Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 75



Grade, mendorong tubuh Onard dengan segera begitu bibir mereka tak sengaja menempel. Untunglah Onard jatuh ke samping Grade yang berarti di atas tempat tidur, karena kalau tidak, benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kakinya yang belum sembuh total itu. Dengan cepat Grade bangkit dari posisinya dan duduk di sofa, tempat dia tidur dan merenung selama menikah dengan Onard.


Bukan karena membenci Onard, tapi semua yang terjadi ini terlalu cepat, hingga dia sulit mencerna apa yang sebenarnya terjadi di dalam hidupnya. Memang benar Onard membencinya, mungkin bisa disebut sangat amat membencinya karena apa yang sudah dilakukan Ayahnya, tapi mau bagaimana lagi? semua kan sudah terjadi, Grade mau mengungkapkan betapa bersalahnya dia, juga mau mengatakan maaf sampai jutaan kali juga tidak akan mengubah apapun.


Onard, pria itu perlahan membenahi posisinya dengan perasaan gugup. Meksipun hanya sentuhan di bibir, nyatanya itu adalah kali pertama untuknya. Dia yang sudah mantap tidak akan menikah kini berdebar hebat karena sentuhan bibir mereka tadi, tapi karena Onard ogah mengakuinya, dia hanya menganggap jika apa yang terjadi sekarang ini dengan jantungnya pasti karena dia merasa sangat tidak terima sudah bersentuhan bibir dengan Grade. Berbanding terbalik dengan Grade, gadis itu justru tak menunjukkan ekspresi apapun selain ekspresi putus asa seperti biasa.


" Besok sidang Ayahmu akan di gelar, tapi kakek bilang padaku untuk menyampaikan padamu, kau tidak di ijinkan untuk menghadiri persidangan demi menjaga kestabilan emosimu. "


" Kalian bukan hanya sudah merenggut kebebasanku, kalian juga merenggut kesempatan untukku bertemu dengan Ayahku. " Ucap Grade masih dengan ekspresi putus asa yang tak kunjung menghilang dari wajahnya.


" Percaya diri sekali! Siapa yang begitu kurang kerjaan sampai merenggut kebebasan mu? Yang ada kami malah menyelamatkan mu dari kemiskinan, agar kau tidak terlunta-lunta di jalanan seperti gelandangan yang biasanya akan tidur di gorong-gorong. "


Grade mengepalkan tangannya menahan kemarahan.


" Untung saja aku tidak sedang ingin mecari gara-gara, karena kalau tidak, aku pasti akan meninju wajahmu sampai tak berbentuk lagi. "


" Cih! Mengangkat wajah saja kau tidak mampu, banyak gaya! Ah, maksudku banyak omong. "


Grade menatap Onard dengan tatapan kesal. Sudahlah, untuk apa juga merasa kasihan terus menerus dengan orang itu?! Grade bangkit dari duduknya, berjalan cepat menghampiri Onard yang berada di atas tempat tidur dengan posisi duduk selonjoran, lalu ingin memukul dada Onard. Untunglah tangan Onard sudah lebih dulu mencegah dengan menahan kedua tangan Grade.


" Kau benar-benar ingin membunuh ku ya?! "


" Kau yang memintanya! " Merasa terbawa emosi, mereka lahirnya bertengkar dengan saking menahan tangan, menatap kesal seolah ingin mengigit satu sama lain hingga pada akhirnya Grade terjatuh di atas tubuh Onard yang sekuat tenaga menarik tangan Grade. Cukup lama mereka saling menatap dengan jarak yang begitu dekat, netra mereka bertemu dengan intens, hembusan nafas yang hangat bisa mereka rasakan dengan jelas. Dag dig dug suara debaran jantung mereka begitu terasa bergetar menebus kulit mereka.


Grade menggelengkan kepala begitu mulai sadar kalau dia sempat terpesona dengan Onard. Dia bangkit dengan segera melihat posisi yang tidak baik di antara mereka karena jelas kaki Onard pasti tertindih kakinya. Nanti kalau terjadi sesuatu yang serius dengan kakinya, mau tidak mau Grade akan di salahkan kan?


Onard juga bangkit perlahan, dia mengatur nafasnya untuk memperbaiki debaran jantungnya yang tak biasa itu.


