
" Nara, maaf sekali karena Ibuku memintaku untuk menikah lagi dan melahirkan anak dengan segera. Aku sudah akan pergi berbulan madu dengan istri baruku, kau tinggalkan di rumah dan renungkan kesalahanmu yang tida bisa memiliki anak. Nanti kita bicarakan soal perceraian, aku pergi sekarang. " Mario meninggalkan Nara yang terperangah tak percaya dengan apa yang di ucapkan Mario. Dengan senyum yang begitu manis Mario meraih tangan seorang wanita cantik, mereka saling menggenggam mesra dan terus saling menatap dan saling melemparkan senyum penuh cinta membuat hati Nara sakit luar biasa.
Di sana ada Ibu mertuanya yang selama ini telah meracuni otaknya dengan kegiatan ranjang, tatapan ramahnya sudah tak terarah lagi kepadanya melainkan wanita yang tengah bergandengan tangan dengan Mario.
" Have fun ya nak, pulang nanti bawakan aku cucu yah lucu. Setelah pulang bukan madu, Ibu akan menyiapkan pesta besar-besaran, menyambut kalian dengan menggelar karpet merah terbaik yang terbuat dari kulit domba yang lembut dan indah. Jangan pikirkan soal Nara, perempuan itu abaikan saja, nanti kita kembalikan kepada orang tuanya saja. "
Mario menoleh menatap Nara dengan senyum miring yang begitu menakutkan.
" Tentu saja, Bu. Aku juga bosan dengan dia, sekarang sudah ada wanita yang lembut, hangat, manis, sopan santun, tidak banyak tingkah dan tida pecicilan, jadi untuk apa aku bertahan dengan Nara yang seperti itu? "
Nara menggeleng pilu, tangannya terulur ingin meraih Mario dan membawanya kembali tapi sayangnya kakinya tak bisa di gerakkan entah mengapa.
" Mario, kau mana boleh begitu padaku?! Aku sudah berusaha yang terbaik, tidak perduli subuh, pagi, sudah sore malam, dini hari aku rela di ewita demi punya anak! Aku juga ingin punya anak asal kau tahu?! Jangan pergi, ayo kita lebih berusaha lagi, aku mohon...... " Nara menangis tersedu-sedu, tapi sialnya Mario malah terlihat tidak perduli begitu juga dengan Ibu mertuanya yang selama ini selalu bersikap baik layaknya Ibu kandung sendiri.
" Aku kan kaya, mau berapa lusin istri tentu saja aku berhak menentukan sendiri. Setelah ini aku juga berniat mencari istri lagi, jadi jangan banyak bicara apalagi menghalangi. Sayang sekali bukan kalau pria yang banyak uang dan tampan sepertiku hanya buang-buang waktu degan satu istri saja? "
Nara semakin terisak-isak tak karuan.
" Tidak boleh! Kau mau mencoba lubang wanita manapun tetap saja punyaku yang lebih pulen! Lubang mereka semua itu sudah banyak olinya, sudah pasti licin! Ayo cepat kembali, atau aku akan bunuh diri! "
" Cih! Bunuh diri saja sana! Tai ingat, tolong jangan bunuh diri di teras rumahku, nanti repot membereskan mayatmu. Kau kan sekarang gendut, lihat tuh perutnya sekarang berlipat kalau duduk. Perhatikan juga baik-baik bagian lehermu saat kau menunduk, sudah seperti babi saja yang tidak punya leher. " Mario membuang pandangan membuat Nara tak bisa berkata-kata lagi.
" Sudahlah, Nara. Jangan banyak menangis, air matamu itu mengganggu udara segar di sekitar rumahku. Lebih baik kau masuk ke kamar mandi saja saat menangis, menyebalkan! " Ujar Ariel membuat Nara hampir gila karena sedih dan putus asa.
