Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 68



Leo menggenggam erat tangan Ariel selama perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan. Sekarang ini mereka tengah berada di negara yang masuk kedalam negara terindah di dunia. Sekarang Adana yang begitu asri, indah, menyatu dengan alam sesuai dengan ajaran Dokter agar Ariel bisa sedikit memperbaiki suasana hatinya yang sempat terguncang hebat beberapa waktu lalu.


Tidak membantah atau melarang sama sekali keinginan Ariel, Leo benar-benar memanjakannya asal itu tidak membahayakan Ariel. Bukan begitu kecintaan hingga di sebut bidah cinta, hanya saja Leo merasa kebahagiaan Ariel adalah tanggung jawabnya, dan dia akan merasa sukses menjadi suami yang baik ketika Ariel terlihat bahagia.


Hari-hari terlewati dengan begitu bahagia, Mereka berdua menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, memanen buah di kebun buah yang di negara mereka tidak ada, menaiki beberapa macam wahana, juga beberapa kali camping berdua, dan banyak lagi kegiatan yang membuat keduanya bahagia.


***


Ibu Maria menghela nafasnya minat Ibu tiri mengatupkan tangan memohon agar Ibu Maria tidak mengusirnya. Sudah satu bulan, nyatanya mereka tak memenuhi perjanjian dan masih saja berada di sana dengan alasan tidak ada tempat yang bisa di tuju.


" Maria, kau kan pernah aku tolong, seharunya kau jangan terlalu tega begini. Sebentar lagi putriku Sephora akan menikah, kita tidak mungkin terlihat miskin kab? Nanti kalau pernikahan Sephora di batalkan gara-gara itu bagaimana? "


" Bukan urusanku. " Jawab Ibu Maria yang memang lah dia tidak perduli sama sekali. Sebenarnya dia sudah sangat lelah, kedatangan dia ke rumah itu karena ingin melihat secara langsung apakah rumah itu sudah kosong semua termasuk barang-barangnya atau belum. Tapi betapa kesalnya dia karena ternyata keluarga itu masih berada di sana seperti orang bodoh yang tidak paham bahasa manusia saja.


" Bagaimana kalau kami mengikuti aturan perjanjian itu? Kami janji akan menjadi pelayan di rumah menantu mu itu? Tapi izinkan kami tinggal disini sampai Sephora menikah dengan Bram? "


Ibu Maria menghela nafas. Sungguh dia sangat lelah beberapa waktu terakhir ini. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari bukti-bukti yang bisa membuktikan bahwa dia tidak bersalah karena permohonan untuk sidang ulang sudah di setujui, dan itu berkat Leo. Tapi melihat Tuan Daris dan istrinya malah membuat Ibu Maria semakin lelah dan sakit kepala.


" Maria, kau jangan terlalu kejam begini ya? Kau kan tahu bagaimana rasanya memiliki anak perempuan, tidak mudah mengurus anak perempuan apalagi kalau akan menikah kan? "


Ibu Maria menatap sinis kedua bola mata Ibu tiri yang ia buat sok sedih. Sungguh sangat tidak bisa dipercaya jika seseorang yang sudah menghancurkan putrinya masih bisa begitu egois meminta dia untuk memikirkan Sephora yang ikut andil dalam menyakiti putrinya selama dia di dalam penjara.


" Kau, tahu benar kenapa aku bisa masuk penjara, kau tahu benar bagaimana bisa Ayah kandung dari putriku malah tidak menyayangiku, kau tahu benar bagaimana perlakuan putrimu yang kau cintai itu dalam memperlakukan putriku. Kau, menuntut ku untuk mengerti dan memahami, menyeret ku untuk memikirkan putrimu juga? Kau, apakah kau pernah sedikit saja menyayangi putriku? Tidak kan? Lalu kenapa aku harus perduli dengan putrimu itu? "


Ibu tiri menghembuskan nafas kasarnya. Sungguh sedari tadi dia sudah mengucapkan kalimat-kalimat memohon agar Ibu Maria luluh seperti dahulu. Ibu Maria dulu begitu mudah luluh, rela menderita agar Ibu tiri merasa bahagia demi untuk menyenangkan Ibu tiri saja. Sekarang mana mungkin dia akan memiliki hati yang sama setelah apa yang terjadi kepada putrinya?


