
Setelah merasa begitu terpojok oleh Nara, Mario dengan segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan cepat, bahkan sampai berlari saat dia menyadari kalau Nara juga mengejarnya. Cepat-cepat dia menuju parkiran, masuk ke dalam mobilnya dan bergegas menjauh dari tempat itu. Benar-benar bukan hal baik berada di tempat itu, Selain banyak wanita aneh, disana terlalu bebas sehingga orang bisa sembarangan saja bertingkah.
Satu jam lebih dia berada di perjalan menuju rumah orang tuanya, dan akhirnya dia sudah sampai dengan selamat luar dalam. Sebentar Mario menatap mimik wajahnya, karena Ayahnya sangat tidak suka kalau ada yang masuk ke dalam rumahnya dengan mimik kesal, atau tida ceria.
" Selamat malam? " Sapa pelayan yang membukakan pintu, Mario sebentar tersenyum seperti biasanya lalu melanjutkan langkah kakinya menuju kamar di mana dia tidur. Sayang sekali Ibunya malah sudah menghadang di depan pintu dengan tatapan marah entah kenapa.
Tak ingin banyak berpikir karena Ibunya juga sering kesal dengan Ayahnya, jadi dia berpikir kalau pasti kali ini juga karena ulah Ayahnya.
" Selamat malam, Ibu? " Sapa Mario sebisa mungkin dia tersenyum kepada Ibunya.
" Kau sangat suka pergi keluar rumah, tapi tidak juga membawa menantu, kau mau menunggu Ibumu sekarat baru akan menikah ya?! "
Mario menelan salivanya sendiri, pembahasan soal ini sebenarnya sudah beberapa kali memang di singgung oleh Ibunya yaitu, Marile atau orang akan memanggilnya Ariel, Nyonya Ariel. Mario pikir itu hanyalah ledekan saja tidak memiliki unsur keseriusan sama sekali, jadi dia masih santai saja setiap kali Ibunya membahas atau juga menceritakan tentang tetangga atau kenalannya yang sudah memiliki menantu dan cucu.
" Ibu, menantu yang seperti apa Ibu mau? Juga mau berapa? Satu? Dua? Tiga? Atau empat? "
" Dasar sinting! Satu saja kau masih tidak sanggup, apalagi banyak! Dengar ya, kau ini sudah dua puluh lima tahun, jangan sampai kau telat menikah! "
Mario menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Telat menikah? Usianya saja baru dua puluh lima tahun, dia juga baru saja di nobatkan sebagai CEO muda dan harus banyak belajar untuk menempatkan diri dengan baik agar bisa menjalankan sebuah perusahaan besar yang memiliki banyak pegawai menggantungkan nasib mereka di sana.
" Ibu, menikah bukan hanya sekedar menikah saja kan? Aku harus bertemu dengan wanita yang tepat dulu baru perlahan beranjak ke arah pernikahan setelah kami berdua sama-sama yakin. "
Ariel menghela nafas sebalnya. Sejujurnya dia benar-benar merasa sangat ingin menggendong cucu seperti kebanyakan kenalan dan temannya. Tapi Mario justru terlihat begitu menolak sehingga sulit juga untuk Ariel untuk terus memaksa dengan caranya.
" Ibu, nikahkan saja dia dengan Lily. Sepertinya mereka akan cocok deh. " Ucap Lukas, dia adalah adiknya Mario, anak kedua dari Ariel dan juga Leo. Dia begitu terlihat bahagia saat kakaknya lagi-lagi di tekan untuk segera menikah, bagaimanapun kakaknya memang orang yang menyebalkan jadi melihat dia tertindas adalah hal yang menyenangkan.
" Kau juga! Hanya tahu memanasi Ibumu saja, usiamu juga sudah dua puluh tiga tahun sudah bisa juga menikah. Kau juga harus memikirkan soal pernikahan! " Ucap Ariel kepada Lukas yang kini kehilangan senyum bahagianya.
" Aku masih terlalu unyu untuk menikah, Ibu. " Lukas menatap ngeri Ibunya.
