
Mario tersenyum tipis melihat Nara yang merengut terus menerus sedari tadi. Ini sudah malam, tapi Nara justru memilih untuk duduk di sofa dengan satu bungkus camilan rasa keju, memainkan Ponselnya tak perduli dengan Mario yang sedari tadi terus memanggil dan mencoba untuk mengajaknya bicara.
Sebenarnya Mario juga bisa melihat kalau mual Nara tidak di buat-buat karena wajahnya memang terlihat merah begitu juga dengan matanya saat dia mual tadi, tapi sungguh Mario juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia merasa bingung dan heran dengan Nara yang hanya akan mual saat mendengar nama Luna, atau menyentuh Luna secara langsung.
" Nara, ruang kosong di sebelah ku ini kira-kira kapan mau di isi? Kalau kau tidak juga pindah kesini, bagiamana kalau aku sewakan saja tempat kosong ini? " Mario bertanya lalu tersenyum tipis karena dia tengah menggoda Nara.
" Jangan berlebihan, itu hanya tempat tidur. " Ujar Nara dengan mimik malas, lalu kembali memakan camilannya dan fokus dengan ponselnya.
" Oh, memangnya kau pikir tidak ada yang mau? "
Nara terdiam, dia mengigit bibir bawahnya lalu menatap Mario dengan tatapan marah.
" Lakukan saja sana, sewakan saja tempat tidurmu, sewa juga rahim wanita yang akan menyewa tempat tidur itu, sekalian penyalah anak sana! "
Mario tersentak melihat Nara yang berbicara sembari menahan tangis. Padahal dia hanya sedang bercanda saja, tapi respon Nara malah berlebihan seperti ini. Kalau saja Nara hanya marah-marah seperti biasanya tentu saja itu adalah hal yang wajar dan bisa Mario tangani dengan mudah, tapi kalau Nara menangis seperti itu, Mario jadi menyesal dan bingung harus bagaimana kan.
Mario segera bangkit dari posisinya, berjalan mendekati Nara dan duduk di sebelahnya.
" Kenapa kau mudah sekali marah sih? Aku tadi hanya bercanda saja supaya kau tidak duduk sini terus menerus, dan lincah ke tempat tidur. " Mario mencoba meraih tangan Nara, tapi di tepis begitu saja.
Mario menghela nafas, duh sebenarnya dia sendiri sudah mulai kesal dan tidak sabar, tapi kan yang membuat Nara seperti ini juga dia. Ah, padahal kalau di urutan jalan ceritanya seharusnya Nara juga salah kan? Lah, suruh siapa juga dia meminta Mario menerima dokumen dari Luna dan setuju untuk bekerja sama. Tapi sekarang Mario justru seperti di tempatkan di tempat yang salah seolah dia sudah menyetujui dan bersedia bekerja sama dengan Luna tanpa sepengatahuan istrinya. Hah! Gila, kenapa juga Mario begitu merasa bersalah padahal kesalahan itu juga mulanya terjadi karena Nara kan?
" Jadi, katakan padaku aku hafus bagaimana? Kalau aku salah aku minta maaf deh. "
Nara membuang nafas kasarnya.
" Kalau kau saja tidak yakin salah atau tidak, untuk apa minta maaf? "
Mario menelan salivanya. Uh, kalau saja Mario sedang bersama orang lain, dia tentu saja bisa menggunakan lidahnya seperti itu untuk menyerang lawan bicaranya. Tapi, anehnya saya berada bersama Nara dan Nara pula lah yang menjadi lawan bicara, Mario seperti kehabisan kata-kata dan hanya tersisa stok maaf, maaf, maaf dan maaf saja.
Mario mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum, dia merangkul Nara dan mencium pipinya sebentar.
" Ya sudah tidak jadi minta maaf, sekarang sudah tidak usah marah lagi ya? Kan tidak ada untungnya juga untukmu, tidur disini hanya membuat pinggangku sakit juga kan? "
Nara tersenyum miring.
" Mario, kau ini sedang ingin ewita ya? "
" Tadinya sih tidak, kalau kau mau ya apa boleh buat, yuk sekarang! "
Nara membuang wajah.
