
Sudah satu bulan, emosi yang tidak stabil alias naik turun seperti roller coaster benar-benar membuat Ariel sendiri merasa bingung. Saat sedang sendiri seperti sekarang ini dia sering berpikir jika tingkahnya memang agak keterlaluan kepada Leo belakangan ini, tapi mau bagaimana lagi? Semua yang dia lakukan benar-benar tidak bisa di kontrol Meksi pada akhirnya dia akan menyesalinya sendiri.
"Haih... Mood tidak pernah bagus, tiap hari yang aku pikirkan hanyalah tentang masa lalu Leo bersama wanita, juga kengerian sendiri takut Leo tergoda dengan kucing liar di luar sana. Kalau begini terus setiap hari, bukannya aku sendiri yang sedang menggali lubang kubur untuk ku? Bagaimana ini? Kerap kali melihat Leo aku justru sebal dan kesal sendiri padahal dia juga tidak melakukan kesalahan apapun, aku harus bagaimana dong supaya tidak kesal terus menerus saat bersama Leo? "
Ariel memegangi kepalanya yang pusing memikirkan semua yang terjadi belakangan ini. Bohong jika dia tidak khawatir setiap kali habis bertingkah aneh, cemburu tidak jelas, marah dengan alasan yang tidak nyata, dia bahkan menghakimi Leo seenaknya dengan mendiamkannya padahal dia sendiri tahu benar jika Leo tidak melakukan kesalahan apapun.
'' Ah, aku lupa kalau sudah janji dengan Sephora untuk menemaninya ke rumah sakit. Sudahlah, lebih baik aku pergi saja dulu sembari menenangkan pikiran. "
Ariel bangkit dari duduknya, segera dia menuju kamar Sephora setelah dia selesai dengan persiapannya. Sephora juga sudah selesai sedari tadi sehingga tak perlu membuang waktu banyak mereka sudah langsung menuju ke ruang sakit. Hanya butuh tiga puluh menitan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Tidak perlu mengantri, karena Dokter yang sudah di siapkan Win juga sudah menunggu.
Seperti kebanyakan para Dokter lainnya saat menyambut pasien, dia begitu ramah, dan dengan hati-hati mengarahkan perawat untuk membantunya melakukan pengecekan tekanan darah dan lainnya seperti kebanyakan Ibu hamil lainnya. Setelah beberapa saat, Sephora menjalani pemeriksaan ultrasonografi, dan di sanalah calon bayi Sephora terlihat. Sangat kecil, tapi juga sudah berbentuk kepalanya membuat Sephora semakin terlihat bahagia.
Setelah selesai itu Dokter mejelaskan beberapa step dalam kehamilan agar Sephora tak terllau kaget dengan perubahan dirinya matinya. Dari sanalah Ariel mengeryit memikirkan apa yang terjadi kepada dirinya saat Dokter menjelaskan tentang hormon kehamilan yang membuat Ibu hamil sulit mengontrol diri karena emosi yang sering tidak stabil.
Mungkinkah? Ariel segera menggeleng dengan capat. Bukan tanpa alasan dia menampik dugaan itu, meksipun dia juga ingat kalau sudah telat datang bulan. Di bulan sebelumnya Ariel juga pernah telat sekitar satu Minggu lebih, tapi saat di tes nyatanya tidak hamil, jadi malas saja kalau menduga-duga pada akhirnya hanya mendapat kecewa.
Sudahlah, jangan terlalu berharap, nanti kalau tidak sesuai harapan kan sakit dan kecewanya benar-benar meminta ampun!
***
Grade menghela nafas sebal saat matahari menerpa kulit wajahnya. Ini sudah seminggu dia benar-benar merasa uring-uringan sendiri. Dia yang biasanya akan bangun pagi untuk joging kini begitu malas, apalagi kalau sampai terkena sinar matahari. Ah, padahal biasanya dia paling suka terkena sinar matahari karena dia beranggapan sinar matahari akan membuat kulitnya menjadi coklat dan terlihat seksi dengan warna kulit eksotis.