" Cih mengherankan sekali, jangan-jangan cucung kalian tidak berfungsi dengan baik sehingga kalian takut menikah ya?! " Kesal Ariel lalu beranjak dari sana, Leo yang sedari tadi melihat apa yang terjadi juga hanya bisa menghela nafas. Dia tahu benar betapa irinya dia kepada temannya karena mereka selalu menceritakan tentang pengalaman bersama menantu, juga sebagian dengan cucu.
" Kalian cepatlah menikah agar Ibu kalian tidak terus kesal seperti itu. " Ucap Leo menimpali lalu segera menyusul istrinya.
Lukas dan Mario ternganga keheranan.
" Kadang ada masanya aku sedih menjadi anak mereka. " Gumam Lukas sembari menatap punggung Ayahnya yang semakin menjauh untuk menyusul Ibunya.
" Rasakan, kau sangat suka melihatku di tekan oleh Ayah dan Ibu kan? Sekarang nikmatilah kegundahan dan rasa serba salah yang selama ini aku rasakan. " Ucap Mario kepada Lukas dengan tatapan dingin menekan.
***
" Kau masih saja bermain wanita, hah?! "
Wiliam terdiam tak berani menjawab karena marah Ayahnya benar-benar sangat menakutkan.
" Hanya ngobrol saja tidak lebih, Ayah. "
" Tidak lebih tapi kau membawa bau parfum wanita sampai ke rumah? Apa kalian mengobrol sembari main semprot-semprotan parfum? " Onard menatap semakin tajam karena tahu benar apa yang sebenarnya dilakukan oleh putranya.
Bukan semprot-semprotan parfum, tapi semprot yang lain.
" Kau pasti sedang membatin dengan kata-kata mesum kan?! "
Wiliam memaksakan senyumnya, ah benar-benar sulit sekali membohongi Ayahnya. Kalau sudah di rumah seperti sekarang ini benar-benar membuatnya tidak tahu harus meminta bantuan dengan siapa, yah maklum saja karena dia punya empat adik, jadi Ibunya sibuk dengan anak-anak yang masih kecil di banding dia yang sudah besar.
" Ayah benar-benar tidak habis pikir denganmu, Wiliam. Sebenarnya dari mana sifat mesummu berasal?! "
Wiliam melipat bibirnya ke dalam menahan diri agar tidak keceplosan.
Duh, ya tentu saja istrimu yang tidak lain adalah wanita yang sudah melahirkan ku.
***
Mike kini tengah duduk di teras rumah dengan perasaan sedih dan sebal menjadi satu. Dia sengaja tidak di bukakan pintu karena orang tuanya merasa kesal padanya. Sephora dan Daniel sebenarnya benar-benar mendidik Mike agar menjadi pria yang mandiri dan bertanggung jawab, tapi anehnya sifat pria itu menyimpang dan menjadi pecinta wanita hingga bukan sekali dua kali ketahuan menghamburkan uang untuk wanita.
Bukan masalah sih sebenarnya asalkan dia mampu, hanya saja Daniel merasa jika akan lebih baik kalau uang itu digunakan untuk menyenangkan wanita yang tepat di banding hampir semua wanita tapi mereka semua adalah wanita murahan yang hanya menginginkan uang saja.
" Ayah, Ibu, aku janji tidak akan mengulangi lagi deh apa yang aku lakukan hari ini. " Ucap Mike sembari menyenderkan kepalanya di pintu dengan wajah sedih.
Di dalam kamar.
" Sebenarnya aku tidak tega dengan Mike, tapi anak itu benar-benar keterlaluan. " Daniel mengusap kepalanya dengan kasar membuat Sephora mau tak mau harus menenangkannya karena beberapa waktu terakhir ini tekanan darah Daniel lumayan tinggi.
" Sudahlah, nanti biar aku bicara dengannya. Kalau masih sulit juga aku berencana akan menikahkan dia dengan anak dari teman lama ku. "
" Iya, menikahkan dia dengan seseorang sepertinya adalah pilihan tepat. "
Bersambung.