" Dasar Mario brengsek! Memangnya seberapa hebat kau sampai mau punya lusinan istri, hah?! Melayaniku saja kau sampai tersungkur, ngesot-ngesot, menangis sampai ingusnya beleweran kemana-mana memenuhi wajahmu karena kau tidak sanggup sama sekali! Berani kau menikahi wanita jelek itu, aku akan menggilas milikmu di mesin cuci, lalu memotongnya menjadi kecil-kecil dan akan ku berikan kepada anjing peliharaanmu! "
" Nara! "
" Hah?! "
Nara terbangun dari posisinya, keringatnya benar-benar banyak sekali, dan saat dia melihat dimana dia berada, dia baru sadar kalau ternyata yang tadi itu hanyalah mimpi saja.
" Kau ini kenapa sih?! Sedang tidur pun berteriak-teriak menyumpahi ku, kalau kau benar-benar ingin membunuhku, tolong jangan terlalu jelas karena takutnya aku yang lebih dulu bertindak nantinya. "
Nara menatap Mario yang kini menatap sebal padanya, lain dari Mario, Nara justru menggigit bibir bawahnya dan mulai menangis.
" Hei hei hei! Kau ini kenapa?! " Tanya Mario yang terkejut karena tiba-tiba saja Nara menangis tersedu-sedu.
" Kau ini sedang kenapa? Kenapa kau menangis sih?! Aku bahkan belum mengapa-apakanmu. "
" Kenapa kau malah diam sedari tadi?; Seharusnya kalau istri menangis, di peluk, di usap punggungnya agar tenang dan cium keningnya! Kenapa kau tidak romantis sekali hah?! Jangan-jangan benar kau mau menikah lagi gara-gara aku belum bisa punya anak ya?! Dimana kau simpan wanita itu, hah?! Katakan dimana dia biar aku obok-obok lubangnya! Buat dia tahu rasa dan jangan gagal merebut suami orang! " Nara bertanya sembari mencengkram kuat baju tidur Mario, tentu saja Mario terbengong-bengong bukan main dengan semua yang di katakan Nara barusan. Padahal setelah Nara mengatakan jika wanita menangis dia perlu memeluk, mengusap punggung, menenangkan, mencium keinginan, dia sudah ingin bergerak. Tapi begitu kalimat selanjutnya muncul, Mario benar-benar tidak bisa bergerak, bahkan berpikirku dia tidak mampu.
" Cepat katakan di mana wanita itu? Biarkan aku menarik rambutnya, menggantungkan kepalanya di teras depan! Cepat katakan dimana dia?! "
" Nara, kau ini sebenarnya sedang kenapa? Wanita yang mana? Dimana apanya? "
Nara terdiam sebentar tapi dia masih tak bisa menghentikan tangisnya.
" Aku, aku, tadi, kau, kau berselingkuh, kau mau menikah lagi, kau mau bulan madu dan membuat anak untuk kalian dan Ibu mertua. Kau meninggalkan aku, kau mengataiku pecicilan dan banyak lagi! Kenapa kau tega mengatakan itu padaku? Huhuhu...... "
Mario menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Kapan? Kapan aku mengataimu pecicilan? Kapan aku berselingkuh? Buat anak apanya pula sih? Aku memang sering sebal karena kau pecicilan, tapi aku tidak terpikirkan untuk selingkuh karena aku sudah kerepotan dengan satu perempuan sepertimu. "
" Tapi tetap saja kau tadi berselingkuh di dalam mimpiku! "
Mario terperangah, rasanya ingin sekali mensleding gigi Nara karena sangking kesalnya.
" Mimpimu saja yang gila! Mana mungkin aku berselingkuh, menghadapi istri sepertimu saja aku sering minum obat migran. Sudahlah, jangan membicarakan hal bodoh hanya karena mimpi anehmu saja. Cepat kembali tidur karena aku juga mengantuk. " Mario kembali memposisikan tubuhnya untuk kembali tidur.
" Sayang..... "
" Apa? "
" Usap dulu air mataku! Kau ini benar-benar tidak romantis sekali sih?! Aku ini kan menangis karena mimpi kau mau selingkuh! "
Mario membuang nafasnya.
" Jadi itu salahku saat kau bermimpi aku selingkuh? "
" Iya! "
Mario dengan cepat mengusap air mata Nara karena sudah ogah bertengkar untuk hal yang tidak jelas.
" Ingus ku tidak di bersihkan? "
Bersambung.