
Seperti yang sudah di janjikan oleh Leo, malam ini adalah malam dimana Leo akan membawa Ariel bertemu kakeknya untuk pertama kali. Gaun malam sudah di siapkan, merias wajah juga sudah datang orang dari salon khusus untuk merias Ariel. Bak bidadari, begitulah ungkapan yang cocok untuk mendeskripsikan bagaimana wajah Ariel saat ini. Sebenarnya sebelum di ruas dia juga cantik, hanya saja sekarang ini Ariel jadi lebih cantik. Leo, pria itu sudah selesai dengan setelah jas hitamnya, senada dengan gaun hitam milik Ariel yang kini melekat dengan cantik di wajahnya.
" Sudah siap? " Tanya Leo seraya berjalan mengambil kursi rodanya, dan duduk di sana.
Ariel, dia benar-benar sulit berkonsentrasi setelah ucapan Mark yang terus mengingatkan dirinya akan kejadian malam kemarin. Malam yang sudah menjadi malam paling bersejarah di dalam hidupnya, untuk pertama kali seorang pria menyentuh tubuhnya tanpa ampun. Eh, tali biarpun memang iya dia menikmatinya juga, tali apakah salah kalau masih ada sedikit rasa kesal yang tertinggal di hatinya.
" Iya. " Ucap Ariel singkat karena dia masih gak bisa bersikap biasanya saat isi di kepalanya hanyalah tentang malam pertama mereka.
Setelah benar-benar selesai dan siap semua, Leo, Ariel beserta yang lainya sudah pergi ke rumah kakeknya Leo, atau semua orang akan menyebutnya dengan rumah keluarga utama. Disana juga ada Paman Daris dan putranya Mark, tak ketinggalan juga Grade si anak kedua yang berusia dua puluh tiga tahun.
Leo masuk ke rumah keluarga utama seperti biasanya, yaitu duduk di atas kursi roda, dan kali ini bukan Win yang mendorongnya, melainkan Ariel yang sedari tadi terus bergerundel.
" Bisa tidak kurangi berat badanmu? Aku mendorong kursi roda mu seperti sedang mendorong tembok raksasa China tahu tidak? "
Tapi ya sudahlah, kalau diam saja dan penurut itu namanya bukan Ariel, toh Leo juga tidak merasa terganggu.
" Selamat datang, Mr L, dan Nyonya beserta Win. "
Leo diam enggan menangapi sapaan orang tersebut, dan dia adalah orang kepercayaan Paman Daris, atau biasanya orang akan memanggilnya dengan Gun. Seperti nama senjata, tapi begitulah kegunaan Gun bagi Paman Daris, pria yang sudah menggemari berlatih ilmu bela diri, bersiasat, dan memunculkan banyak sekali permainan untuk mengelabuhi lawan, pada akhirnya sangat berguna bagi Paman Daris. Win sebenarnya juga tak kalah kalau dari segi kemampuan bela diri, pertahanan, trik, dan paling jago mengantisipasi kemungkinan yang bahkan tidak terpikirkan oleh Leo. Untunglah, Win berasal dari keluarga biasa saja, ilmu yang dia miliki benar-benar otodidak dia pelajari sendiri, hingga akhirnya bertemu dengan Leo yang semakin mengasah kemampuannya. Sekarang Win boleh saja hanya diam menunduk seperti seorang tangan kanan yang lemah, tapi jangan ragukan kehebatan Win yang mungkin di atas rata-rata orang cerdas.
" Maaf, Gun. Tuan ku tidak memiliki mood bertegur sapa denganmu, jadi tolong biarkan Tuan ku lewat. "
Gun tersenyum miring, jujur saja dia sampai saat ini masih saja merasakan sakit hati dengan Leo yang pernah menolaknya mentah-mentah dan mengatakan jika kemampuannya belum cukup pantas untuk bisa berada di sisinya. Tapi yang Gun lihat, Win justru hanyalah seorang pengecut yang hanya akan menunduk hormat saja seperti bintang peliharaan.
