran.
" Benar-benar wanita murahan! " Maki lagi Sephora yang dengan terang-terangan menunjukkan tatapan tak suka seolah menunjukkan kepada Ariel bahwa dia sedang menggunjingnya.
Tidak masalah, Ariel sama sekali tak ingin menggubrisnya. Bukan tidak tahu jika Sephora tengah salah paham dengannya, tapi Ariel sengaja membiarkannya agar Sephora selain salah paham, karena dengan begitu Sephora akan terkejut tanpa bisa berkata-kata saat tahu kebenarannya.
" Leo? " Panggil Ariel tak mau menoleh ke arah Sephora dan Bram.
" Iya? "
" Usap kepalaku! "
Leo mengeryit bingung.
" Kenapa? Untuk apa? "
Ariel membuang nafas sebalnya, melirik mengancam sehingga membuat Leo dengan cepat menggerakkan tangan dan mengusap kepala Ariel, tapi tatapannya yang bingung tak bisa dia tutupi.
" Cium pipiku! "
Leo sebenarnya benar-benar tidak paham kenapa Ariel sangat aneh, tapi ya lumayan juga bisa mencium Ariel jadi dia oke oke saja melakukannya.
Dari jauh Sephora mengigit bibir bawahnya dengan tatapan kesal, dia ingin sekali rasanya menarik rambut Ariel karena tak terima jika pria yang ia ketahui sebagai Presdir Nard itu memperlakukan Ariel dengan penuh cinta seperti itu.
Setelah selesai menonton film pun Sephora harus lagi-lagi melihat Ariel dan Presdir Nard begitu mesra berjalan keluar saling bergandengan tangan dan bercanda ria. Itu benar-benar tidak bisa di bandingkan dengan Bram yang malah sibuk dengan ponselnya, bahkan melihat ke arahnya juga tidak.
" Babe! "
Bram tersentak dan menoleh ke arah Sephora yang kini sudah terlihat kesal.
" Apa? Ada apa? " Buru-buru Bram memasukkan ponselnya ke saku karena tidak ingin Sephora melihat apa yang dia lakukan dengan ponselnya barusan. Sephora tentu merasa aneh melihatnya, jadi segera Sephora mengambil ponsel itu dari saku jaket Bram, membuka kunci layarnya yang adalah hari ulang tahun Bram sendiri, dan mendapati jika Bram sedari tadi rupanya sedang berkirim pesan dengan wanita lain.
Bersambung.