
Berbeda dari nasib bahagia yang tengah di rasakan Ariel dan yang lainya, Bram yang beberapa waktu lalu begitu sombong tak tertolong kini hanya bisa diam seperti manusia tak berguna. Semenjak hari dimana dia bertemu Ariel, grade, dan juga Sephora terakhir kali, tiga pria hebat itu gencar menyerang keluarganya tak henti bahkan sampai sekarang ini. Memang benar mereka tidak membuat keluarganya bangkrut, tapi Ayahnya benar-benar tidak pernah terlihat marah seperti sekarang ini.
Bram bisa melihat dengan jelas bagaimana perusahaan Ayahnya selalu mendapat guncangan hebat, mulai dari karyawan yang berulah, kemudian klien, ada juga para investor yang tadinya baik-baik saja menjadi ingin mengakhiri kerja sama, dan masih banyak hal lainnya yang membuat Ayahnya Bram, beserta anggotanya hampir tak memiliki waktu istirahat.
Paham, Bram benar-benar paham ancaman yang bisa di bilang gila ini bukanlah apa-apa bagi mereka, meksipun ini begitu menyesakkan untuknya, apa yang terjadi sungguh membuatnya trauma. Mungkin, hanya dengan melihat tiga wanita yang tak lain adalah Grade, Seorang dan Ariel dia akan langsung berdegup kencang dan kabur dalam hitungan detik.
Ayahnya memang sedari awal meragukan Bram karena kemampuannya jauh dari pada cukup untuk memimpin perusahaan, sekarang kesempatan yang amat kecil itu sudah jelas tidak bisa dia dapatkan, dan Ayahnya mantap memilih anak perempuannya untuk meneruskan usaha, bahkan sudah mulai mengikuti les agar bisa mempersiapkan diri dengan baik nantinya.
Bram, pria itu sekarang seperti orang tak berguna yang hanya bisa bangun tidur, makan dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya karena kartu debit, juga kredit sudah tak lagi dia miliki. Sekarang jangankan mentraktir wanita seperti biasanya, makan saja Ayahnya memberikan batasan. Benar-benar sial karena harus menderita gara-gara tiga wanita gila itu, tapi ingin membalas dendam juga tidak akan mungkin bisa. Kalaupun memang ada kesempatan, yang ada balasan dari perbuatannya nanti akan jauh lebih menyakitkan dari pada yang ia lakukan.
***
Ibu tiri, wanita itu benar-benar tak pernah sekalipun terlihat tersenyum begitu masuk ke dalam penjara. Hatinya sekarang penuh dendam kepada Ibu Maria, tapi bisa apa dia kalau tubuhnya saja di kerangkeng oleh kandang besi? Sekarang dia hanya bisa berdoa agar putrinya baik-baik saja dan tidak di jahati di luar sana. Akhirnya, dia benar-benar merasakan apa yang di rasakan Ibu Maria selama di dalam penjara. Pikirannya begitu mumet, juga gelisah memikirkan nasib putrinya, setiap waktu hanya bisa ketakutan karena bermimpi putrinya dalam bahaya.
Ini adalah hukuman dari apa yang sudah ia lakukan, ingin terus mendendam pun juga hanya akan membuat jiwa tidak sehat karena terlalu banyak diracuni kebencian. Sekarang mau tak mau dia harus berusaha rela, dan terus saja berdoa agar putrinya baik-baik saja.
***
Ariel tersenyum melihat putranya Mario dan Leo tidur di ranjang yang sama. Rasanya benar-benar seperti mimpi karena sekarang dia punya anak, juga punya suami yang baik dan pengertian sekali.
" Kau pasti terpesona sekali dengan wajah alami berdua ya? "
Ariel terperanjak kaget, ternyata Leo menyadari jika sedang di tatap terus menerus? Ah, bukanya dia sudah tidur ya?
Leo bangkit perlahan karena takut kalau Mario akan bangun dan membuat Ariel begadang nantinya.
" Apa yang kau pikirkan dengan menatap kami berdua? " Tanya Leo lalu tersenyum dengan begitu lembut.