" Ya sudah lah, bagus kalau begitu! "
Mario mengeryit kan dahinya.
" Apanya? Apa yang bagus? " Tanya Mario bingung.
" Rencananya aku ingin menjaga jarak sedikit, jadi maksimal kita akan melakukan itu sebulan sekali, tidur juga aku akan memunggungimu. "
" Nara, kau mau aku jadi biksu ya? Kenapa juga aku menatap punggungmu setiap malam? Apa kau pikir punggungmu seindah itu? "
Nara menatap Mario tajam.
" Aku saja bisa tuh setiap malam melihat punggungmu. Setelah selesai kau menggunakan lubang ku, kau pasti akan memunggungi ku. Kenapa juga kau tidak bisa melihat punggung ku yang jelas indah? "
Mario membuang nafasnya, yah kalau di ingat-ingat lagi memang kebuasan Mario seperti itu. Tali bukanya dia tidak ingin bertatapan dengan Nara, tapi kalau saja dia terus melihat ke arah Nara, yang ada di kepalanya hanyalah tentang Ewita saja. Mungkin bagi pria Casanova sejati bisa saja melakukan itu berkali-kali sesuka hatinya, tapi Mario bukan pria semacam itu sehingga dia atau tiga kali dama semalam itu sudah membuat pinggangnya pegal. Ya, silahkan saja hina kemampuan yang tak seberapa itu. Makanya dia juga sengaja memunggungi Nara karena tidak ingin Nara menggodanya lagi, lalu dia harus memaksakan diri seperti itu karena bagaimanapun kesehatan dirinya, juga kesehatan Nara sangat penting.
" Ya sudahlah, aku akan tidur dengan menatap punggung indah istriku ini. " Mario tersenyum membuat Nara menjadi sebal sendiri. Padahal dia ingin merasakan bagiamana di rayu habis oleh Mario, mendengar Mario membujuknya dengan telaten, tapi Mario malah menyerah secepat itu.
" Mario? "
" Iya? "
" Aku membencimu! "
" Aku juga! "
" Apa? Eh, maksud ku aku tidak membencimu kok. "
" Demi Tuhan, aku ingin sekali memakan orang! " Kesal Nara.
Mario tersenyum, lalu membuka bajunya membuat Nara kebingungan.
" Makan nih, makan saja! Kau mau yang mana? Ah, mau yang menjadi bagian favoritmu? " Mario bergerak ingin melepaskan celana dan tentu saja Nara gelagapan di buatnya. Tidak, jangan sampai Mata melihat si cucung milik Mario, karena kalau melihat itu dia bisa goyah dan tidak bisa marah lagi.
" Berhenti! Berhenti, Mario! Aku bilang berhenti, aku tidak mau! " Nara tak lagi bisa bicara saat Mario sudah menurunkan celana karet yang ia gunakan.
" A aku, ma marah, Mario! " Ucap Nara sembari membuang wajahnya tapi tangannya bergerak menyentuh bagian yang menjadi bagian favoritnya.
***
Moza menghela nafasnya setelah selesai mengabiskan secangkir teh hijau yang sedari tadi menemaninya. Sementara Wiliam, pria itu terus menatap tubuh istrinya yang nampak dari belakang karena Moza kini tengah berdiri di balkon apartemen.
Sejenak Wiliam bergumam di dalam hati, sejak kapan kah hatinya mulai terpatri oleh wanita yang begitu tegas dan dingin seperti Moza? Padahal banyak wanita di luar sana yang Wiliam anggap seperti tipenya yaitu, menurut saja, diam saja apapun yang Mario lakukan di luaran sana.
Entah, perasaan itu akan seberapa dalam karena dia sendiri seperti terjebak dan tidak bisa menghindar. Wiliam bangkit dari posisinya, berjalan mendekati Moza dan memeluknya dari belakang.
" Ini sudah malam, tidur yuk sayang? "
" Tidur yang bagaimana yang kau maksud? " Tanya Moza tanpa ekspresi.
Wiliam tersenyum, lalu menjalankan tangannya mengusap bagian paha Moza dan mengalihkan ke bagian depan.
" Seperti ini, jauh lebih baik kalau lebih dari ini. "
Bersambung.