Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 59



Begitu sampai di rumah orang tua Nara, Mario dengan sopan menyapa kedua orang tua Nara, sedangkan Nara sendiri baru saja tidur menurut penuturan orang tuanya. Sungguh aneh sekali rasanya ingin mengobrol dengan kedua orang tuanya Nara, tentu saja itu karena dia bukan orang yang suka berbosa basi seperti kebanyakan orang lain demi untuk membuat diri dekat dengan orang tersebut.


" Mario, Ibu siapkan makan malam untukmu ya? "


" Tidak usah, Ibu mertua. Sebenarnya aku datang karena, karena " Mario menelan salivanya sendiri, duh sialan dia harus beralasan apa? Mungkinkah harus dia katakan kalau tidak nyaman tidur di tempat yang tidak ada Nara? Rindu istrinya? Hah! Tidak, tidak, tidak! Jangan seperti itu juga kan?


" Em, itu, Nara mengirim pesan mengaku untuk datang, Ibu mertua dan Ayah mertua. Dia bilang tidak bisa tidur kalau tidak ada aku di dekatnya, begitu sih kata Nara. "


Kedua orang tua Nara saling menatap bingung. Sebenarnya Ibunya Nara baru saja melihat Nara di kamar dan berniat mengajak Nara untuk menonton film horor mumpung Nara menginap di rumah. Tapi jelas Ibunya bisa melihat kalau Nara sudah tidur dengan nyenyak, jadi alasan tadi apakah masuk akal?


Ibunya Nara memaksakan senyumnya, ya sudahlah. Entah apa yang sebenarnya terjadi antara anaknya dan juga menantunya, toh selama mereka masih saling mencari satu sama lain, masih ingin tetap bersama artinya rumah tangga mereka tidak memiliki masalah yang besar.


" Nak, masuk saja ke kamarnya Nara, jangan sungkan begitu, kau kan suaminya. " Ujar Ibunya Nara yang langsung di tanggapi senyum oleh Mario.


" Kalau begitu, aku masuk dulu ya, Ayah dan Ibu mertua. "


" Iya. " Jawab Ayah dan Ibunya Nara bersamaan.


Baru saja berbalik badan, Mario menghentikan niatnya untuk menjalankan kakinya karena dia melupakan satu hal yaitu,


" Ngomong-ngomong, kamar Nara yang mana ya? " Yah, ini adalah kali pertama Mario ikut menginap di rumah orang tua Nara, soalnya dari beberapa waktu lalu Nara memang sering minta izin untuk tidur di rumah orang tuanya dan dia selalu mencari alasan karena tidak ingin memberikan izin itu.


" Kurus saja, pintu warna pink, itu kamarnya Nara. "


Mario tersenyum kikuk, mengangguk paham.


Begitu dia mendapati pintu kamar berwarna pink, Mario dengan segera membuka pintu itu, tapi dia usahakan untuk tidak membuat banyak suara keras.


Mario ternganga keheranan karena yang dia lihat adalah Nara sedang tertidur pula, mendengkur, bahkan di sisi bibirnya keluar air liur begitu banyak. Astaga, air liur itu benar-benar banyak sekali mengalahkan banyaknya air terjun Niagara saja.


" Benar-benar tidak punya perasaan, aku tidak bisa tidur tapi kau malah tertidur dengan begitu nyenyak. " Gerutu Mario sembari mengamati wajah Nara yang begitu polos saat tertidur. Mario tersenyum entah apa yang lucu dari wajah istrinya itu. Kemudian Mario melihat ke arah lain, dia memperhatikan kamar Nara yang semuanya serba warna link. Cat dinding, meja rias, perabotan di sana juga serba pink jadi tidak heran kalau kamar yang dulu miliknya begitu keren untuknya karena berwarna silver, tapi begitu Nara menjadi istrinya perlahan-lahan semua kamarnya berubah menjadi pink. Duh, dia jadi ingat baju tidur untuk pasangan yang juga warnanya pink.


Mario membuang nafasnya, perlahan bangkit dan mengambil posisi untuk tidur di sebelah Nara.


" Benar-benar membuat orang gelisah saja. '' Ujar Mario lalu tersenyum tipis menatap punggung Nara.