" Tidak ada, hanya tidak ada yang lain yang bisa di lihat selain kalian berdua. "
Leo terkekeh, memang tidak mungkin kalau mengharapkan istrinya untuk berbicara lemah lembut seperti kebanyakan istri lainnya. Tapi apapun itu Ariel tetaplah yang terbaik untuknya, karena hanya Ariel yang mampu menggoyahkan hati seorang Leonardo.
Leo meraih tangan Ariel, menggenggamnya erat dan menatap dengan serius.
" Terimakasih ya sudah melahirkan anak kita dengan selamat, terimakasih karena kau juga selamat dan sehat seperti sekarang. Aku sudah lama ingin mengatakan ini tapi tidak tahu suasana seperti apa yang tepat ketika mengungkapkannya. Kedepannya aku akan lebih baik lagi dalam bersikap untuk membalas kebahagiaan yang kau berikan kepada ku. "
Ariel perlahan tersenyum, sebenarnya dia begitu tersentuh dan sudah mencoba untuk tidak tersenyum, tapi itu sungguh sulit!
" Asal kau tidak berselingkuh, aku tidak akan keberatan dengan yang lainnya. "
Leo memeluk Ariel dengan perasaan bahagia.
" Empat puluh hari belum selesai juga ya? "
Leo terkekeh sendiri mengabaikan Ariel yang memukul punggungnya dengan kesal.
***
Daniel dan Spehora menikmati peran mereka sebagai orang tua baru dari Mike. Awalnya Ibunya Daniel masih enggan memperlihatkan perhatiannya, tapi begitu melihat wajah Mike yang begitu lucu dan menggemaskan, dia tidak bisa menahan lagi dan hampir setiap waktu Ibunya Daniel akan datang ke kamar Sephora dan Daniel untuk melihat keadaan cucu pertamanya itu.
Sebenarnya kalau boleh jujur Daniel agak terganggu karena Ibunya membuat Sephora terus terbangun, tapi karena Sephora mengatakan untuk jangan mempermasalahkan hal itu, dia hanya bisa mengikuti saja apa yang di katakan Sephora. Selama hubungan Ibunya dan Sephora baik, Daniel benar-benar tidak akan mempermasalahkan hal itu.
***
Grade berjalan sembari mengenakan lingerie hitam yang begitu menggoda. Dia melenggak-lenggok kan tubuhnya untuk menari perhatian Onard yang sedang mengusap kepala Wilson agar dia tertidur nyenyak.
" Sayang... " Panggil Grade dengan nada yang begitu menggoda. Bohong sekali kalau Onard tidak tergoda, hanya saja bayangan saat melihat seorang bayi lahir dari jalannya secara normal membuat dia masih merasakan takut.
" Grade, kau tahu ini belum empat puluh hari kan? "
" Ck! Ini memang bum empat puluh hari, tapi ini sudah satu bulan lebih dua hari, aku sudah satu Minggu tida berdarah, jadi kita bisa itu kan? "
" Grade, lebih baik nanti dulu saja, kau tahu betapa sakitnya melahirkan kan? "
" Tahu, tapi aku tidak masalah merasakan yang namanya melahirkan lagi. "
" Grade, lebih baik kita- Em! Grade! " Onard tak bisa melanjutkan ucapannya saat Grade yang sudah tidak sabar menyergap bibirnya dengan buas.
Beberapa saat kemudian.
Onard terdiam dengan dirinya yang serba acak-acakan. Benar-benar terencana selain Grade dalam hal ini, tubuhnya penuh sekali dengan lipstik warna merah yang tadi di kenakan Grade, rambutnya acak-acakan dengan parah.
" Sayang, apa ada yang berubah selain aku bisa menghasilkan ASI? "
Onard menoleh menatap Grade yang berbaring miring dengan pose menggoda, tubuhnya juga dia biarkan saja tanpa busana Meksi tahu suhu kamar mereka lumayan rendah.
" Ada. "
" Benarkah? Apa karena pinggangku yang melebar? Perutku masih agak gendut ya? Katakan apa! "
" Kau, kau yang semakin buas. "
Bersambung.