
Ariel menenggak habis sebotol air mineral dingin berharap rasa panas dari tubuhnya karena kekesalan sedikit berkurang. Hah! Kurang ajar sekali Leo, ternyata dia dan Presdir Nard adalah orang yang sama! Betapa bodoh dan memalukannya selama ini, belum lagi ingatan saat Presdir Nard sialan itu mencium paksa dirinya, ah! Benar-benar membuat frustasi.
Setelah meminum air dingin lumayan banyak di dapur, Ariel tentu tak bisa masuk ke dalam kamar begitu saja karena pada akhirnya dia harus berhadapan dengan Leo, Presdir Nard? Ah! Tidak tahu yang mana sebenarnya dari dua orang itu. Ariel memilih untuk duduk di teras lantai dua, Leo juga sebenarnya ada disana melihat Ariel dari kejauhan. Dia hanya bisa menatap tapi tak berani mendekat, buka takut sebenarnya, tapi Leo merasa Ariel butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri.
" Ariel? "
" Ibu? " Ariel bangkit dari duduknya, lalu meraih tangan Ibunya untuk duduk bersamanya.
" Kenapa kau ada disini? " Tanya Ibu Maria, tadinya dia hanya ingin melihat bagaimana rasanya melihat suasana malam dari teras lantai dua, tapi kebetulan sekali dia melihat putrinya disana.
Ariel menghela nafas, rasanya ingin sekali dia menceritakan apa yang terjadi barusan, dan meminta solusinya. Tapi, dia juga tidak ingin membuat Ibunya khawatir, bagaimanapun menjalani hidup di dalam penjara selama sepuluh tahun pasti sudah sangat berat untuknya, jadi tidak tega kalau harus menambah beban pikiran kepada Ibunya meski dia sadar bahwa dia membutuhkan Ibunya saat ini.
" Tidak apa-apa kok Bu, aku cuma suntuk saja berada di dalam terus. " Ariel tersenyum di akhir kalimat karena benar-benar tidak ingin kalau Ibunya khawatir tentangnya.
Ibu menghela nafas, dia mengusap kepala Ariel sembari tersenyum lembut. Sepuluh tahun memang waktu yang lama sekali untuk berpisah dengan Marile putrinya, tapi bukan berarti jiwa seorang Ibu tidak mampu melihat kebohongan saat putrinya berbicara.
" Ariel, katakan saja kepada Ibu. Ibu tahu ada hal yang mengganggumu, jangan merasa kuat seorang diri, karena Ibu bebas juga hanya untukmu, untuk melindungi mu, dan menjaga mu. Kalau kau menoleh bercerita dengan Ibu, bukankah percuma saja Ibu keluar dari penjara? "
Ariel menatap pilu, sungguh bukan itu maksudnya, dia tidak ingin membuat Ibunya merasa seperti itu. Ariel membuang nafas, sepertinya menceritakan apa yang dia rasakan saat ini adalah pilihan yang tidak buruk, toh Ibunya tidak mungkin akan mengkhianati dan memberikan saran yang buruk kan?
" Ibu, bagaimana harus menyikapi seseorang yang membohongimu? Padahal menaruh harapan besar padanya, tali harus terima di bohongi. Apakah salah jika marah? Apakah egois tetap memikirkan untuk tidak terus bersama karena kecewa yang sangat dalam meksipun sadar juga kalau orang itu lumayan banyak membantu hal yang tidak bisa dilakukan oleh kita sendiri. "
Ibu Maria tersenyum, dia menghela nafas sembari mengalihkan pandangan menatap lurus ke depan, tempat dimana dia bisa melihat suasana malam yang tenang dan damai.
