
Mario tersenyum puas setelah membuat Nara benar-benar tidak bisa berjalan sekarang ini. Yah, dia menang! Teriak Mario di dalam hati berbangga hati kepada dirinya sendiri tentunya. Sekarang Nara sudah tidak akan mengatakan banyak hal aneh yang membuat kesal hatinya, entah masalah cucung yang katanya kecil, kurang stamina, dan lain-lainnya seolah sudah terbantahkan malam tadi. Tuh, lihat saja Nara sampai masih tertidur pulas padahal ini sudah jam tujuh lewat.
" Makanya jangan mengatakan yang tidak-tidak supaya aku tidak berbuat seperti itu, paham? " Gumam Mario sembari menatap Nara yang tengah mengeryit dan sepertinya dia baru akan mulai bangun dari tidur pulas nya.
" Mario, eh! Maksudku sayang kok sudah menggunakan pakaian kantor? Memang sekarang jam berapa? " Nara perlahan mengerakkan tubuhnya untuk duduk di tempat tidur. Yah, dia tidak boleh turun dari tempat tidur karena yakin benar seratus oh, bahkan seribu persen kalau dia tidak akan bisa berjalan sekarang ini.
" Jam tujuh lewat, sebentar lagi sudah akan setengah delapan. "
Nara ternganga tidak percaya kalau dia akan bangun sesiang itu, duh! Padahal dia sudah ingin bangkit, mandi, lalu sarapan. Tapi masalahnya dia terlalu malu kalau sampai dia turun dari tempat tidurnya dan Mario melihat cara berjalannya yang pasti akan gemetaran dan kedua kakinya terbuka lebar, sementara kedua tangannya sibuk memegangi pinggang dan satu lagi menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
" Ngomong-ngomong, mau aku bantu ke kamar mandi? " Mario tersenyum dengan tatapan aneh yang membuat Nara merasa sepertinya Mario sedang meledeknya karena semalam Nara menyerah dengan alasan mengantuk padahal pinggulnya sudah encok dan serasa mau copot bahkan sampai mati rasa.
Nara memaksakan senyumnya.
" Tidak usah sayang, aku ingin berbaring sebentar lagi, aku tidak mengantarmu ke depan tidak apa-apa kan? "
" Oh, tidak masalah sekali. Banyak-banyak istirahat ya? Aku tidak tahu kalau kau ternyata mudah gemetaran, banyak-banyak simpan tenagamu ya istriku, nanti malam aku benar-benar membutuhkan bukti yang sebenarnya. Kau tahu sendiri semalam kau bilang sangat ngantuk dan malah membiarkan aku bergerak sendirian kan? Tolong bantu aku agar cepat pandai ya, istriku yang hebat? "
Nara lagi-lagi memaksakan senyumnya, tapi matanya jelas sekali menunjukan kalau dia sama sekali tidak ingin mengiyakan.
" Baiklah, aku berangkat dulu. "
" Mampus! " Gumam Nara yang dia pikir sudah sangat pelan tapi nyatanya Mario bisa mendengarnya dan dia sempat tersenyum tipis sebelum keluar dari kamar.
" Ah! " Pekik Mario pelan begitu dia selesai menutup pintu kamarnya. Sial! Hanya karena terpancing dengan ucapan Nara yang jelas-jelas hanya ingin memanasinya saja dia sampai begitu rela banyak menggerakkan pinggang maju mundur sampai pinggangnya pegal luar biasa. Yah, bukan hanya Nara saja sebenarnya, tapi Mario juga sakit pinggang tapi pria itu bisa dengan mudah menutupi apa yang dia rasakan di balik mimiknya yang datar dan sesekali terlihat dingin saat berbicara.
" Duh! Ini gara-gara mulut sialan Nara sampai pinggangku jadi seperti encok parah. " Ucap Mario pelan dengan wajah kesalnya, karena dia pikir tidak ada orang yang melihat, Mario berjalan menjauhi kamar sembari memegangi pinggangnya.
" Kak? "
Buru-buru Mario menegakkan tubuhnya karena Lukas tiba-tiba saja muncul entah sejak kapan dan dari arah mana.
