
Sephora mondar mandir ke kanan ke kiri tak bisa tenang setelah melihat Ariel dan Presdir Nard masuk ke kamar yang sama. Entah apa yang sebenarnya terjadi di antara Presdir Nard dan Ariel, begitu juga dengan semua penghuni rumah yang sangat aneh, pokoknya Sephora tetap pada pendiriannya, dia tidak mau berdiam diri sebelum benar-benar tahu apa yang terjadi dan rencana untuk mendekati Presdir Nard juga tidak boleh gagal.
" Aku harus mencari tahu,m kenapa Presdir Nard bisa disini, dan kenapa semua orang tampak tidak perduli dengan keanehan ini. " Sephora bergegas keluar dari tempatnya untuk mencuci, padahal dia belum menyentuh satu lembar pun baju kotor untuk dia cuci. Tadinya dia ingin mengajak Ibunya juga, tapi saat melihat Ibunya sedang sibuk menyetrika, dia urungkan niatnya dan bergerak sendirian saja.
Sephora berjalan ke dapur, dia mencari pelayan rumah yang biasanya akan ada disana demi sedikit mengorek informasi tentang Ariel dan Presdir Nard. Ah, baru membatin akhirnya ada seorang pelayan yang datang dari belakang sembari membawa sayur-sayuran untuk di cuci sebelum di masak.
" Hei, kau tidak heran dengan apa yang terjadi tadi? "
Pelayan itu sebentar menoleh ke belakang tepat dimana Sephora berdiri. Dia tak bicara, dan langsung kembali mengerjakan apa yang sedang dia kerjakan.
" Hei, kau tuli ya? "
Pelayan itu masih diam, dia benar-benar menganggap Sephora tidak ada dan semakin fokus membersihkan sayuran karena tidak ingin sampai ada ulat yang ikut di masak, pokoknya semua yang di hidangkan di rumah Leo benar-benar harus bersih dan sehat.
" Ck! " Sephora menatap kesal, dia juga bertolak pinggang seolah dia ini adalah majikan atau statusnya di atas mereka yang hanya sebagai pelayan rumah.
" Apa anda sudah mencuci bajunya? Kalau belum sama sekali, atau juga belum selesai, bagaimana kalau anda menyelesaikan perkejaan anda dulu? "
Sephora mendelik kesal, di dalam hatinya membatin, kenapa hanya seorang pelayan yang badannya bau asap makanan, dan tahunya hanya masak seperti dapur adalah hidupnya berani-beraninya berbicara sangat tidak sopan kepadanya?
" Hei, kau ini tidak tahu siapa aku ya?! "
" Nyonya Maria bilang, anda ini adalah pekerja yang tidak mampu bayar hutang, jadi membayar dengan tenaga. "
Sephora makin membelalak marah, rasanya ingin sekali memukul wajah pelayan itu, tapi kalau sampai itu dia lakukan, dia benar-benar tidak tahu hukuman apa yang akan diberikan Ibu Maria kepadanya nanti.
Sudah tidak mau berurusan dengan pelayan rendahan yang menyebalkan, Sephora segera mengendap-endap menuju ke kamar Ariel dan Leo. Semetara di dalam kamar, Leo yang sudah tahu kedatangan Sephora di sana hanya bisa membiarkan saja wanita itu mendapatkan apa yang dia inginkan. Toh, tidak ada satupun orang yang bisa mencuri dengar atau mengintip ke dalam kamarnya.
Setelah sampai di lantai dua, tempat dimana kamar Ariel dan Leo berada. Satu lantai itu semuanya digunakan untuk pribadi Leo dan Ariel. Mulai dari kamar tidur mereka, ruang bekerja, ruang baca, olah raga, dan di ujung lorong adalah tempat untuk menikmati udara malam, dan disana juga ada photo Ariel dan Leo yang baru beberapa hari setelah keberangkatan mereka untuk bulan madu di pajang disana.
Tak berani membuka kamar dan ruangan lain, Sephora hanya menempelkan telinganya, karena tak mendapatkan suara apapun, dia jadi mengeryit bingung mencari letak kamar Ariel dan Leo. Barulah setelah itu dia berjalan terus sampai ke lorong, dan sampailah dia tepat dimana dia bisa melihat dengan jelas photo Ariel dan Leo.
