Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 51



" Jadi, urusan apa yang membawamu kemari? " Tanya Mario setelah mereka sudah berada di sofa khusus untuk menerima tamu. Sementara Nara duduk di kursi Mario sembari memainkan ponselnya.


" Tolong lihat dokumen pengajuan kerja sama ini, aku sudah memeriksanya beberapa kali, aku yakin kau pasti akan sangat tertarik. "


" Tertarik? Memangnya kau berani? " Ucap Nara menoleh ke arah Mario.


" Dokumen, bukan yang lain. " Mario mengangkat dokumen itu dan menunjukannya kepada Nara.


" Oh, yang lainnya sih aku yakin deh tidak ada yang berani melakukanya. Soalnya, aku bisa jadi dua tokoh, pertama menjadi tokoh malaikat, kedua menjadi tokoh iblis yang sempurna. " Nara membuang pandangan kembali menatap ponselnya. Sialan! Ternyata mencoba tenang dan tidak perduli dan percaya saja kepada Mario bahwa dia tidak mungkin di khianati olehnya benar-benar tidak bisa dia rasakan. Oke, Mario mungkin bisa menahan diri, tapi kalau sampai kerja sama dengan Luna si iblis berwajah malaikat, huh! Malaikat maut ya di mata Nara. Mau tidak mau mereka akan bertemu dan sering berinteraksi kan? Ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa, cinta atau rasa suka akan datang karena terbiasa. Duh! Pepatah sialan itu benar-benar membuatnya semakin tidak tenang saja.


Mario membuang nafasnya, mungkin isi dari pengajuan kerja sama itu sangat menarik dan menguntungkan perusahaan, tapi kalau pada akhirnya nanti akan membuat perasaan istrinya tidak tenang, bukankah jelas mereka akan sering bertengkar? Nara yang over protektif dan juga mudah cemburu, dan kemungkinan bertemu dengan Luna akan semakin sering itu juga akan menjadi perubahan yang tidak bisa di tebak.


" Sepertinya aku tidak bisa membukanya, maaf. " Ucap Mario seraya mendorong kembali dokumen itu ke hadapan Luna yang sedari tadi terus menatap dengan tatapan penuh harap.


" Kenapa? Aku sudah melewati tahap seleksi, sekretaris mu juga sudah mengatakan jika dokumen ini sangat menarik dan dapat menguntungkan kedua belah pihak, kenapa kau menolak untuk melihatnya? " Nampak sekali tatapan kecewa yang terlihat di mata Luna, tapi sayangnya Mario sudah begitu mati rasa dengan wanita itu. Yah, dulu boleh saja dia begitu perasa, tapi setelah si wanita mesum, cerewet, gila, dan banyak bicara yang berinisial Nara itu masuk ke dalam hidupnya, semua perhatian dan perasannya benar-benar di borong habis olehnya.


" Karena kalau hubungan kerja sama ini terjadi, wanita cerewet itu tidak akan pernah tidur dengan nyenyak, dan aku juga yang akan rugi harus mendengar ocehannya sepanjang hari. "


Luna menatap ke arah Nara yang kini menatap Mario dengan satu sisi bibirnya naik ke atas.


Luna kembali menatap dokumennya. Sungguh jika memang tidak bisa lagi mendapatkan hati Mario, setidaknya dia bisa mendapatkan bantuan dari Mario karena keadaan perusahaan Ayahnya benar-benar sedang dalam keadaan yang kurang baik, atau terancam mengalami krisis.


" Tolong, aku benar-benar minta tolong sekali ini saja. Tolong bacalah dulu, jika memang benar-benar tida membuatmu tertarik, maka aku akan mundur dengan suka rela. "


Nara membuang nafasnya, cih! Kenapa malah dia yang merasa melas dengan wanita itu? Padahal dia ingin menjadi sangat kejam agar tidak ada yang bisa merebut suami tampannya itu, tapi keadaan Luna yang sekarang ini mengingatkan dia dengan dirinya sendiri sebelum memaksa untuk di nikahkan dengan Mario. Kala itu dia juga memiliki ekspresi wajah seperti Luna, sedih, putus asa, hingga tidak tahu lagi harus melakukan apa.


