
Hari ini Ariel memutuskan untuk datang ke kantor sembari membawa buah yang sudah di potong-potong juga milkshake yang di inginkan Leo. Awalnya sih Ariel menolak untuk datang kesana, tapi karena ingat benar hari ini dia banyak membuat Leo bersedih, jadi dia putuskan untuk datang kesana.
Setelah semuanya beres, Ariel di antar sopir kepercayaan Leo untuk menuju ke sana. Butuh waktu sekitar satu jam, dan akhirnya Ariel sampai di sana dengan selamat.
" Lumayan lama juga tidak datang kesini, kenapa kok aku gugup ya? " Gumam Ariel setelah menghela nafas begitu menginjakkan kaki di lobby kantor. Sudahlah, ini bukan kali pertama dia kesana jadi singkirkan saja perasaan gugup itu dan segera menemui Leo.
" Selamat pagi? " Sapa Resepsionis yang sedang bertugas, awalnya dia tidak mengenali Ariel karena penampilannya yang berbeda, tapi setelah menatap lumayan lama dia jadi mengenali dengan jelas mantan asisten Presdir RC yaitu Presdir Nard.
" Selamat pagi juga, aku permisi ke ruangan Presdir ya? " Sebenarnya ucapan itu hanyalah bosa basi saja karena tidak mungkin kan Ariel mengacuhkan dua resepsionis yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca olehnya.
" Eh, maaf. Sekarang Presdir Nard sedang ada tamu penting, jadi tunggu saja dulu, sampai kami menghubungi Presdir Nard dan di berikan izin untuk kau masuk, baru kau boleh masuk. Sekarang kan kau bukan asisten pribadinya Presdir Nard lagi, jadi tidak bisa sembarangan keluar masuk ke ruangan Presdir, juga ketempat lain di gedung ini.
Ariel mengeryit, memang ia sih dia sudah lama tidak terlihat di kantor, jadi tidak salah kalau orang akan mengira dia sudah resign atau di pecat.
" Sebenarnya aku itu is- " Ariel menghentikan ucapannya, dia berpikir sejenak apakah boleh mengakui dirinya dengan percaya diri begitu? Istri sih memang, tapi apakah ada orang yang akan percaya? Ah, memang benar dia istrinya Presdir Nard alias Leo, jadi buat apa juga merasa ragu-ragu?
" Begini, sebenarnya aku ini istrinya Leo, maksudku Presdir Nard. Jadi biarkan aku masuk sekarang, dan aku akan tunggu tamu selesai di dalam saja oke? "
" Pft! Hahahaha..... " Mereka berdua awaknya saling menatap satu sama lain begitu Ariel mengatakan jika dia adalah istri dari Presdir Nard, lalu tertawa terbahak-bahak setelahnya. Tentu saja Ariel tahu kalau beginilah reaksi yang akan di berikan saat dia mengatakan kepada orang luar kalau dia adalah istrinya Presdir Nard. Presdir Nard, atau Leo itu kan sangat di kenal dengan wajah dan sikap yang dingin, dia juga tidak pernah tersenyum kepada siapapun yang tidak akrab dengannya. Ah, wajar saja sih, tapi kenapa melihat mereka berdua menertawakan dirinya Ariel menjadi kesal ya?
" Jadi aku boleh masuk sekarang kan? " Tanya lagi Ariel yang sudah mulai kesal sendiri melihat dua orang itu terus tertawa untuknya.
" Aduh, kalau bercanda jangan berlebihan deh. Presdir Nard saja tidak pernah dekat dengan wanita manapun, kalau kau bilang kau istrinya, wajar lah kami tertawa. Tapi, kalau yang mengatakan ini adalah mantan sekretaris kita Arumi, tentu kami masih bisa mempercayainya. "
Ariel menghela nafas, memang sulit ya menjelaskan kepada orang yang sudah begitu meyakini pendapatnya sendiri. Ariel mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Leo karena memang sudah tidak tahan lagi berdiri menghadapi dua orang yang terus menertawakannya.
