
" Aw.....! " Pekik Nara sembari memegangi pinggangnya, padahal beberapa saat lalu pinggangnya seperti mati rasa dan kebas, tapi sialnya sekarang justru seperti seratus kali lipat lebih sakit dari pada sebelumnya.
Mario, dengan tidak bertanggung jawab dia bergegas pergi setelah selesai dengan urusannya, ditambah lagi dia mendapatkan telepon untuk segera datang ke kantor karena ada beberapa kendala di sana yang membutuhkan untuk Mario segera datang. Nampak berisi makanan dan minuman juga sudah ada di kamarnya, yah setidaknya ini lebih baik karena Nara benar-benar tidak sanggup berjalan lagi sekarang.
" Apa-apaan ini? " Gumam Nara keheranan dan matanya juga menatap tidak percaya saat kedua kakinya sudah menapak di lantai. Ternyata pantulan cermin menunjukan betapa kacaunya Nara sekarang ini yang tengah berdiri membungkuk dengan satu tangan memegangi pinggangnya. Dia menatap kedua kakinya yang gemetar hebat dan pasti akan sulit baginya untuk berjalan, dan tunggu! Nara menaikkan pandangan lalu melihat ke arah cermin dan memperhatikan bagaimana tubuhnya di buat seperti macan tutul oleh Mario.
" Si brengsek tidak berperasaan, kalaupun ingin menunjukkan betapa hebatnya staminamu harusnya tidak usah sampai begini kan? Benar-benar salah sudah memprovokasi Mario, hah! Tapi mau bagaimana lagi memang begitulah cara membuat dia mau melakukan ewita denganku. Aduh, sudah deh semoga saja aku cepat hamil karena aku benar-benar tidak tahan kalau begini setiap hari. Duh, bisa-bisa kaki lepas dari tubuhku kalau begini, atau kalau tidak anu ku bisa encok nantinya. " Gerutu Nara sembari merasakan betapa remuk tubuhnya hari ini.
Sementara Mario, pria itu benar-benar kehilangan banyak tenaga juga hari ini, dia bahkan sampai ketiduran saat rapat tadi membuat semua anggota yang ikut rapat kebingungan sendiri, dan pada akhirnya ini menjadi tugas pemimpin rapat untuk kembali menjelaskan secara langsung kepada Mario saat Mario sudah dalam keadaan lebih baik.
" Sialan! Aku benar-benar kelelahan sampai tidak konsentrasi sama sekali hari ini. " Gumam Mario setelah membasuh wajahnya untuk mengusir rasa kantuk yang ia rasakan. Iya memang sih dia lelah seharusnya tubuhnya letih dan pegal, tapi anehnya kalau di tubuh Mario malah akan membuatnya seperti kurang tidur saja.
Setelah kembali dari toilet, Mario mengerjakan pekerjaannya yang belum rampung itu dengan seksama. Bagaimanapun pekerjaan masih yang utamanya baginya, jadi penting sekali agar bisa segera menghilangkan perasaan yang mengganggu sebelum mulai bekerja.
***
Moza dan juga Wiliam baru saja kembali dari mengunjungi orang tua Wiliam. Lagi, mereka juga tak lain seperti Ariel yang terus membahas tentang cucu. Padahal jangankan cucu, tidur bersama saja mereka bertingkah seperti manekin yang kaku dan tidak bergerak sama sekali.
Moza mengangkat satu kakinya dan meletakkan di satu lagi kakinya, dia membuang nafasnya dan memijat pelipis karena kepalanya benar-benar terasa sangat pusing. Sebenarnya dia benar-benar tidak rela kalau harus di sentuh oleh pria seperti Wiliam, tapi mau bagaimana lagi karena Wiliam adalah suaminya, dan Ayahnya juga begitu menegaskan untuk Moza jangan merendahkan Wiliam, tetap menghormatinya dan jangan lupa untuk tetap menjalankan keras dan tugas istri dengan ikhlas dan tulus sepenuh hati.
Wiliam, pria itu juga sama-sama merasa bimbang. Bagaimanapun dia tidak berani menolak keinginan kedua orang tuanya karena orang tuanya bisa saja membawanya ke kantor polisi kalau sampai dia menolak permintaan untuk segera melahirkan cucu untuk mereka.
