
Ariel menghela nafas sebal karena mendapati banyak sekali pesan masuk dari nomor wanita tanpa nama di ponsel Leo. Kenapa bisa tahu itu wanita? Tentu saja karena cara mengirim pesan yang seperti wanita minta di garuk adalah ciri khasnya. Leo yang tidak mempermasalahkan ponselnya di acak-acak oleh Ariel tentu saja membuat Ariel bebas leluasa jika ingin mengecek ponselnya. Ah, sialnya setiap kali mengecek ponsel Leo dia malah menjadi kesal sendiri, meksipun Leo memang tidak pernah sekalipun membalas pesan atau menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenali, entah mengapa Ariel tetap saja merasa kesal.
" Sayang, belum selesai dengan ponselnya? " Tanya Leo yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan handuk di bagian pinggang hingga batas pahanya saja membuat Ariel melotot sembari menelan salivanya.
Sialan! Dia benar-benar di buat terpesona setiap saat oleh Leo. Padahal pria itu tidak melakukan apapun, tapi dia memang terlaku mempesona hingga dia tidak bisa menolak Meksi wajahnya terlihat masa bodoh saja. Kalau saja Leo yang seperti ini dilihat oleh wanita lain, jelas sudah kalau wanita itu pasti akan langsung menyeruduk Leo, menerkamnya tanpa ampun, mencabik, mengoyak tubu indah itu dengan buasnya. Hah! Entah kemana tiba-tiba dia jadi teringat bahwa Leo kan pernah berciuman dengan mantan kekasihnya, berpegangan tangan juga! Ya ampun! Dia benar-benar kesal sekali sekarang.
" Aku duluan ke meja makan! " Ucap Ariel yang tak mau lama-lama memikirkan perasaan kesal hanya karena masa lalu Yangs seharusnya tidak usah di anggap penting kan? Padahal dia juga pernah kok berciuman dan bergandengan tangan dengan Bram, tapi kenapa dengan egoisnya dia tidak mau menerima jika Leo pernah mencium wanita lain?!
Leo menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari menatap punggung istrinya yang semakin menjauh hingga keluar dari kamar mereka. Lagi-lagi dia hanya bisa menghela nafas kebingungan sendiri dengan sikap Ariel yang begitu aneh beberapa hari belakangan ini. Kalau masalahnya adalah pesan yang masuk ke ponselnya dari wanita masa lalu, bukankah Ariel juga sudah tahu dari lama? Wanita itu, atau mantan kekasih Leo adalah anak dari salah satu mitra bisnisnya yang sekarang mewarisi perusahaan jadi Leo juga tidak bisa memutus komunikasi begitu saja demi kepentingan bisnis. Tapi kalau istrinya seperti ini terus apa bisa dia terus memikirkan bisnis melulu?
" Sudahlah, nanti baru bicara baik-baik dengan Ariel. " Gumam Leo, lalu segera meraih pakaian untuk dia gunakan dan agar bisa menyusul Ariel secepatnya di meja makan.
Di meja makan Ariel ternyata masih belum Isa menghilangkan perasaan sebalnya. Padahal jelas dia tadi melihat Leo baru keluar dari kamar mandi, dan tentu saja Leo harus mengeringkan rambut dan tubuhnya, baru berpakaian dan datang ke meja makan. Tapi, anehnya tadi Ariel seperti mengharapkan untuk segera menyusulnya, membujuk seperti biasa dan merayunya agar dia tidak sebal lagi. Ah! Benar-benar situasi dan perasaan aneh itu tidak bisa dia kontrol beberapa hari belakangan ini.
" Maaf sayang agak lama, kau belum mulai makan? " Leo datang dengan langkah kaki cepat, dia mengecup pipi Ariel terlebih dulu sebelum duduk di sampingnya.
Ariel tak menjawab, tapi segera dia bangkit mengambilkan makanan di piring Leo, lalu ke piringnya. Leo sebenarnya masih saja kebingungan dan terus bertanya di dalam hati, apa lagi ya salahnya?
