Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 35



Ibu Maria tersenyum semakin manis dan terlihat memikat, sementara tiga orang yang tak lain adalah Ibu tiri, juga Sephora ternganga tidak percaya jika melihat Ibu Maria berdiri dengan cantik di hadapan mereka. Tuan Diro, pria itu juga nampak terkejut dengan mata membesar, dia tidak bisa berbicara atau bahkan membuka mulut karena sangat terkejut dengan Ibu Maria yang berdiri di hadapannya dengan senyum indah yang jelas menunjukkan bahwa dia baik-baik saja dan sudah bebas dari penjara tentunya.


Ibu tiri memegangi dadanya yang terasa berdenyut sakit saat menyadari jika sosok Maria yang berdiri di hadapannya dengan wajah tersenyum adalah nyata. Sephora juga merasakan keterkejutan yang sama, tapi melihat Ibunya memegangi dada, dia segera menahan tubuh Ibunya karena takut kalau Ibunya akan terjatuh nanti.


" Maria, kau, kenapa kau ada disini?! " Tanya Ibu tiri dengan tatapan marah karena tak terima jika Maria sudah keluar dari penjara, tentu saja yang di harapkan adalah Ibu Maria dipenjara seumur hidupnya.


Tuan Diro tak mengatakan apapun, dia hanya menatap dengan tatapan rindu dan itu bisa Ariel lihat dengan jelas. Kenapa? Padahal bukannya Ibunya tidak berarti sama sekali untuknya? Apakah tatapan itu hanya pura-pura saja? Ini adalah tatapan yang hampir tak pernah Ariel lihat sebelumnya dari sang Ayah, entahlah! Benar itu hanya pura-pura atau ada maksud di balik nya, masa bodoh saja karena dia juga tidak mau lagi repot-repot memikirkan tiga orang brengsek termasuk anak dan istri pria itu.


" Aku keluar dari penjara karena memang aku tidak pantas di penjara. Aku sudah berkorban sepuluh tahun, jadi aku rasa sudah tidak perlu lagi berkorban. Ngomong-ngomong kalian kelihatannya tidak senang ya bertemu dengan ku? Ada apa? Kalian sedih aku sudah keluar dari penjara? " Ibu Maria tersenyum begitu juga dengan Ariel.


" Bukan begitu, Bibi. Coba saja Bibi pikirkan, mantan istri mendatangi mantan suaminya dan juga keluarga barunya itu kan sangat tidak sedap di lihat. Kalau bukan memiliki maksud, memang apa lagi? " Ujar Sephora yang jelas ingin membela Ibunya, dan ingin mempertahankan hubungan Ayah dan Ibunya.


" Sephora, mulut dan sikapmu ternyata sangat mirip dengan Ibumu ya? " Ibu Maria tersenyum karena tak mungkin juga memojokkan Sephora terus menerus di saat Sephora tak berani membantah.


" Mau apa kau datang kesini? " Ibu tiri dengan tegas bertanya, tapi meksipun begitu sorot matanya juga terlihat ketakutan.


Ibu maria menghela nafas, lalu berjalan mendekati tempat duduk, lalu menepuk ruang disebelahnya untuk Ariel duduk di sana.


" Sayang, duduk di sini! " Pinta Ibu Maria dengan mimik lembutnya.


" Kami tidak mempersilahkan kalian duduk! " Kesal Sephora.


" Ini adalah Sofa yang aku beli beberapa hari sebelum aku dijemput paksa dan tiba-tiba dipenjara. Bukankah aku yang memiliki hak penuh siapa yang boleh duduk di sofa ini? " Ibu Maria tersenyum melihat wajah Sephora dan Ibu tiri yang nampak tercekat tak bisa bicara lagi. Ibu Maria menoleh ke kanan dan ke kiri melihat perabotan di ruangan itu.


