Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 58



Ariel mengeratkan genggaman tangannya saat melihat bagaimana Mark menatap Leo. Pria itu seperti sedang menyelidiki, dan Ariel benar-benar tahu jika saat ini Leo pasti sengaja menggunakan masker penutup wajah karena terburu-buru menempelkan kulit buatannya dan tidak ingin Mark tahu lebih cepat.


" Aku benar-benar terkejut dengan kecepatan mu untuk sampai disini, kau pasti sangat menyukai Ariel yang merangkap peran seperti Ibu pengausuh mu? "


Leo menahan kekesalannya, saat ini benar-benar dia tidak bisa banyak bicara karena takut kulit buatannya akan mengelupas ketika banyak pergerakan di wajahnya. Tidak masalah lah kalau yang dihina adalah dirinya, asal jangan sampai dia mendengar Ariel yang dihina, tentu dia masih akan bisa menerima dengan sabar.


" Berhentilah mengatakan itu, Mark. Leo tidak memperlakukan ku seperti itu, jadi jangan terus menghinanya. Leo kan sepupumu, seharusnya kau tidak mengatakan itu, kau seharusnya merangkulnya dan membatu kesulitannya. "


Mark terkekeh, dia benar-benar ingin membalikkan ucapan Ariel barusan, tapi dia juga tahu kalau harus menahannya.


" Ariel, kau memang sangat baik ya? " Mark tersenyum setelahnya.


" Aku ingin memukul wajahnya. " Gumam Win yang sudah gemetar kedua tangannya menahan kekesalan yang menggunung melihat wajah Mark begitu mencemooh Leo dan juga Ariel.


" Tahan, dia sengaja melakukan ini. Jangan melihat wajahnya, kau pasti kesal karena itu kan? " Ucap Leo pelan.


" Tuan Mark, saya harus segera membawa Tuan Leo dan Nona Ariel untuk segera kembali ke rumah. Dokter Tuan Leo sudah datang untung melakukan pemeriksaan, jadi maaf kalau tidak sopan karena tidak mewakili Tuan Leo untuk mengundang anda. " Ucap Win sebisa mungkin dia berlaku sopan meski dia ingin sekali memukul dan mencakar habis wajah menjijikan Mark.


Setelah kepergian Leo, Win dan Ariel, segera Mark mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Amanda.


" Kau percepat rencananya, Leo sepertinya sudah tahu rencana kita dari awal. Aku akan memberitahu yang lainnya, usahakan semuanya selesai secepat mungkin, aku juga akan menyelesaikan urusan ku. "


Setelah mengatakan itu, Mark dengan segera mengakhiri panggilan teleponnya. Dia menoleh sebentar ke arah belakang, dia mengerang kesal karena sadar jika ada orang yang mengawasinya, dan itu pasti orang dari Leo.


" Mister L, orang cacat tapi penuh misteri. Kau bisa saja menyembunyikan apapun dengan rapat, tapi aku juga tidak akan kehilangan harapan bahwa aku bisa menghancurkan mu, sama seperti apa yang dilakukan Ayahku kepada Ayahmu. " Mark tersenyum miring, lalu segera berjalan pergi.


Sesampainya di rumah, Leo segera melepas masker, juga kulit buatannya. Dia meringis merasakan betapa gatalnya kulit wajahnya karena tadi terburu-buru dia sampai tidak sempat mengoleskan krim sebelum menempelkan kulit buatan ke kulit wajahnya tadi.


" Kulit wajahmu merah sekali, itu pasti karena iritasi kan? " Ariel berjalan mendekat, dia menyentuh wajah Leo dan menatapnya dengan tatapan khawatir.


" Bagaimana ini? Kita perlu ke Dokter? "


Leo menatap Ariel yang terlihat benar-benar khawatir, dia menggerakkan tangannya menangkup wajah Ariel dengan tatapan yang begitu lekat.


" Jangan membuatku khawatir, aku benar-benar tidak tahu bagaimana jadinya kalau sampai terjadi sesuatu denganmu. "


Ariel terdiam, untuk kali pertama jantungnya berdebar dengan sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya terhadap Leo. Dia merasa bahagia karena ada pria yang menginginkannya lebih dari apapun, juga mengkhawatirkan melebihi ekspektasi nya.