" Selamat menikmati pesta ini, Mr L. " Tak ada lagi yang membalas ucapan itu, tapi yang jelas Leo tahu benar di balik pesta ulang tahun kakeknya ini pasti akan ada kejutan untuknya nanti. Tidak masalah, Leo bisa sampai di rumah kakeknya juga bukan berarti tidak akan mendapatkan perlindungan dari kakeknya, melainkan ada Win yang sudah meyiapkan segalanya dengan matang dari rumah tadi.
" Kita kesana ya? " Ajak Leo ke arah seorang kakek yang tengah duduk di kursi. Ariel menduga kalau itu pasti adalah kakeknya Leo kalau di lihat dari tampilannya, juga mimik wajahnya serta susunan wajahnya yang hampir mirip seperti Leo juga.
Pria tua itu nampak enggan menatap Leo, dia mengacuhkan saja Leo seolah begitu malas kedatangan Leo disana. Ariel yang merasa bingung hanya bisa menatap bingung dan penuh tanya. Bagaimana bisa ya g katanya kakek baik hati tidak merawat anaknya sendiri? Padahal dia ingat benar kok Leo bercerita waktu itu bahwa kakeknya adalah orang yang menyayanginya. Tapi apa ini? Kenapa Leo malah di perlakukan tidak adil dan di direndahkan dari awal saja mereka masuk ke dalam tadi sudah di hina melalui sapaan manis tapi nada bicaranya amat jutek dan judes sekali.
" Pergi dari hadapanku! " Ucap Kakek dengan ekspresi wajahnya yang tak terlihat main-main sama sekali. Leo, pria itu tak bereaksi, sedangkan Win juga memilih untuk diam saja seperti biasa, dan baru akan bertindak kalau Leo sudah memberi perintah.
" Win, ayo kita pergi. Tolong tinggalkan benda itu, Win. Aku tidak suka mengambil lagi barang yang sudah diberikan kepada orang lain. " Ujar Leo, sedangkan Win segera meletakkan barang itu di dekat kakeknya Leo.
Ariel, dia semakin tidak tahan dengan Leo yang hanya bisa diam padahal biasanya mulutnya sangat menyakitkan luar biasa.
" Anu kek, bisa tidak jangan terlalu kasar begini? Biarpun pria yang duduk di kursi roda ini jelek, menyebalkan, suka main kosa kata, kadang juga minta di jitak sampai kepalanya bolong, nyatanya dia adalah anak yang malang, jadi kasihani saja dia ya? " Ucap Ariel kepada sang kakek.
Ariel mengeryit, dia jelas seperti melihat senyum tipis dari bibir kakek. Apakah Kakek orang yang mudah tersentuh hatinya? Kalau memang iya, kenapa juga sok judes seperti itu sih? Gerutu Ariel di dalam hati.
" Istriku, aku merasa tersanjung dengan deskripsi mu tentang ku. " Ujar Leo yang langsung membuat Ariel tak lagi ingin bicara.
" Duh, ada Mr. L ya? Apa kabar? Masih duduk di kursi roda saja, tidak lelah? " Entah dari arah mana, tapi gadis yang berbicara itu adalah Grade. Dia adalah adik dari Mark yang juga selalu menggunjing Leo sedari kecil karena fisiknya yang menjijikan.
Leo tak menjawab, tapi Ariel yang tidak tahan dengan mulut lemes perempuan itu benar-benar tidak bisa tinggal diam begitu saja.
" Duh, Nona cantik, mulutnya kok tajam sekali ya? Nanti kalau berciuman dengan kekasihmu kalau mulut kekasihmu berdarah bagaimana? Bisa-bisa semua laki-laki kabur karena mulutmu sangat menakutkan. "
Grade beralih menatap Ariel dengan tatapan kesal. Dia tersenyum tipis begitu melihat tangan Ariel memegangi kursi roda Leo yang artinya Ariel adalah istri dari Leo.
" Kau menikahi pria cacat, butuh alat bantu s*x tidak? "
Bersambung.