Seminggu ini juga Grade jarang sekali menemani Onard latihan berjalan, karena saat bangun pagi dia begitu sulit membuka mata. Tidak pernah begadang, bahkan dia juga sudah tidur sebelum jam delapan malam, jadi dia benar-benar tidak mengerti dengan tubuhnya yang sedang banyak tingkah itu. Apakah karena terlaku banyak aktivitas belakangan ini dan tubuhnya terasa lelah dan lesu seperti anemia? Hah..... Padahal juga sudah cek ke Dokter, dan tidak ada masalah dengan darahnya.
" Grade, kau belum mandi juga? Kau sudah meninggalkan jam sarapan mu, lebih baik segera mandi dan sarapan ya? " Ucap Nard yang baru saja datang ke kamar untuk melihatnya. Onard bekerja dari rumah untuk RC, jadi dia bisa kapan saja melihat Grade dan juga kakeknya.
" Mandi? Siapa sih yang menciptakan mandi? Apakah mandi itu adalah keharusan? Memang kalau tidak mandi apa manusia akan mati? "
Onard mengeryit bingung, apakah dia tidak salah dengar? Bukankah biasanya Gede paling suka mandi? Bahkan kalau sudah masuk ke dalam kamar mandi bisa sampai satu jam entah apa saja yang dia lakukan di dalam sana.
" Grade, apa aku panggil saja Dokter ke rumah untuk memeriksa keadaan mu? " Tanya Onard yang jelas bisa melihat hal tidak biasa yang terjadi kepada Grade.
Onard sebenarnya masih tidak mengerti kenapa begitu berat hanya untuk mandi? Padahal kalau sudah mandi sarapan kan akan terasa jauh lebih nyaman?
" Terserah kau saja, aku temani sarapan sekarang ya? "
Grade tersenyum, dengan cepat dia mengangguk setuju. Onard, pria itu beberapa hari nampak begitu menawan membuat Grade benar-benar tidak ingin jauh-jauh darinya. Dengan segera Grade bangkit, meraih kursi roda yang di duduki Onard dan menjalankannya menuju meja makan.
" Sandwich lagi? " Grade mengeryit, sebenarnya sandwich dan salad sayuran adalah makanan favoritnya saat sarapan, tali entah mengapa dia merasa begitu bosan dengan dua menu itu.
" Bukanya kemarin sudah salad? Sekarang harusnya sandwich kan? "
" Aku tidak mau, aku ingin makan steak saja boleh? "
Onard mendongak menatap Grade tidak percaya. Steak? Apakah Grade sendiri lupa kalau selama ini dia adalah seorang vegetarian?
" Grade, kau kan vegetarian, kenapa ingin makan steak? Kau tahu steak itu berarti daging kan? "
Grade menghela nafasnya, tentu saja dia ingat kalau dia adalah seorang vegetarian karena begitu perduli dengan kesehatan dan bentuk tubuh, tapi entah mengapa selera makannya seperti berubah begitu saja seolah dia sudah sangat bosan dengan sayuran.
" Setelah di pikir-pikir, tidak mau terlalu vegetarian, nanti orang bisa mengira aku ini sapi atau kambing. "
Onard benar-benar tidak mengerti dengan Grade sekarang ini, tali dia juga tetap menuruti permintaan Grade agar menyiapkan steak daging untuk Grade seorang saja. Benar saja, Grade melahap habis daging steak yang di bakar dengan kematangan Large.
" Grade, apa kau sedang balas dendam? " Tanya Onard yang masih terlihat bingung. Bagaimana tidak bingung? Mungkin hanya satu menit saja, dan daging steak itu sudah lenyap tak tersisa dari piring.
Grade tersenyum, sungguh dia juga merasa keheranan karena merasa jika daging steak barusan benar-benar sangat enak, lebih enak dari daging steak yang pernah ia beli di restauran termahal di luar negeri sebelum dia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian.
" Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja deh. " Ujar Onard bergumam.
Bersambung.