" Gila! Apa-apaan semua ini?! Ah....! Aku benar-benar tidak mengerti, siapapun tolong jelaskan padaku! "
***
Grade menepis tangan Onard yang akan menyeka kotoran di sisi bibirnya. Bukan keinginannya untuk melakukan itu, tapi itu semua karena kakek terus memberikan kode lewat mata agar membersihkan atau menyeka sisi bibir Grade yang terkena saus.
Onard memaksakan senyumnya, dia mencoba untuk menepis pikiran kesalnya kepada Grade dan kembali menjalankan tangannya untuk menyeka sisi bibir Grade. Merasa kesal dengan Onard yang terus mengganggunya, Grade membiarkan saja tangan Onard menyentuh bibirnya, tapi begitu tangan Onard sampai di sana, dengan gerakan cepat Grade mengigit jari Onard lumayan kuat.
" Ah! " Pekiknya kesakitan, dan Grade sekarang benar-benar bisa tersenyum puas.
" Baji- "
Kakek menatap tajam Onard sehingga Onard tidak mampu melanjutkan ucapannya, bahkan menatap kesal kepada Grade juga harus dia tahan. Grade, gadis itu tersenyum miring dengan tatapan yang begitu jelas bahwa dia amat puas dengan situasi sekarang ini.
" Cobalah untuk mengakrabkan diri, kalian pasti akan hidup rukun. "
Onard membuang nafas kasarnya. Sungguh dia tidak tahan untuk tidak memaki kalau lawan bicaranya adalah Grade si pemilik mulut brengsek itu.
" Kau pikir siapa yang suka hidup dengan wanita sepertimu? "
" Itulah kenapa kalau kita lebih baik menjadi musuh. " Ucap Grade.
" Sampai mati pun kalian akan tetap dalam hubungan pernikahan. " Tegas kakek membuat Onard tak bisa melanjutkan keinginannya untuk marah, Grade juga hanya bisa berdecih kesal karena malas berbicara dengan kakek.
" Aku sudah selesai, aku mau kembali ke kamar. " Ucap Grade segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju kamarnya. Masih sesak rasanya berada di dekat kakek, tapi kalau tidak berada di sana dia juga tidak tahu mau kemana. Rumahnya di luar negeri sudah di sita oleh Bank, dia juga tidak memilki apapun lagi kalau ingin bertahan hidup di luar.
Tak lama Onard menyusul masuk ke dalam kamar dan membuat Grade menjadi kembali terlihat tak suka.
" Berhentilah menatap seperti itu, yang tidak rela dalam pernikahan ini bukan hanya kau saja. " Ucap Onard seraya bangkit dari kursi rodanya, lalu dia duduk di atas tempat tidur.
" Kalau begitu, katakan pada kakek mu itu, aku benar-benar tidak tahan dengan kondisi ini. "
Onard menghela nafasnya.
" Sok paling menyedihkan, padahal penderitaan mu itu belum apa-apa dibandingkan dengan ku. "
Grade menghela nafas, lalu menatap Onard kesal.
" Hahahaha... Aku bahagia! Aku bahagia sekali mengingat kalau kau menderita. " Ucap Grade yang jelas sekali dia hanya berpura-pura tertawa.
Onard berdecih melihat bagaimana payahnya Grade bersandiwara.
" Dasar tukang tipu! Padahal kau sedang ingin menangis kan? Tapi sok tertawa, penderitaan ku kan sudah berlalu, sedangkan kau baru di mulai, hahaha aku bahagia mengingat sekarang kau menderita. "
Grade mengigit bibir bawahnya dengan tatapan kesal.
" Onard! "
" Hoi? Apa?! "
" Bersiaplah saat tidur nanti, aku akan membakar mu untuk kedua kalinya! "
" Oh, tidak takut tuh! Kalau mau membakar ku, jangan lupa siapkan bumbunya, kau wajib memakan daging ku. "
" Daging orang cacat sepertimu pasti pahit! "
" Mau coba dulu tidak sebelum kau membakar ku? "
Bersambung.