Di tengah kegiatan makannya Ariel tak sengaja melihat ke arah Leo, ada saus yang tertunggak di bibir pria itu, dan lagi-lagi membuat Ariel teringat bahwa Leo pernah berciuman dengan wanita lain. Ariel menghela nafas kesal, meletakkan sendok dan garpu miliknya, meraih selembar tisu, lalu menyeka bibir Leo agak kuat.
" Sayang, aku- "
" Diam! Diam, biarkan aku membersihkan bibir kotor mu ini! " Ariel berbicara dengan nada menekan dan tatapan mata yang begitu tajam membuat Leo hanya bisa menelan salivanya sendiri. Di dalam hati dia benar-benar berdoa semoga hanya Tuhan lah yang tahu bagaimana istrinya begitu sebal dengannya seperti tidak mencintainya, karena kalau dia sudah berada di RC, dia akan tetap menjadi pria tampan dengan banyak wanita yang menggemarinya.
" Aku benar-benar kesal melihat bibirmu! " Ariel menjauhkan tisu yang ia gunakan untuk menyeka bibir Leo dengan wajah sebal, tapi saya kembali melihat bibir Leo yang begitu merah karena dia menggosok terlalu kuat, dia tiba-tiba merasa menyesal sudah agak keterlaluan.
" Aduh! Bibir mu merah sekali? Kenapa kau tidak bilang kalau aku menggosoknya terlalu kuat? "
Leo memaksakan senyumnya, bagaimana mungkin dia berani protes kalau ekspresi Ariel tadi begitu menakutkan?
" Apa sudah lebih baik? "
Leo yang begitu terpana dengan apa yang di lakukan Ariel hanya bisa menaikan kedua alisnya dengan bibir tersenyum. Mungkin dia bisa tahan bersikap dingin, dia akan menatap tajam seharian penuh tanpa senyum untuk menghadapi orang lain, atau juga wanita lain, tapi bagaimana bisa dia tidak tersenyum saat dia selalu kehilangan kontrol ketika bersama Ariel? Bibirnya yang bisanya akan sangat jarang membentuk lingkaran bentuk senyum begitu lepas saat dekat dengan Ariel, apalagi harus melihat tingkah wanita itu, Leo benar-benar seperti kehilangan jati diri yang sudah melekat padanya selama ini.
" Aku selalu baik kalau bersamamu. "
Ariel menaikan sisi bibirnya dengan tatapan sebal. Hah! membingungkan sekali, dan pada akhirnya Leo hanya bisa menghela nafas, kembali tersenyum, dan membatin bagian mana yang salah dari ucapannya?
" Kau pasti dulu merayu mantan kekasih mu seperti ini ya? "
Leo mengeryit mendengar kalimat yang keluar dari bibir Ariel. Merayu mantan kekasih? Apakah sedari tadi polah aneh istrinya karena cemburu dengan wanita masa lalu? Ah, benar-benar menyenangkan sekali kalau memang benar dugaannya.
" Memang kau tidak pernah di rayu seperti itu dengan mantan kekasihmu dulu? " Leo menatap Ariel dan tersenyum.
" Berhenti bertanya dengan ekspresi seperti itu! " Kesal Ariel, padahal dia butuh jawaban dari pertanyaannya tadi, kenapa malah pertanyaan itu dilempar lagi padanya? Kalau boleh jujur sih, Bram itu rajanya gimbal, cara bicaranya selalu manis seolah-olah siap melakukan segalanya untuk Ariel, tapi siapa sangka kalau Bram hanya pintar berkata-kata tapi tidak memiliki niat untuk merealisasikannya?
Leo mengelap nafas, dia kembali tersenyum seraya mengusap kepala Ariel dengan lembut.
" Aku tidak pernah merayu wanita sebelumnya, karena aku hanya perlu tersenyum sedikit saja untuk bisa menaklukan wanita. "
" Apa?! Kalau begitu, mulai hari ini, detik ini, jam ini, kau tidak boleh tersenyum kepada siapapun walau sedikit saja! "
" Denganmu juga tidak boleh? "
" Cih! Tentu saja aku tidak termasuk orang lain kan? "
Bersambung.