Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 50



Moza terdiam sebentar, ternyata Wiliam mendengar ucapannya.


" Lupakan saja. "


" Tidak bisa! Kalau kita seperti ini terus, kita mana mungkin bisa bertahan lama? Aku juga sudah mulai ingin menyerah, tahu tidak? "


Moza membuang nafasnya.


" Baiklah, dengarkan ini baik-baik. Dua Minggu yang lalu sahabatku datang dari luar negeri setelah satu tahun pergi. Kami berbincang begitu asyik hingga dia mengatakan padaku dia baru saja melahirkan. Dia menunjukan photo bayinya kepadaku, lalu saat aku bertanya siapa suaminya? Dia mengatakan bahwa dia belum menikah. Saat aku tanya siapa Ayah dari bayinya, kau tahu dia menunjukkan photo siapa? "


" Siapa? "


" Photo mu. "


Wiliam terdiam dengan terkejut, benar-benar seperti di sambar petir siang bolong rasanya. Bagaimana bisa dia membuat wanita hamil? Setahu dia, atau seingatnya, dia selalu melakukannya dengan hati-hati. Kalaupun memang hamil dengannya, bagiamana bisa dia tidak di beri tahu, malah tahunya dari istrinya sendiri. Masalah besarnya bukan hanya itu, tapi Moza yang berteman begitu dekat dengan wanita yang katanya baru saja melahirkan, dan menuduh Wiliam sebagai Ayah dari bayi itu.


" Sekarang mau bagaimana? Tujuan orang tuamu untuk memiliki cucu sudah terjadi meski bukan aku Ibunya. " Moza menghela nafas.


" Sebenarnya dari kemarin aku benar-benar sangat dilema, di lain sisi kau adalah suamiku, dan dia adalah teman baikku. Kalau benar kau Ayah dari anak itu, bukan kah artinya aku hanya bisa melepaskan posisiku sebagai istrimu agar kau bisa bertanggung jawab penuh? Sial! Ternyata tidak semudah itu, aku merasa bimbang dan tidak rela juga berpisah darimu.Tapi setelah memberi tahu tentang itu, aku benar-benar tidak punya pilihan lain kan? "


Wiliam terdiam sebentar, jujur saja ucapan Moza yang mengatakan jika tidak rela berpisah dengannya sukses membuat Wiliam berdebar bahagia. Tapi membayangkan juga kalau sampai orang tuanya tahu, lalu masalah menjadi runyam, dan mereka harus berpisah, Wiliam juga merasakan yang sama. Dia tidak rela harus berpisah dari Moza. Entah apakah karena sensasi berbeda saat melakukan anu dengan Moza, atau kah di memiliki perasaan yang tidak biasa semacam perasaan cinta.


" Jangan buru-buru begitu, Moza. Coba kau pikirkan lagi, kalau memang aku Ayah dari bayi itu, kenapa dia tidak datang padaku dan meminta pertanggung jawaban? Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, jadi tolong bantu aku menyelesaikan masalah ini ya? " Wiliam dengan cepat mendekatkan tubuhnya dan menyenderkan kepala di lengan Moza membuat Moza sebal lalu menghela nafasnya.


" Kenapa aku harus membantumu? "


" Kan kau istriku. "


" Kau sudah ingat kalau punya istri? "


" Ingat, ingat sekali! Kan temanmu itu hamil sudah setahun yang lalu, kita belum menikah waktu itu. "


" Aku tidak mau membantumu. " Ucap Moza dengan santai lalu memasukkan makanan ke mulutnya.


" Aku akan tetap menarikmu supaya kau bergabung. "


Moza kembali menghela nafas dan menggeleng ke heranan.


" Sekarang kau tahu bagiamana resikonya tidak bisa menjaga punyamu kan? Jangan asal menclok sana sini, celup sana celup sini! Biarpun laki-laki juga harus punya harga diri, masa muda memang indah dan kebanyakan di anggap bebas, tapi bagiamana ketika sudah punya anak, usia bertambah tua? Apa yang kau dapatkan dari itu? Hanya rasa malu, dan bagiamana jika kau memiliki anak perempuan, lalu sialnya anak perempuanmu bertemu dengan laki-laki sepertimu? "


Wiliam menelan salivanya sendiri, gila! Dia sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Yah dia jalani hanyalah menjalin hubungan pacaran, meski gaya pacaran pemuda jaman sekarang memang terbilang bebas dan liar, tapi Wiliam juga bukan pria yang asal tidur dengan wanita begitu saja.