Besok paginya.


" Ah.....! " Pekik Nara begitu mendapati Mario berada di sana sebenarnya saat membuka mata tadi dia sempat mengeryit bingung karena merasa dia sudah membuka mata tapi kok belum bangun dai tidur? Lah? Rupa-rupa nya Mario benar-benar nyata.


" Nara kau ini sedang kenapa? " Mario yang kaget karena suara Nara tentu saja bangkit dan mau tak mau dia harus membuka mata padahal dia masih mengantuk.


" Mario, kau, kenapa ada di sini? " Tanya Nara dengan wajah terkejutnya yang belum menghilang.


" Memang kenapa? Aku tidak boleh menginap di rumah orang tuamu? "


" Semalam. "


Nara menatap Mario dengan tatapan menyelidik.


" Katakan padaku, kenapa kau datang kesini? Kau merindukan aku ya? " Goda Nara.


Mario tentu saja mengelak, meskipun di dalam hatinya mengiyakan ucapan Nara, tapi dia malu untuk mengiyakan ucapan Nara barusan.


" Apanya? Ibumu yang menghubungiku dan memintaku datang. Dia bilang suami dan istri tidak boleh tidur di tempat yang terpisah, padahal aku sudah mau tidur loh, tapi aku mana bisa mengabaikan ucapan Ibumu? Aku jadi malam-malam harus mengendari mobil, untung saja tidak terjadi sesuatu di jalan. " Ucap Mario yang ga berani menatap kedua bola mata Nara, dan tentulah Nara jadi tahu kalau Mario tengah membohonginya.


" Ibu! "


Mario membulatkan matanya, menutup dengan segera mulut Nara karena takut kalau nanti Nara akan bicara yang tidak-tidak, mengadukan apa yang dia katakan barusan.


" Nara, kau ini kenapa harus memanggil Ibumu sih? " Protes Mario.


" Aku mau tanya benar apa tidak Ibuku bicara seperti itu? "


Mario menghela nafasnya, sial! Kenapa juga dia harus berbohong? Bukankah Nara adalah istrinya sendiri, kalau dia juga begini artinya dia juga membuat batasan untuk mereka berdua bukan?


Mario menatap Nara dengan mimik serius. .


" Aku bohong!, sebenarnya aku tidak bisa tidur semalam, aku gelisah dan terus memikirkanmu. Mau benar-benar tidak bisa tenang makanya aku putuskan untuk datang ke sini. Aku memang tidak tahu akan seperti apa reaksimu saat aku datang kesini, tali aku benar-benar minta maaf kalau kau tidak nyaman dengan keberadaan ku. " Ucap Mario yang bisa di rasakan oleh Nara ketulusan serta kejujuran Mario saat bicara barusan.


Nara tersenyum sembari menatap Mario.


" Kenapa kau gelisah dan tidak bisa tidur karena tidak ada aku? Tidak mungkin kan seorang Mario mencintai Nara yang serba kekurangan, suka cemburu tidak jelas, dan kurang pengertian. "


Mario meraih kedua tangan Nara, menggenggam dan menatapnya dengan serius.


" Bukankah semua bisa saja terjadi dan mungkin mungkin saja selagi ini adalah dunia? Sekarang katakan padaku, sebenarnya apa yang mengganjal di hatimu, kalau aku melakukan kesalahan maka beritahu aku. "


Nara terdiam sebentar. Mungkin tentang ini perlu juga untuk dia bicarakan kepada Mario, walaupun memang benar Nara merasa dia yang salah, tidak ada salahnya kalau dia mengaku kan?


" Bukan kau yang salah, Mario. Aku yang salah, aku yang tidak bisa mengerti keadaan, aku kurang bersyukur dan selalu menginginkan lebih padahal aku sendiri banyak kekurangan. "


" Memang apa yang kau inginkan? " Tanya Mario.


Nara terdiam sebentar, dia tetap bicara meski awalnya dia terlihat ragu.


" Aku, selalu saja merasa jika kau kurang memperhatikanku. Saat kemarin aku mual-mual, kau sama sekali tidak bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak, kau malah pergi ke kamar dan cuek saja. Padahal aku mual benar-benar tidak di buat-buat. "


Bersambung.