
" Maaf sekali, Nona. Presdir kami sedang berada di luar, kemungkinan untuk datang ke kantor juga belum jelas, mohon untuk kembali besok ya? " Ucap Resepsionis yang bekerja di perusahaan RC. Dia adalah Luna, hari ini dia nekat mendatangi perusahaan RC, tempat dimana Mario memimpin perusahaan. Niatnya datang adalah untuk menyerahkan proposal secara langsung ahar dapat menjelaskan juga kepada Mario karena dia sudah yakin benar Mario akan menyukai proposal itu dan tidak keberatan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan milik orang tuanya.
" Maaf kalau saya lancang, apa boleh saya minta nomor pribadi Presdir RC? "
Resepsionis itu terdiam sesaat, lalu tersenyum dengan sopan.
" Nona, karyawan rendah seperti saya mana mungkin memiliki nomor telepon bos RC? Jika Nona menginginkan nomor telepon CEO RC, anda perlu menghubungi sekretaris CEO dulu, anda harus menjelaskan dengan detail tujuan anda, baru dia akan memutuskan apa kah anda bisa mengunjungi CEO ataukah tidaknya. "
Luna memaksakan senyumnya, Bodoh! Dia benar-benar bodoh sekali karena begitu cepat asal bicara dan meminta nomor telepon Mario yang adalah seorang CEO ternama. Dulu Mario benar-benar sangat pendiam dan pemalu, dia hanya di kenal dengan nama Mario tanpa pernah menceritakan kalau sebenarnya dia adalah anak dari pemilik perusahaan RC. Memang sih penampilan Mario memang sangat berkelas, tapi dulu bagi mereka itu adalah hal yang lumrah karena sekolah di mana dia menempuh pendidikan memang hampir semuanya adalah orang dari kalangan atas jadi Luna hanya beranggapan Mario adalah anak dari orang kaya saja tidak perduli siapa orang tuanya.
" Kalau begitu, boleh minta nomor yang bisa di hubungi untuk bicara dengan sekretarisnya CEO? "
Resepsionis itu menyodorkan satu lembar kartu nama kepada Luna.
" Mohon untuk mengirimkan dulu pesan, Nona. Cantumkan nama, dari perusahaan atau latar apapun, serta tujuan anda untuk menghubungi, nanti setelah mendapatkan balasan persetujuan, anda bisa langsung menghubunginya di jam yang sudah di tentukan oleh sekretaris CEO. "
Luna terdiam sebentar, lalu tersenyum dengan sopan. Sungguh dia benar-benar tidak tahu jika ingin menghubungi Mario akan sesulit ini. Padahal dia pikir akan bisa langsung bertemu jika Mario mendengar namanya, juga tujuannya untuk datang kesana. Yah, orang yang memiliki kedudukan tinggi, serta kekuasaan memang akan sulit untuk dia jangkau, tapi Luna masih ingin mencobanya. Tujuannya bukan semata-mata untuk bertemu dengan Mario saja, tapi dia benar-benar serius dengan proposal yang ada di tangannya.
" Terimakasih atas bantuannya, saya permisi dulu. " Ucap Luna sebelum dia beranjak pergi. Begitu sampai di luar gedung, Luna membuang nafasnya dan duduk di pinggiran yang memang tersedia tempat duduk di sana. Dia mengeluh di dalam hati kenapa hidupnya menjadi seperti kehilangan arah begini? Padahal dulu dia pikir perusahaan Ayahnya akan tetap stabil dan tidak akan mengalami penurunan, ternyata salah! Nyatanya semua juga ada masanya senang, sedih, dan berjuang.
" Mario, tidak di sangka kalau sekarang kau bahkan sangat tinggi dan sulit untuk di gapai. " Gumam Luna sembari menatap kartu nama yang ia dapatkan dari Resepsionis tadi.