" Apa? Kenapa kau menyapaku? Ada perlu apa? Aku sedang buru-buru jadi jangan membuang waktu. Oh, ingat jangan mengajakku bertengkar karena aku tidak ada waktu meladeni mulut menyebalkanmu. "
Lukas menatap Mario penuh tanya, tapi karena dia sendiri juga tidak terlalu suka dengan mulut Mario yang hobi sekali membuat kesal, dia tentu dengan segera menyampaikan apa yang memang ingin dia sampaikan.
" Aku mau pinjam mobil kak Mario yang satunya, mobilku sedang di servis. "
" Pakai saja. "
" Sekalian aku ingin minta nomor telepon pemilik showroom tempat kakak beli mobil waktu itu, temanku ingin meminta potongan diskon yah menggunakan nama kakak tentunya. "
" Minta saja dengan Evan, ponselku tidak sembarangan menyimpan nomor orang lain. "
Lukas sebenarnya kesal sekali tapi demi sahabat baiknya dia tetap menahan kekesalannya itu.
" Iya. " Cepat Mario menjawab maksudnya adalah karena dia ingin segera sampai ke garasi mobil, masuk ke dalam sana dan merasai pinggangnya dan ingin sekali memijat sendiri siapa tahu sakit di pinggangnya bisa berkurang.
" Kak? "
" Apa lagi?! Uang jajan? Mau apa katakan cepat, aku benar-benar sangat sibuk tidak ada waktu untuk terus bercuitan denganmu! "
" Resletingmu terbuka. "
Mario sontak terdiam dan sempat juga dia menekan salivanya meski masih tidak ingin memperlihatkan mimik wajahnya selaim datar dan sedikit terlihat kesal.
" Ini trend terbaru! " Ucap Mario lalu segera meninggalkan Lukas karena benar-benar tidak tahan lagi dengan pinggangnya yang terus berdenyut sakit juga karena rasa malu yang hampir saja membuat wajahnya memerah.
Lukas mengernyitkan dahi sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Apa aku turunkan saja resleting ku juga? " Gumam Lukas kepada dirinya sendiri.
***
Mike membuang nafasnya setelah bangun tidur yang ia dapatkan pastilah hanyalah cucung miliknya selalu dalam keadaan upacara. Ini sebenarnya aneh sekali, masa iya seorang pria yang sudah menikah malah harus olah raga lima jari setiap hari alias colai? Sedangkan istrinya yah cantik dan manis itu malah sibuk dengan dirinya sendiri. Setelah drama keluarganya, sekarang sibuk dengan dapur dan terus membuat kue karena dia memiliki rencana untuk membuka toko kue saat dia merasa kue buatannya layak untuk dia jual.
" Mike, kau sudah bangun dari tadi? " Tanya Lope yang baru saja kembali masuk ke dalam kamar, Lope tahu dan hafal benar jam berapa Mike bangun jadi dia kembali masuk ke kamar untuk menyiapkan baju kerja Mike terlebih dulu.
" Sudah, punyaku juga sudah bangun sebelum aku bangun, sayang sekali selama menikah hanya boleh bangun tapi tidak ada yang membuatnya tidur kalau bukan lima jemariku sendiri. "
Lope terdiam dengan wajah yang memerah, dia tak menjawab tapi segera dia membuka lemari pakaian dan mengambil pakaian mana yang akan di gunakan untuk Mike nanti.
" Mike, mau sarapan apa? "
" Mau sarapan tubuhmu, boleh? "
Lope menggigit bibit bawahnya tidak tahu harus menjawab apa.
" Aku serius. "
" Aku neneknya serius. "
" Mike, ini sudah hampir siang jadi berhentilah bercanda oke? "
" Bercanda apanya? Aku ini sudah menahan diri selama ini, kalau aku harus menunggu seperti suami di dalam drama pernikahan ya aku mana bisa? Masa iya sudah menikah tapi mau ehem-ehem pun tidak bisa. Nanti kalau aku pakai wanita di luar sana salah lagi, jadi tujuan pernikahan ini apakah hanya untuk membuatku belajar menjadi biksu? "
" Oke, ayo kita melakukan itu! "
Bersambung.