" Tetaplah baik-baik saja, karena jika kau terluka, demi Tuhan aku tidak akan pernah mengenal belas kasih untuk menghukum orang yang melukaimu. "


Ariel tersenyum dengan mata memerah menahan tangis. Setelah dia dikhianati oleh cinta pertamanya, kini akhirnya Tuhan memberikan pengganti seorang pria yang hanya dengan hitungan jam sudah menjadi suaminya. Benar awalnya semua terasa menyesakkan, tapi perlahan semua membaik, dan sekarang dia bisa merasakan ketulusan dari pria yang dia anggap tidak akan mungkin memiliki apa yang dia inginkan yaitu, sebuah kesetiaan.


" Untuk apa? Bukannya kau harus menjawab akan lebih hati-hati lain hari? "


Ariel tersenyum, dia menghela nafas.


" Sudahlah, aku ambil obat mu dulu. Kau pernah bilang jika ada krim untuk menghilangkan alergi ini kan? "


Leo tersenyum lalu mengangguk.


***


" Leo, dia sudah menyadari rencana kita. " Ucap Mark kepada Ayahnya.


Paman Daris menghela nafas.


" Sebenarnya Ayah tidak ingin melakukan ini, tapi karena Leo yang lumpuh saja bisa melakukan segalanya, dia terlalu kuat dengan Win berada di pihaknya. Kalau ingin melumpuhkan Leo, artinya kita harus melumpuhkan Win, Nard, dan juga Ariel. Tanpa mereka bertiga, Leo bukanlah apa-apa. "


Mark terdiam dengan segala pemikirannya, sebenarnya dia lumayan tertarik dengan Ariel dan berniat menjadikan Ariel sebagai wanitanya. Tapi, kalau situasi tidak semudah yang mereka pikirkan, maka dia hanya bisa brutal dengan caranya karena cara lembut sudah pasti tidak berguna sekarang.


" Jadi, kita harus bergerak dan bertindak dengan tiga orang, apa Ayah yakin kita bisa melakukanya? "


Tuan Daris menatap Mark dengan tatapan kesal.


" Kenapa kau bertanya? Apa kau tidak berpikir jika kau seharusnya berusaha lebih keras agar tujuan kita cepat selesai dan kita bisa hidup dengan tenang? "


Mark terdiam sebentar, lalu mengangguk setelahnya. Sungguh dia tidak sanggup menolak karena dia tahu bagaimana sifat Ayahnya yang sangat keras dan tidak menerima kegagalan. Ini sudah terbukti selama hidup bersama Ayahnya.


" Sekarang kita urus kakek mu dulu, dia pasti memilih diam selama ini karena ingin melindungi Leo. Jangan biarkan dia bertindak, apalagi sampai mencaritahu apa yang akan dia lakukan. "


Mark mengangguk meski dia merasa ragu melakukannya.


" Dendam yang begitu menggunung ini tidak akan bisa di redam, kau sebagai keturunanku, dan kau juga adalah anak laki-laki yang aku harap kau bisa menyelesaikan semua tujuan Ayah. "


" Ayah, mengenai dendam, sebenarnya dendam apa yang membuat Ayah melakukan ini semua? "


Tuan Daris menatap nanar photo keluarganya yang masih terlihat bagus karena dirawat dengan benar.


" Saat Ayah berusia sepuluh tahun, kakek mu datang membawa seorang anak laki-laki berusia empat tahun bersama dengan seorang wanita. Dia mengatakan jika dia adalah adikku, dan wanita yang datang bersamanya adalah istri keduanya yang diam-diam dia simpan selama ini. Setelah kedatangan sepasang anak dan Ibunya itu, nenek mu benar-benar tidak pernah berhenti menangis, dia begitu marah tapi kakek mu terus menegaskan jika tidak mau menerima mereka, dia harus keluar dari rumah ini. Demi Ayah mu ini, nenek mu bertahan sampai dia meninggal dengan hati yang terluka. Kakek mu, dia benar-benar masih bisa tersenyum saat berada di pusara nenekmu, dia dengan tidak berperasaan menggandeng tangan Ayahnya Leo, dan Ibunya. Saat melihat itu, dendam yang begitu banyak perlahan-lahan terkumpul dan aku berani melakukan tindakan kriminal, tapi sayangnya aku belum merasa puas sampai saat ini. "


Bersambung.