" Tolong, aku benar-benar minta tolong Maria. Aku benar-benar akan bekerja sebagai pelayan mulai besok asalkan Sephora menikah dulu dengan Bram. Nanti kalau semua sudah selesai, aku akan memenuhi perjanjian kita. "


Ibu Maria tersenyum penuh maksud. Benar-benar memang sudah kehilangan akal sehat, tapi tidak apa-apa, anggap saja ini kesempatan untuk putrinya membalaskan dendam kepada ketiga orang yang sudah menyakitinya selama ini.


" Yah, aku akan berdiskusi dulu dengan putri juga menantuku. Tapi aku harus menitipkan pesan ini ya? Menantuku itu bukan orang yang gampang, mungkin kalian akan kesulitan menghadapinya, jadi tolong persiapkan hati dan keteguhan kalian mulai dari sekarang. "


***


Onard menghela nafas sebal begitu menatap dirinya pada pantulan cermin. Hah! Dia sudah mengunakan tuksedo untuk pernikahan, padahal yang akan menyaksikan pernikahan mereka hanya beberapa orang saja. Sebenarnya dia benar-benar malas menikahi Grade, selain dia tidak menyukai Grade, dia juga sudah memantapkan diri untuk tidak menikah seumur hidupnya. Sebenarnya dia memiliki kemampuan sebagai seorang laki-laki atau siginifikan nya sebagai seorang suami setelah terapi bertahun-tahun lamanya. Kembali lagi, dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk jatuh cinta, apalagi hidup degan wanita dalam ikatan pernikahan yang mengharuskan mereka tinggal dalam satu rumah.


Onard menghembuskan nafas kasarnya, dia melirik menajamkan mata menatap Win. Memang sudah biasa bagi Win meledeknya, tapi sungguh sekarang ini dia sedang sangat kesal dengan apa yang terjadi.


" Deg degan kepalamu! Kalau saja kakiku bisa lebih kokoh, aku benar-benar ingin kabur dan membuat mu menggantikan ku seperti kebanyakan drama-drama pengantin pengganti. "


Win memaksakan senyumnya, memang benar-benar sangat luar biasa karena pada akhirnya Onard yang paling benci pernikahan akan menikah. Heh! Luar biasanya lagi, wanita yang akan dia nikahi adalah wanita yang sangat dia tidak suka.


Beberapa saat kemudian, Onard dan Grade duduk bersebelahan setelah upacara pernikahan mereka selesai. Mereka jelas menunjukkan betapa tidak rekanya mereka dinikahkan, tapi tidak bisa banyak bicara untuk protes.


" Demi Tuhan aku tidak sudi menjadi istrimu. " Ujar Grade dan hanya Onard yang bisa mendengarnya.


" Demi langit dan bumi beserta isinya, aku benci sekali harus menerima kenyataan kalau aku adalah suamimu. "


" Jangan berani-beraninya menyebut kata suami mu di dekatku. Telingaku benar-benar sakit, perutku juga mual. "


Onard tersenyum keheranan.


" Oh? Perutmu mual mungkin karena kau hamil. Aduh, benar-benar sial dapat wanita bekas banyak orang. "


Grade menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Memang benar dia sudah tidur dengan beberapa mantan kekasihnya, tapi tetap saja kalimat itu sangat menyakitkan jika terdengar olehnya.


" Syukurlah kalau aku hamil, setidaknya itu ada gunanya kan? Dengan begitu orang tidak akan mengejek milikmu yang tidak ada gunanya kan? "


Onard tersenyum dengan mimik santai.


" Punya masih bisa digunakan atau tidak, yang pasti aku tidak akan menggunakannya untuk menghamili mu. "


" Bagus lah kalau begitu, setidaknya aku tidak perlu merasakan hawa api yang masuk ke milikku. "


Onard mendelik kesal.


Bersambung.