
Ariel menyender di senderan sofa yang tengah ia duduki. Awalnya ragu-ragu dan berniat untuk minum sedikit, ternyata yang dikatakan Presdir Nard benar bahwa kadar alkohol di anggur itu lumayan tinggi. Teler, mungkin itu istilahnya.
Presdir Nard, pria itu masih duduk di tempatnya dengan tatapan mata yang terus tertuju kepada Ariel. Gadis itu nampak cantik dengan mimik wajah apapun, bahkan tidur dengan mulut menganga begitu juga tetap cantik.
Presdir Nard menghela nafas setelah cukup puas memandangi Ariel, dia bangkit dari duduknya. Mendekati Ariel dengan maksud untuk memindahkannya ke tempat tidur karena melas juga melihatnya tidur di posisi seperti itu dan jelas tidak akan nyaman, atau kalau tidak besok pagi pasti badannya akan sakit.
Dikarenakan dia malas mengantar Ariel ke kamarnya, dia akhirnya memutuskan untuk membawanya ke tempat tidur miliknya.
" Siapa kau? " Tanya Ariel dengan mata mengeryit sipit menajam untuk mengenali pria yang tengah membopong tubuhnya.
" Lepaskan aku! " Ucap Ariel dengan nada bicara khas orang mabuk.
" Kalau dilepaskan, bisa-bisa tubuhmu sakit sekarang. " Ujar Presdir Nard.
" Lepaskan saja! aku itu sudah punya suami tahu tidak! Kau ini asal sentuh-sentuh saja, kalau suamiku tahu dan salah paham bagaimana?! "
Presdir Nard menghela nafas.
" Suamimu pasti tidak setampan aku kan? Jadi kau harus bersyukur karena ada pria tampan yang mau membopong tubuhmu. "
Bruk!
Ariel bangkit dan duduk di atas tempat tidur setelah Presdir Nard menghempaskan pelan tubuh tubuhnya tadi.
" Hei, akan ku beri tahu ya? Suamiku memang jelek, dia juga tidak bisa berjalan, dia galak, judes, dan suka sekali membuat ku kesal. Dia bicara hanya satu kata pokok seolah-olah menganggap ku adalah Roi Kimochi. Tapi biarpun begitu, aku tidak masalah dengan itu, dia tidak akan memiliki niat untuk berselingkuh kan? Aku baik-baik saja menjadi istrinya walaupun aku sering merasa kesal. "
Presdir Nard terdiam tanpa ekspresi.
" Sini! Dekat sini! Aku akan membisikkan sesuatu padamu. " Ariel tersenyum sembari melambaikan tangannya agar Presdir Nard mendekat dan dia akan berbisik di telinganya. Seperti yang diinginkan Ariel, Presdir Nard mendekatkan dirinya dan membiarkan Ariel melakukan apa yang dia inginkan.
" Tahu tidak, si brengsek Leo itu kurang ajar sekali karena berani-beraninya membuatku mengingat dia terus. "
Presdir Nard tetap terdiam di posisinya tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Sementara Ariel, gadis cantik itu manyun sebal.
" Ah, ada satu lagi! " Ariel kembali mendekatkan bibirnya untuk berbisik.
" Sebenarnya berkat dia juga aku jadi tidak memikirkan masalah ku, dia membuatku fokus dengannya dan melupakan kesedihanku. "
Presdir Nard menatap Ariel yang jaraknya sangat dekat dengannya. Hembusan nafas Ariel yang hangat tadi jelas begitu terasa di telinga Presdir Nard. Bau anggur dari mulut Ariel juga masih terendus segar hawanya.
" Ariel, jangan salahkan aku berbuat seperti ini. " Presdir Nard meraih tengkuk Ariel, mendekatkan dan menyatukan bibir mereka. Jelas lah Ariel meronta, tapi dia yang perempuan ditambah mabuk parah tentu tak bisa melawan Presdir Nard yang tinggi besar begitu juga dengan otot-otot di tubuhnya.
" Em! " Sudah di coba untuk memukul-mukul pelan tubuh Presdir Nard, nyatanya juga tak memberikan pengaruh apapun yang ada malah Presdir Nard semakin beringas menciumnya. Tak berdaya Ariel sudah kehilangan banyak tenaga, Presdir Nard baru menghentikan aksinya karena tidak ingin memanfaatkan keadaan Ariel saat ini yang jelas sangat menguntungkannya.