" Sepertinya kita memang harus jaga jarak sejauh mungkin. " Ucap Grade yang kini sudah duduk di sofa, dia menutup wajahnya dengan buku seolah sedang membaca.


" Iya, kau benar sekali! Tapi, ngomong-ngomong buku mu terbalik loh. "


Sephora mondar mandir menunggu kehadiran Ariel dan Presdir Nard yang menurutnya sangat tidak tahu malu karena berselingkuh dengan begitu terang-terangan. Ini sudah waktunya makan malam, tapi Sephora benar-benar tidak tahan menghabiskan semenit pun untuk menunggu lagi. Ah, akhirnya datang juga! Batin Sephora.


Ariel dan Presdir Nard nampak begitu mesra, Ariel mengabaikan makanan di piring Presdir Nard, makan bersama seperti pasangan kekasih mesra yang ada di film romansa. Sesekali Presdir Nard menatap Ariel, mengusap wajahnya, dan meminta agar memakan makanan yang banyak.


" Cih! Pasangan selingkuh saja seperti pasangan suami istri! Awas saja ya kau Ariel, aku tidak akan membiarkan mu bahagia lebih lama! " Gumam Sephora menatap kesal Ariel dan Leo dari kejauhan. Dia yang begitu teracuni oleh emosi dari kecemburuan sampai tak sadar jika dia kini sedang mengigit kain lap dengan perasaan gemas.


" Puih! " Sephora membuang ludahnya, menepis kotoran-kotoran yang tertinggal di mulutnya karena cukup lama menggigit kain lap tadi.


Segera setelah itu, Sephora membenahi penampilannya. Dia mengurai rambutnya yang tadi di ikat tinggi-tinggi untuk mempermudah saat mengerjakan pekerjaannya. Dia menarik kain baju di bagian ketiaknya, lalu mengendusnya memastikan tidak ada bau yang aneh atau tidak sedap dari sana, membersihkan barisan giginya karena takut kalau ada sisa makanan yang tertinggal. Barulah setelah itu dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas perlahan. Sungguh dia ingin rencananya berhasil, jadi semua harus serba totalitas kan?


Sephora menampilkan senyum yang menurut dia paling menawan yang dia miliki. Dengan raut wajah sok perhatian dan patuh, Sephora berjalan mendekati meja makan.


" Maaf, apa ada makanan yang sudah dingin dan perlu di hangatkan? "


Ariel menaikkan sisi bibirnya melihat senyum menawan tapi terlihat sialan itu dari wajah Sephora. Sungguh tidak bisa berkata-kata kalau mengenai Sephora yang sedari dulu menyandang predikat tidak tahu malu.


" Yang perlu dipanaskan itu bukan makanan, tapi wajahmu yang seperti bubur basi. " Ujar Ariel yang tak bis menghilangkan kekesalannya. Tahu, dia sungguh tahu kalau senyum manis dan menawan itu sebenarnya digunakan untuk menggoda Leo. Yah tidak tergoda ya syukur, kalau tergoda berarti Leo juga sampah yang tidak pantas untuk di pertahankan.


Sephora terdiam sebentar menahan kesal.


" Ariel, kita itu kan kakak adik. Apakah aku harus terus bekerja di rumah ini dari pagi sampai malam tanpa libur? Aku juga manusia yang bisa merasakan lelah. " Sephora berpura-pura terlihat sedih, dia sengaja mengatakan itu maksudnya adalah agar Presdir Nard merasa kasihan kepadanya dan mengetahui jika Ariel bukanlah wanita yang baik karena sudah menyiksa saudarinya sendiri.


" Otak mu jatuh di jalan ya? Siapa yang punya banyak waktu luang sehingga sudi jadi saudari mu? " Kesal Ariel semakin tak terbendung.


" Ariel, iya aku salah karena sudah datang kesini dan merusak suasana. Aku hanya sangat tidak tahan lapar sehingga berasalan ingin memanaskan makanan. " Sephora tersenyum tipis sembari menatap Ariel yang terperangah tak percaya. Iya, dia yakin kalau cara ini pasti akan sangat membuat Ariel buruk di mata Presdir Nard.


" Sayang, disini sudah tidak membuatku nyaman karena bau kucing jalanan sangat menusuk hidung. " Ucap Leo.


Bersambung.