" Sudahlah, sayang. Baca saja dulu, kalau memang menguntungkan aku juga akan di untungkan kan? Kalau uangmu tambah banyak, aku juga bisa menikmatinya dengan santai. Nanti kalau kau sudah tidak bisa menjaga diri, aku bisa gunakan uangmu untuk membeli pria muda yang perkasa. " Nara berucap dengan santai sembari kembali meraih ponselnya dan mulai bermain dengan ponselnya itu. Sedangkan Mario, pria itu jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak terlihat kesal. Pria muda? Sampai mati pun dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, bahkan kalau ada yang melirik Nara dengan tatapan suka, dia juga akan dengan senang hati mencolok kedua bola mata pria itu sampai buta sepenuhnya.


Luna, wanita itu hanya bisa menahan diri sebaik mungkin agar tak terpengaruh dengan apa yang dia lihat. Mario, pria itu rupanya benar-benar mencintai istrinya. Padahal proyek kerja sama yang dia ajukan ini sudah benar-benar sangat bagus dan menguntungkan, jika di tawarkan ke perusahaan lain seharunya ada yang minta. tapi Luna yang kekeh ingin mengajukan ini ke perusahaan RC dengan beberapa alasan seolah enggan dengan perusahaan lainnya.


" Bagus, semuanya detail dan sangat rapih. Sejujurnya aku tertarik dengan ini, tapi aku juga butuh pendapat istriku. "


Luna tidak tahan lagi mendengar itu, padahal perusahaan RC adalah miliknya, lalu kenapa Jarvis memperlakukan istrinya seolah istrinya adalah pemilik RC?


" Bukankah ini masalah perusahaan yang seharunya hanya Presdir yang bisa memutuskan? Di perusahaan tujuannya adalah satu, untung saja. Masalah pribadi seharusnya tidak menjadi hambatan bukan? " Tanya Luna yang pada akhirnya memilih untuk bersuara dan mengakhiri perasaan muaknya dengan sikap Mario dan Nara.


Mario memaksakan senyumnya.


" Jika saja merealisasikan ucapan, pekerjaan adalah pekerjaan, urusan pribadi tidak boleh ada di dalamnya. Aku tidak bisa melakukan itu, bukan denganmu, tapi dengan istriku. Jika aku menjalankan kerja sama ini, resikonya adalah aku akan menghadapi kecurigaan istriku, dan kalau sudah begitu, aku juga yang akan rugi sendiri. Aku tidak bisa memutuskan ini tanpa persetujuan istriku, karena ada hal yang mungkin tidak bisa kau pahami mengenai kami. "


Luna terdiam, dia sadar kalau sudah lancang bicara. Sementara Nara, wanita itu tersenyum menatap suaminya yang begitu tegas bicara kepada Luna. Yah, memang wajah datar dan kaku itu pantas untuk Luna.


Nara membuang nafas, dia bangkit dan duduk tepat di sebelah Mario.


" Sudah, jangan bersedih begitu. Aku mengizinkan kok suamiku bekerja sama denganmu. Tapi, semua hal yang harus kalian urus bersama akan di wakilkan oleh asisten sekretarisnya Mario. Jangan tanya kenapa, kau tahu benar kan kalau seorang wanita itu mudah sekali merasa cemburu dan curiga, mohon pengertiannya ya? " Nara tersenyum mengais di hadapan Luna yang tampak tak menunjukkan ekspresi apapun.


" Apa anda begitu takut saya menjadi duri dalam rumah tangga anda, Nyonya? " Luna bertanya degan tatapan yang tidak biasa membuat Nara merasa sedikit kesal.


" Iya, soalnya wajahmu sih terlihat begitu. "


Bersambung.