" Bagaimana menurutmu? " Tanya Wiliam setelah cukup lama dia berpikir sendirian yang tentu saja tidak akan mendapatkan jalan keluarnya.
Moza membuang nafasnya lagi, dia terdiam sebentar membuat Mario sebal karena rupanya Moza terlalu banyak memiliki aura hingga membuatnya iri. Padahal hanya duduk saja, tapi Moza benar-benar terlihat sangat keren.
" Mau bagaimana lagi? Memangnya aku bisa mengatakan tidak kepada orang tuamu? Kalaupun ingin mengatakan hal yang sebenarnya, aku tidak begitu bodoh karena konsekuensinya jelas tidaklah mudah untuk kita berdua. "
" Jadi bagiamana kita harus memiliki anak untuk memberikan cucu kepada mereka? "
Moza melirik menatap Wiliam dengan tatapan sebal.
" Jangan sok polos, kau tahu bena bagaimana prosesnya semakin harus ada anak kan? Sebenarnya aku benar-benar masih tidak rela karena mau tidak mau harus menyerahkan tubuhku di sentuh oleh pria yang bahkan tidak tahu caranya menghargai wanita. "
Wiliam terdiam sebentar.
" Maksudmu, aku menganggap wanita rendahan? "
Mario berdecih sebal.
" Jangan asal tuduh begitu juga dong, wanita itu sendiri yang datang padaku seperti tidak memperdulikan harga dirinya. Lagi pula mereka adalah wanita yang menggilai uang jadi untuk apa menghargai wanita yang seperti itu? Masa iya kucing di beri ikan asin tidak mau. "
" Aku punya kucing, tapi dia tidak makan ikan asin. Kau tahu kenapa? Karena dia tahu makanan mana yang sehat dan enak jadi dia sama sekali tidak tergoda saat melihat ikan asin. "
Mario langsung terdiam karena tertampar oleh ucapan Moza barusan, dan mengakhiri pembahasan tentang itu sepertinya akan lebih baik untuk mereka sekarang ini.
" Jadi, bagaimana kalau kita latihan saja? "
Moza mengeryit menatap Wiliam.
" Latihan apa? "
" Latihan buat anak lah. "
Moza membuang nafas kasarnya.
" Aku tiba-tiba ragu dengan cairan milikmu, aku takutnya cairan itu sudah tidak bagus lagi karena terlalu sering di keluarkan.
" Coba saja dulu, baru kasih aku pendapat. " Ujar Wiliam yang sebenarnya kesal luar biasa mendengar kalimat menyebalkan dari mulut Moza.
***
Mike, pria itu benar-benar di uji kesabarannya oleh situasi. Beberapa waktu lalu harus menahan diri karena Lope datang bulan, belum alasan ini dan itu, segala harus juga kakaknya tunangan, dan sekarang malah harus bersabar lagi karena keponakan Lope malah begitu menemoel padanya sampai tidak mau pulang ke rumah mereka dan ikut dengan Mike juga Lope ke apartemen mereka.
" Lope, sebenarnya kapan sih keponakanmu ini akan pulang kerumahnya? " Tanya Mike dengan mimik frustasinya.
Lope menatap Mike sebentar dan tersenyum. Tentu saja dia tahu apa niat Mike itu, tapi dia benar-benar belum bisa mewujudkan niat itu karena ada beberapa hal yang harus di persiapkan, terutama hati dan mentalnya. Benar, melayani suami di atas tempat tidur juga adalah satu hal yang wajib untuk dikerjakan oleh seorang istri. Tapi, salahkah jika dia membutuhkan waktu itu untuk bersiap secara maksimal?
" Sabar ya? Anggap saja kau memang harus lebih melatih kesabaran dulu. "
" Hah..... Melatih kesabaran apanya?! Aku malah takut kalau cairanku nanti sudah sangat mengental sampai keras dan membeku karena tidak juga di gunakan. Lubangmu juga di anggurkan saja nanti malah di huni oleh makhluk halus loh. "
Bersambung.