Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 29



Ariel menatap bingung mendengar pertanyaan dari Presdir Nard. Sungguh apakah berita memang secepat itu disebarkan oleh Arumi? Hah! dasar memang benar-benar mulut rombeng bobrok! Bisa-bisanya menyebarkan berita ini kepada Presdir Nard secara langsung. Oh, apakah ini karena dia ingin Presdir Nard menjauhiku? Aduh, sayang sekali ini hanya kehamilan fiktif.


Ariel tersenyum, lalu berpura-pura memasang wajah lemas.


" Huek! " Ariel menutup mulutnya seolah dia benar-benar sangat mual.


Presdir Nard mengeryit, bukan merasa kasihan dengan Ibu hamil yang katanya akan mengalami mual, tapi dia sangat kasihan karena akting mual Ariel benar-benar sangat payah. Heh! Kucing mabuk saja bisa sangat tahu kalau dia sedang berbohong.


" Ah, kalau kau sedang mual, kau boleh kok cepat duduk. " Ujar Pesisir Nard lalu tersenyum setelahnya.


Ariel mengangguk dan masih berpura-pura lemas.


" Suamimu ternyata bisa menghamili mu juga ya? "


Ariel mengigit bibir bawahnya menahan kesal. Ini apakah dia benar-benar harus menjawab dengan penuh kebohongan? Hah! Tapi kan memang cucungnya Leo bisa berdiri, jadi bohongnya pun tidak mungkin akan sampai seratus persen kan?


" Ya bisalah, Presdir Nard. Kan cucungnya suamiku bisa berdiri. "


" Oh. "


Presdir Nard sengaja menjatuhkan pena miliknya hari bisa membungkuk dan sementara menyembunyikan wajahnya.


" Ah, benar-benar mulutnya sangat licin sekali. "


Seharian ini, Presdir Nard sangat sibuk dengan kegiatannya. Pagi tak lama dia datang, Presdir Nard langsung rapat mingguan, lalu bertemu dengan klien bersama dengan Arumi saja. Tidak tahu Apakah dia merasa kasihan karena dia mengeluh mual, atau memang hanya ingin berduaan terus menerus dengan Arumi saja. Ah, masa bodoh saja biarkan saja apa yang mau dilakukan oleh mereka berdua, toh dia tidak ada hubungannya dengan mereka kan?


" Selamat sore, Presdir Nard? " Sapa Ariel begitu Presdir Nard kembali ke ruangannya.


" Sore, kau sudah makan? "


Ariel tersenyum lalu mengangguk. Benar-benar Presdir yang sangat perhatian. Tali sayang sekali perhatian seperti itu hanya membuat Ariel merasa risih dan merasa kalau akan lebih nyaman tidak mendapatkan perhatian aneh dari Presdir Nard.


" Bagaimana kondisi tubuhmu? Apa sudah lebih baik? " Tanya Presdir Nard saat dia sudah mendaratkan bokongnya di kursi kejayaannya itu.


" Sudah, Presdir Nard. "


Sebenarnya saat Presdir Nard lewat di dekatnya tadi, dia benar-benar jadi mengingat Leo karena aroma parfum mereka benar-benar sama. Entah apa yang dilakukan pria itu, Ariel benar-benar merasa ingin cepat pulang dan mencari tahu siapa wanita sialan yang menjadi selingkuhannya.


Benar-benar kurang ajar! Aku di kantor tapi kenapa otakku malah terus memikirkan Leo?


" Ariel? "


" Iya? " Ariel bangkit saat mendengar Presdir Nard memanggil namanya.


" Kau yakin kau hamil? "


Heh? Ariel menghela nafasnya Meksi itu tak terlalu terlihat. Jujur Ariel merasa sangat risih dengan pertanyaan Presdir Nard yang seperti ingin menyudutkan suaminya. Entah itu memang hobinya, atau karena dia terlalu perhatian, yang jelas Ariel merasa kesal sekarang ini.


" Aku belum tahu, Presdir Nard. Aku sudah telat menstruasi dua hari. Iya, semoga saja aku sungguhan hamil, jadi aku dan suamiku akan segera menjadi orang tua untuknya. "


Presdir Nard tersenyum tipis, lalu kembali menatap Ariel.