" Dasar gadis bodoh, sudah jelas bisa memilih yang lain, tapi kau degan naif nya malah memilih pria cacat. " Ujar Presdir Nard seraya bangkit dari sana, lalu berjalan ke arah jendela untuk menatap langit malam. Dia tersenyum tipis, tatapannya juga nampak bahagia.
" Kau memang pantas. " Ucapnya lalu kembali tersenyum.
Pagi harinya.
" Ah......! " Ariel berteriak kaget saat bangun pagi dan mendapati Presdir Nard berada di satu ranjang dengannya. Bukan hanya itu, satu tangannya juga tadi tengah memeluk perutnya sebelum Ariel menepisnya karena kaget.
" Berisik! " Ujar Presdir Nard yang masih belum sadar benar.
" Presdir Nard, lebih baik anda bangun dan jelaskan padamu apa yang terjadi semalam. "
Presdir Nard membuka matanya, dia nampak terkejut seolah dia melupakan sesuatu. Dia membuang nafas,aku perlahan bangkit dari posisinya.
" Berhenti menutupi tubuhmu dengan selimut, kau kan masih memakai pakaian mu. " Ujar Presdir Nard yang merasa tersinggung seolah-olah dia baru saja menodai Ariel saja. Padahal meksipun memang ada keinginan, juga masih bisa dia tahan dengan baik kok. Buktinya tidak ada yang terjadi dengan Ariel kan? Yah, ciuman bukan bentuk dari pelecehan berat kan?
" Laki-laki itu sangat pintar sekali modus. Siapa tahu setelah meng ewita perempuan langsung dipakaikan lagi bajunya supaya tidak ketahuan. "
Presdir Nard membuang nafas kasarnya seraya bangkit dari sana.
" Apa artinya mengewita? Bahasa aneh dari mana itu? " Ujarnya lalu duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur.
" Ewita itu adalah, laki-laki dengan perempuan, kikuk, alias anu-anuan! " Ariel mempraktekan dengan kedua tangannya membentuk moncong lalu saling mematok.
Presdir Nard menahan tawa, entah bagaimana Kana menjawab jika yang bertanya adalah Ariel dengan gaya seperti tadi.
" Presdir Nard, anda bukan laki-laki yang akan tega mengewita istri orang kan? "
Presdir Nard menggaruk tengkuknya yang tak gatal, rupanya mulut Ariel memang sebocor itu, maka jangan salahkan kalau dia akan dengan senang hati meladeni mulut Ariel.
" Semalam kau duluan yang terus merayuku, tapi beruntung saja aku bisa menahan diri. " Ujar Presdir Nard jelas dia berbohong.
" Aku? Hah! Tidak mungkin! "
" Memangnya aku terlihat bohong? Apa wajahku begitu mesum sampai kau harus berpikir seperti itu? "
Iya! Wajahmu menang sangat mesum, jadi bukan salahku kalau aku curiga. Aku memang tidak merasakan ada yang aneh di tubuhku, tapi aku juga tidak boleh asal percaya saja.
" Laki-laki tampan itu kan rata-rata memang seperti itu. "
" Jadi menurutmu aku tampan? " Presdir Nard bertanya dengan mimik yang menjengkelkan di mata Ariel.
" Iya, sayangnya aku tidak suka pria tampan. " Ujar Ariel tegas.
" Pantas saja kau memilih suami seperti itu. "
Ariel mengeryit menatap Presdir Nard bingung. Kenapa bicaranya seperti itu?
" Maksud Presdir Nard? "
" Kau lupa? Semalam kau sendiri yang bicara padaku bahwa, suamimu cacat, wajahnya jelek, dan kau sama sekali belum disentuh kayaknya seorang istri. Aku kaget, apalagi saat kau memintaku itu ewita, untung saja aku tidak terlalu suka khilaf. "
Ariel menganga kaget. Apakah benar semua itu keluar dari mulutnya? Tapi kalau bukan, dari mana juga dia bisa tahu tentang keadaan Leo? Tidak tidak! Dia tidak boleh membiarkan Presdir Nard berpikir sejauh itu.
" Itu pasti aku sedang melantur, apanya yang tidak pernah disentuh layaknya seorang istri? Jelas-jelas aku dan dia sering melakukanya. Aku sampai hafal besarnya cucung milik suamiku. "
Presdir Nard menelan salivanya, lalu membuang pandangan mengalihkan dari wajah Ariel.
Bersambung.