Leo saat itu sedang membahas tentang kerja sama yang sudah berlangsung sekitar empat tahun dengan dua orang tamunya, tapi karena mendengar nada dering yang dia khususkan saat Ariel menghubunginya tentu saja dia segera menuju ponselnya dan menerima panggilan telepon dari Ariel.
" Sayang? "
Aku tidak bisa keruangan mu, Jemput aku!
Setelah Ariel memutuskan sambungan telepon itu, Leo segera meminta waktu sebentar untuk dua orang tamunya untuk menunggu. Satu dari mereka adalah mantan kekasih Leo yang kini mewarisi perusahaan Ayahnya, dan jadilah dia terjun langsung dalam urusan perusahaan sehingga pertemuan dan pembicaraan di antara mereka tetap harus terjalin dengan baik demi kerja sama yang sama-sama membuat perusahaan mereka untung. Sebagai wanita masa lalu Leo, jelas sekali wanita itu terkejut mendengar Leo menyebut kata sayang begitu dia menerima panggilan telepon. Dia ingat sekali kalau Leo bukanlah pria yang bisa memanggil wanita seperti itu, bahkan Leo juga terlihat berbeda begitu menerima panggilan telepon tadi.
Apa itu kekasih barunya Leo?
" Maaf sekali, saya minta izin sebentar saja bisa? "
Mantan kekasih Leo yang bernama Amira itu segera mengangguk, begitu juga seorang pria yang tak lain adalah asisten sekretarisnya.
Sekitar lima menit setelahnya, sampailah Leo di tempat Ariel berada.
" Sayang? "
Ariel menghela nafas, dia yang sudah merasakan pegal di kakinya hanya bisa merengut saja.
Panggilan sayang untuk Ariel dari seorang Presdir Nard tentu saja membuat resepsionis yang bekerja di sana merasa begitu kaget juga tak percaya. Apakah mereka salah dengar? Tidak mungkin juga kalau salah dengar mereka bisa mendengarnya dengan kompak kan? Hah! Apalagi Yanga kan terjadi kalau tidak di pecat, batin mereka berdua yang kini tertunduk hormat sembari menahan diri mereka yang sudah gemetar cukup kuat.
" Lain kali jangan mendengarkan siapapun, aku saja menurut padamu kan? " Leo tersenyum sembari mengacak rambut Ariel. Yah, mau bagiamana lagi? Mana mungkin di bersikap dingin saat istrinya cemberut seperti ini? Memang sih Ariel agak menyebalkan akhir-akhir ini karena hampir tidak pernah tidak merengut dan menunjukan wajah sebal, tapi tidak perlu juga di balas kan?
Leo menatap kedua resepsionis itu dengan tatapan dingin, juga tegas seperti biasanya dia menatap.
" Kalian tahu harus bagaimana bersikap mulai sekarang dengan istriku kan? "
Kedua resepsionis itu mengangguk dengan cepat.
Ariel sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan sikap kedua Resepsionis itu sih, tapi karena mood nya yang selalu tidak bagus akhir-akhir ini membuatnya sedikit egois dan kekanak-kanakan. Jadilah Ariel menjulurkan lidahnya kepada kedua resepsionis itu sembari melangkahkan kaki mengikuti Leo yang mengarahkan arah kakinya.
" Kenapa tadi tidak menunjukkan photo kita berdua saja supaya bisa masuk dengan cepat? "
Ariel menghela nafas.
" Apa kau merasa aku menyusahkan mu karena kau harus menjemput ku? "
Iya!
" Bagaimana mungkin, aku hanya kasihan saja kalau kau berdiri lama disana. "
" Bohong! "
Sesampainya di ruangan Presdir. Leo membawa Ariel untuk duduk di kursinya sembari dia menyelesaikan pembicaraan yang belum selesai di sofa yang ada di ujung ruangan khusu untuk menerima tamu.
" Maaf membuat anda menunggu lama. "
" Tidak masalah. " Amira menatap Ariel dengan tatapan menyelidik, tapi di dalam hatinya juga begitu keheranan karena sepertinya wanita itu begitu penting untuk Leo yang biasanya akan terlihat angkuh dan acuh.
Bersambung.