" Ternyata hampir semua barang perabotan disini adalah milikku ya? Apakah kalian begitu tidak suka membeli barang untuk mengganti barang yang sudah sepuluh tahun ini? Ah, apakah kalian sangat menyukai berhemat? "


Ibu tiri menoleh ke arah Tuan Diro yang masih tak bicara sepatah katapun. Sebenarnya barang di rumah itu tidak di izinkan untuk diganti oleh Tuan Diro dengan alasan menghemat uang, tapi sekarang Ibu tiri paham sekali alasan utamanya barang di rumah itu tetap di pakai kalau benar-benar belum rusak parah.


" Duduklah, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua. " Ucap Ibu Maria, dan lagi-lagi dia hanya bisa tersenyum menutupi perasaan marah yang menggebu di dalam hatinya.


Ketiga orang itu duduk persisi berseberangan meja dengan Ariel dan Ibu Maria.


Ibu tiri melotot kesal, sementara Sephora menjadi sangat marah hingga hampir saja dia mengebrak meja. Tuan Diro, pria itu seperti kehilangan daya dan memilih untuk banyak diam sampai dia benar-benar dibutuhkan untuk bicara.


" Jangan gila kau, Maria! Memang apa yang kami curi darimu?! Sudah gila kau ya?! Semuanya sudah kami berikan kepada Ariel! " Ujar Ibu tiri kesal hingga menggebu-gebu saat bicara.


" Apa yang kau curi tentu saja kau yang lebih tahu kan? " Ibu Maria tersenyum miring dengan tatapan yang jelas bisa dirasakan oleh Ibu tiri bahwa itu adalah tatapan mengancam karena dia bisa merasakannya.


" Tidak, Jangan asal tuduh saja! Aku bukan pencuri, Ayahku itu adalah wakil Presdir, jadi mana mungkin aku mencuri?! " Ujar Ibu tiri semakin semangat berbicara dengan intonasi yang semakin tinggi.


Ibu Maria melipat kedua lengannya dan ia letakan di depan dadanya, dia tersenyum, tapi lagi-lagi tatapannya sangat terlihat mengancam.


" Kau Adah anak dari wakil Presdir, sementara aku adalah manager keuangan, iya kan? "


Ibu tiri menelan salivanya, begitu juga dengan Sephora karena meksipun tidak tahu detailnya, dia tahu cerita yang sebenarnya.


" Dengar, kau dan suamimu, serta anakmu telah menggunakan uang putriku yang diberikan oleh orang tuaku, kalian juga membuatnya tidak hidup layak selama ini, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku rebut kembali apa saja yang menjadi milik putriku. Tapi sekarang ini aku akan mulai dari status Ayahmu sebagai wakil Presdir, dan aku sebagai manager keuangan. Kau tahu artinya apa kan? "


Ibu tiri menelan kembali salivanya, dia mengepal menahan banyak hal yang ada di dalam hatinya. Tentu saja maksud dari ucapan Ibu Maria tadi adalah mencari tahu apa yang terjadi tahun itu sehingga dia dinyatakan bersalah, dan bukti mengarah kepadanya hampir semua dengan jelas tertuju kepadanya seorang. Mengatakan Ayahnya sebagai wakil Presdir, itu artinya Ibu Maria mengetahui kalau wakil Presdir juga memiliki keterkaitan dengan masalah itu.


" Dasar gila! Jelas-jelas kau adalah seorang koruptor! Yang bisa melakukan tindakan korupsi kan hanya kau seorang yang saat itu menjabat sebagai manager keuangan! Kalau kau tidak korupsi, mana mungkin kau akan di penjara? Dasar bodoh! "


Ibu Maria tak terpancing emosi, justru dia tersenyum dan kembali menatap Ibu tiri dengan berani.


" Jangan lupa, kau lah yang paling tahu bagaimana Ayahmu kan? Aku juga tahu tapi karena kau pernah menyelamatkan hidupku sekali, aku menutup mata saja, tapi aku juga sudah menyimpan bukti itu karena aku pikir suatu hari pasti aku akan membutuhkannya. "


Ibu tiri memegangi dadanya lagi karena nafasnya mulai sesak.


" Aku sudah mengorbankan sepuluh tahun hidupku, aku rasa itu pantas untuk membuatmu puas kan? Oh, maksud ku kalian yang puas. "


Bersambung.