" Aku tidak berpikir sejauh itu, tapi membayangkan kalau kita memiliki anak perempuan, aku jadi memiliki banyak sekali rencana-rencana untuk melindungi anak kita dari predator ganas yang tidak tahu diri, tidak tahu malu. " Wiliam menegakkan tubuhnya dengan wajah serius. Yah, sepertinya dia sendiri tidak rela kalau putrinya akan bertemu pria yang seperti dirinya.


Moza terdiam, memiliki anak perempuan? Moza tersenyum tipis. Entah dia akan di berikan anak atau tidak oleh Tuhan, tapi membayangkan memiliki anak sendiri memang menyenangkan.


" Iya, lebih cepat lebih baik. Kau temani aku ya? "


" Takut apa? kau tidak berani menghadapi kenyataan ya? "


" Bukan. "


" Terus? "


" Takut begitu dia melihatku, dia akan merasa tergoda lalu menyergapku. Aku bukannya tidak punya harga diri, Moza. Aku hanya tidak memilki iman yang tebal jadi mudah goyah dan tergoda. Jadi penting sekali ada kau di sana. "


Moza menggeleng heran juga sebal.


***


" Nara, kalau kau seperti ini terus kapan aku selesai dengan pekerjaan ku? " Protes Nara yang terus memeluk Mario dari belakang dan menciumi belakang lehernya.


" Kan kau bisa terus bekerja, bukannya kau adalah orang yang serius dan tidak mudah kehilangan konsentrasi? " Nara tersenyum tapi tak melepaskan pelukannya. Jujur saja, setelah hari mereka berbaikan rasanya sulit sekali bagi Nara untuk tidak menempel seperti ini. Aroma tubuh Mario benar-benar seperti sesuatu yang tidak bisa di jelaskan, dia begitu kecanduan. Kemarin dia diam di rumah saja, dan Nara benar-benar menjadi sangat gelisah. Hari ini dia sukses memohon kepada Mario untuk di ajak ke kantor.


" Tuan, ada tamu untuk anda. "


Mario mengangguk, lalu meminta satpam yang berjaga di depan pintu ruangannya mempersilahkan saja tamunya masuk. Sementara Nara, dia masih saja memeluk Mario dari belakang membuat si satpam tadi sempat terlihat kaget melihat Nara yang begitu menempel kepada Mario.


" Selamat pagi, CEO Mario? "


Mario dan Nara terdiam menatap tamu yang di maksud satpam tadi. Luna, dia adalah tamu yang sekarang sudah berada di dalam ruangan, dan dia juga menyaksikan betapa menempelnya Nara kepada Mario.


" Maaf menganggu, karena sudah di persilahkan masuk makanya saya masuk. "


Nara yang sempat membeku karena terkejut segera memperbaiki ekspresinya. Tentu saja dia tahu benar siapa wanita yang masuk ke ruangan Mario. Sementara Mario, dia benar-benar heran dan bingung bagiamana bisa Luna masuk ke ruangannya? Jelas sih bukan tentang urusan pribadi pastinya.


Nara menjauhkan tubuhnya dari Mario, karena dia tahu benar pasti akan ada pembicaraan di antara mereka nantinya.


" Jadi, urusan apa yang membawamu kemari? " Tanya Mario setelah mereka sudah berada di sofa khusus untuk menerima tamu. Sementara Nara duduk di kursi Mario sembari memainkan ponselnya.


" Tolong lihat dokumen pengajuan kerja sama ini, aku sudah memeriksanya beberapa kali, aku yakin kau pasti akan sangat tertarik. "


" Tertarik? Memangnya kau berani? " Ucap Nara menoleh ke arah Mario.


" Dokumen, bukan yang lain. " Mario mengangkat dokumen itu dan menunjukannya kepada Nara.


" Oh, yang lainnya sih aku yakin deh tidak ada yang berani melakukanya. Soalnya, aku bisa jadi dua tokoh, pertama mnejadi tokoh malaikat, kedua menjadi tokoh iblis yang sempurna. "


Bersambung.