" Setiap orang memiliki alasan berbohong, nak. Ada yang tujuannya positif, ada juga yang tujuannya negatif cenderung memikirkan keselamatan pribadi meski tahu itu merugikan orang lain. Menurut Ibu, perbuatan paling menyakitkan dan tidak termaafkan adalah dikhianati dan di selingkuhi, selain dari itu Ibu tidak terlalu memasukkan ke dalam hati. Hidup itu akan mudah jika kita memilih jalan yang mudah, cukup maafkan saja jika itu tidak merugikan mu, anggap semua adalah cobaan dalam hidup. Percayalah tidak ada manusia yang suci tanpa dosa, nak. Tapi satu hal ingin Ibu sampaikan padamu. " Ibu Maria meraih tangan Ariel, menggenggamnya, lalu menatap dengan lembut tapi juga nampak yakin.
Ariel terdiam tak berani menjawab. Sebenarnya dia merasa aneh kenapa Ibunya begitu yakin akan Leo, tapi dari pada membantah Ibunya memang lebih baik kalau jalani saja dulu, urusan nanti ya nanti deh dipikirkan lagi.
Setelah lama berbincang dengan Ibunya, Ariel akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia tak bicara melihat Leo yang duduk di atas tempat tidur dengan posisi kaki selonjoran dengan begitu santai. Ah, rasanya kesal sekali melihat pria itu! Leo, Leonard? Leonardo? apa Presdir Nard? Jadi yang mana sih sebenarnya? Apa ini artinya dia sudah menikahi tiga pria dalam satu tubuh? Aduh! Tiga pria apaan?! Membatin itu malah ulmembuatnya berdebar tidak jelas, bahkan tiba-tiba saja membayangkan tiga tubuh kekar Leo ada tiga di hadapannya.
" Kau sudah kembali, jadi kita bisa melanjutkan pembicaraan kita? " Leo bangkit dari posisinya, sekarang dia benar-benar menunjukkan seperti apa tubuhnya jika tidak berpura-pura cacat, dan dia juga nampak berbeda dari presdir Nard yang biasanya akan sok ramah dan sok baik. Tubuhnya memang Presdir Nard dalam bungkusan busana biasa untuk pria tidur, tapi tatapan matanya dan mirip seperti Leo yang kadang terlihat lembut, tapi juga arogan.
" Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, jadi jangan mengajak bicara. " Ujar Ariel mencoba untuk menghindar dari Leo, tapi pria tinggi besar itu justru menghadang langkah kakinya dan menguasai arah dimana dia ingin melangkah pergi.
" Kita harus bicara, kita ini suami istri, tidak baik kalau berlama-lama menunda penyelesaian masalah. "
Aduhduh! Bisa-bisanya bicara seperti itu seolah tidak memiliki kesalahan apapun.
" Suami istri apanya? Kita hanya suami istri status saja, jadi jangan berlebihan. " Ucap Ariel yang masih belum bisa menghilangkan kekesalannya.
" Oh ya? Tempo hari kau begitu gencar mengajakku melakukan hubungan suami istri, atau yang kau sebut dengan ewita. Aku sengaja menahan, menundanya sampai aku bisa menjelaskan tentang diriku. Aku, juga tidak ingin diam saja saat seorang istri yang belum pengalaman melakukannya sendirian, jadi, mari kita lewati batas suami istri status agar bisa menjadi suami istri sungguhan. "
Ariel menelan salivanya. Gugup? iya! Gugup sekali! Itu semua karena dia pernah melihat sebuah video dewasa dimana wanitanya berperan besar karena si pemeran lelakinya tidak mau melayani si wanita. Ariel menganggap saja pria itu sebagai Leo yang tidak bisa melakukan apapun, jadi dia benar-benar memperhatikan bagaimana pemain wanita melakukannya dengan harapan dia bisa melakukan, atau mempraktekan itu ketika bersama Leo yang cacat.
" Mari, kita lewati batas itu. " Leo mengusap lembut wajah Ariel yang beberapa detik lalu melamun memikirkan hal tadi. Merasakan tangan Leo di wajahnya, dia menjadi terperanjak dan berniat untuk memundurkan wajahnya. Sayang, tangan Leo sudah lebih cepat menahan tengkuknya untuk tak ada kesempatan bagi Ariel kabur darinya.
" Aku sudah memutuskan untuk mempertahankan mu, maka sampai menjadi mayat pun kau hanya akan mejadi milikku. "
Bersambung.