Ariel mengepalkan tangannya. Marah? iya jelas dia bisa merasakan kemarahan, benar! Leo memang cacat, dia juga memiliki wajah yang dihiasi bekas luka bakar di bagian pipi dahi dan dagu, tapi apa salahnya? Semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan mereka kan? Entah itu orang cacat, orang koma, orang sakit, orang gila, bahkan orang hutan juga punya hak untuk bahagia. Sebenarnya apa sih yang salah dari orang cacat? Ah, bahkan Leo yang cacat itu juga sudah berani menjemput wanita dan mulai berselingkuh, yah, mungkin itu cara dia bahagia.


" Presdir Nard, kenapa aku merasa kalau pertanyaan mu ini sangat tidak pantas ya? "


Presdir Nard bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekati Ariel, duduk di pinggiran meja dengan menghadap Ariel dengan senyum yang tak mampu Ariel artikan apa maksudnya.


" Ariel, bagaimana kalau kau mencoba dengan yang lain? "


Ariel mengeryit bingung.


" Apa maksudnya? "


" Aku, bagaimana kalau kau mencobanya denganku? "


Ariel menahan kekesalannya, dia juga mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum agar tidak terlalu kentara kalau dia sangat marah.


" Mencoba dengan presdir? Mencoba yang seperti apa? "


" Mencoba menjalin hubungan denganku, dan kau akan tahu betapa indahnya melakukan itu dengan pria yang normal. "


Ariel membuang nafasnya, pikirannya masih bisa menasehati jika pria yang berbicara dengan amat kurang ajar itu adalah Bosnya, juga sumber keuangan nya.


" Maaf, Presdir Nard. Aku ini tidak terlalu terobsesi dengan sebuah hubungan. Aku tahu memang suamiku tidak sempurna secara fisik, tapi sayangnya aku bukan tipe orang yang berselingkuh. Aku tahu bagaimana rasanya diselingkuhi, jadi aku tidak ingin suamiku merasakan hal itu. "


Presdir Nard terkekeh seolah meremehkan ucapan Ariel.


" Kau terlalu naif, Ariel. Kau seharusnya mencoba terlebih dulu, baru kau bisa memberikan penilaian, dan juga kau bisa mengatakan tidak ingin berselingkuh dengan pria yang lebih mampu. "


Ariel terdiam sebentar, sungguh semakin lama dia semakin tidak tahan menghadapi mulut Presdir Nard yang sangat menyakitkan itu.


" Presdir Nard, aku ke toilet dulu sebentar ya? " Ariel bangkit dari duduknya, sungguh dari pada dia berkata kasar kepada Bosnya dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah, lebih baik dia akhiri saja obrolan itu dengan pergi ke kamar mandi. Sayang sekali, baru juga dia bangkit, Presdir Nard sudah menahan Ariel dengan memegang lengannya. Dia menatap Ariel dengan tatapan yang lagi-lagi tak bisa untuk Ariel artikan.


" Apa kau tidak bisa menilai bahwa aku tertarik padamu sejak awal? "


Ariel menekan salivanya sendiri. Sejak awal? Apakah sudah gila ya presdir Nard itu? Lalu bagaimana nasib Arumi yang selama ini berada terus disampingnya? Ah, apakah ucapan salah satu sahabatnya yang mengatakan jika Pria itu mudah bosan dengan satu wanita memang benar? Apakah Presdir Nard sedang berada di fase itu?


" Presdir Nard, aku benar-benar ingin ke toilet. " Ucap Ariel mencoba menjauhkan tangan Presdir Nard dari lengannya. Tapi pria itu malah semakin kuat mencengkram lengannya seolah tak mengizinkan untuknya pergi.


" Aku tidak suka ditolak, Ariel. "


Aku juga tidak suka di paksa tahu tidak?!


" Anu, Presdir Nard. Aku benar-benar kebelet pipis. " Ucap Ariel yang masih mencoba untuk kabur dari situasi aneh itu.


" Lakukan saja disini. " Presdir Nard menarik lengan Ariel agar menempel dengan tubuhnya. Tak hanya sampai disitu, dia dengan cepat meraih tengkuk Ariel dan menahannya, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Ariel.


Bersambung.