***
" Sayang, besok aku pergi menemui teman-teman ku boleh? "
Mario mengeryit menatap Nara yang juga menatapnya dengan senyum manis karena tujuannya adalah untuk membujuk Mario agar memberinya izin keluar rumah.
" Kemana tujuannya? Untuk apa? Memang ada acara apal lagi? Banyak orang tidak? perempuan semua atau ada pria nantinya? "
Nara menghela nafas bingung ingin menjawab yang mana dulu dari semua pertanyaan Mario barusan.
" Tidak ada acara spesial sih, hanya saja kami ingin kumpul bersama saja. Di sana iya tentu saja ada prianya, tapi aku tidak akan lama kok. "
" Tidak. " Jawab Mario langsung tanpa menjelaskan alasannya.
" Cuma sebentar saja kok, sayang. "
" Tidak boleh! "
Nara membuang nafas sebalnya.
Mario menghentikan ucapan Nara dengan meletakkan Ibu jarinya di bibir Nara.
" Aku tidak akan marah lagi aku sudah janji kan? Aku tidak akan mempermasalahkan sikapmu yang pencemburu itu, aku tidak masalah, sungguh! Kemarin aku sudah asal bicara karena aku kurang memahami kondisimu. Kau tidak salah jika mengkhawatirkan suamimu sendiri, aku senang karena kau masih mau memperhatikan ku meskipun kau sedang kesal seperti kemarin. "
Nara terdiam Sebentar, lalu kembali menatap kedua bola mata Mario yang sedari tadi memang tengah menatapnya.
" Aku punya banyak kekurangan, Mario. Aku selalu merasa malu dan rendah karena teringat fakta bagaimana kita bisa menikah. Aku merasa bersalah padamu, menyalahkan diriku yang terlalu egois dan memaksa, aku benar-benar tertekan karena semua itu. "
" Kau tertekan setelah ucapan ku yang waktu itu kan? " Tanya Mario yang bisa menebak dengan mudah.
" Bukan sepenuhnya salahmu, dari awal memang aku lah yang salah. Maka dari itu aku benar-benar ingin menghindari kegiatan yang tidak baik untuk hubungan kita. Bagaimanapun aku ingin suamiku memiliki pekerjaan yang baik dan menghasilkan banyak uang, jadi aku harus menjaga mood nya supaya baik kan? "
Mario menghela nafas, lalu mengusap wajah Nara dengan lembut.
" Nara, sudah ku bilang aku tidak akan keberatan, kau ingin apa lakukan saja. Aku tidak akan melarangmu, aku akan memahami maksudmu dengan baik dan tidak akan membiarkan diriku menjadi mudah marah. "
" Sungguh? "
" Iya. "
" Kalau begitu, aku sudah tidak perlu menjaga diri lagi untuk tidak cemburu? "
" Iya. "
" Bohong, laki-laki kan biasanya hanya iya di mulut saja. "
" Kau ingin apa sebagai bukti? "
" Buat surat perjanjian bagaimana? "
" Biar aku dengar dulu bagaimana perjanjian yang akan di cantumkan di dalamnya. "
" Oke, pertama kau dilarang keberatan saat aku merasa cemburu, kedua kau tidak boleh melewatkan mencium ku sebelum berangkat dan pulang kerja. Ketiga, kau harus selalu setia padaku, di larang mengunggah photo wanita lain, kau juga harus dan wajib mengatakan padaku seperti ini, istriku cantik, biarkan aku berangkat kerja dulu ya? "
Mario menahan senyum geli sendiri mendengar apa yang di katakan Nara.
" Yang terakhir, aku ingin kau membuat tato di anu mu dan buat inisal huruf depan ku di sana. Kalau ada gadis cantik yang mendekatimu, katakan saja kau menderita panu, kadas, kurap, kutu air parah, gatal-gatal, sering kejang tidak jelas, bahkan kau juga akan muntah kalau melihat wanita lain selain istrimu sendiri. "
Bersambung.