Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 89



" Tadi aku tidak sengaja dengar Grade menyebut mu sebagai suami, jadi kau sungguh suaminya? "


Onard menghela nafas, tapi dia tersenyum setelahnya. Dia tidak bisa seperti Leo yang akan berwajah dingin sepanjang waktu saat berada di pesta semacam ini, tapi Onard tahu benar cara menangani orang semacam ini.


Sebentar Onard menatap pria itu dari atas ke bawah menilai yang terlihat di sana. Dia kembali tersenyum begitu tatapan mata mereka bertemu, apalagi saat pria itu dengan wajah palsunya menyodorkan telapak tangannya mengajak untuk saling bersalaman seperti orang yang begitu sopan dan butuh di hormati.


" Ah, maaf sekali aku tidak berani bersentuhan dengan orang sembarangan. "


Ucapan Onard barusan rupanya membuat pria itu terkekeh tak percaya. Mungkin di dalam hatinya mengejek seperti ini, sudah cacat tapi begitu sombong! Iya, memang apa yang bisa di gumamkan orang di dalam hati setelah melihat kondisi tubuhnya, di tambah lagi dia bisa bersikap angkuh dengan bibir yang terbentuk senyum seperti yang di lakukan Onard.


" Kau pasti punya banyak uang kan? Karena kalau tidak, aku yakin Grade tidak akan mungkin mau menikahi mu. "


Onard tak kehilangan senyum di wajahnya, dia tetap terlihat tenang tak menunjukkan bahwa dia merasa terhina karena memang Onard sudah biasa sekali menghadapi orang semacam itu.


" Kau pasti salah satu orang yang di buang Grade karena rasa bosannya, atau memang dari awal dia tidak tertarik dengan mu? "


Pria itu tersenyum, tapi jelas sekali kalau dia mula terpancing emosi.


" Kau tahu kenapa Grade mau dengan mu? Kau tahu Ayahnya yang di hukum mati karena sebuah kasus besar yang mengerikan bukan? Kakaknya juga mati karena rencana Ayahnya, apa kau yakin tidak masalah menikahi dia? "


Onard menghela nafas tapi mimiknya terlihat tak terganggu dengan apa yang di ucapkan pria itu. Dia mengubah posisi kakinya, kaki kiri terangkat, lalu kaki kanannya menopang kaki kirinya. Onard kembali tersenyum apalagi melihat wajah pria itu mengeryit melihat kakinya yang bisa di gerakkan tapi malah duduk di kursi roda.


" Masa bodoh saja dengan apa yang dilakukan Ayahnya, atau juga kakaknya. Yang aku nikahi adalah Grade, bukan masa lalunya. "


" Jangan buru-buru begitu, Grade itu wanita yang sulit di tebak. Dia sangat suka mengganti pasangan kapanpun, dia orang yang mudah bosan, dan melihat mu duduk di kursi roda begini aku yakin pernikahan kalian hanya akan bertahan satu atau dua bulan saja. Kau tahu kenapa? Karena Grade tidak suka dengan pria yang lemah dibatas tempat tidur. "


Onard tetap tersenyum, tapi ucapan pria itu sepertinya cukup membuatnya merasa tersentil. Tahu, Onard sungguh tahu kalau banyak sekali pria yang mendekati Grade, dan Grade memang seperti yang di katakan pria itu. Hubungannya dengan Grade memang tidak seperti hubungan suami istri pada umumnya, dan itu membuat Onard berpikir, mau sampai kapan Grade hidup seperti itu? Setelah sekian lama terus bersama dengan pria kekar yang bisa memenuhi keinginannya, sekarang Grade harus hidup dengan pria yang berdiri terlalu lama juga tidak sanggup, jadi mungkinkah Grade mampu melaluinya?


" Jangan khawatir kalau soal itu. "


Pria itu nampak terkekeh dengan begitu bersemangat.


" Kau saja malas berdiri, bagaimana aku yakin kau bisa melakukannya? "


Onard mengeraskan rahangnya. Benar dia malas berdiri, tapi dia tidak perlu menjelaskan secara detail kalau dia masih bisa melakukan apa yang bisa di lakukan pria kan? Mungkin benar dia tidak akan bisa sehebat pria lainya, jadi memilih diam dan membiarkan pria itu bicara sebanyak apa yang dia inginkan adalah pilihan paling tepat rasanya.


" Masalah itu, haruskah aku melakukannya padamu baru kau bisa percaya? " Onard tersenyum dengan tatapan mengancam, juga terasa menekan yang di rasakan pria itu.


" Gila! Aku hanya menyukai perempuan! "


" Oh, begitu ya? "


Di sisi lain.


Grade yang tahu benar jika dia sedang di jauhi oleh teman-temannya hanya bisa menganggap mereka sekumpulan berang-berang yang sedang asing mencakar. Sudah dua gelas anggur non alkohol yang dia minum tanpa mengobrol sepatah kata pun. Temannya yang tadi mengajak bergabung juga tiba-tiba mengabaikannya dan sibuk bercengkrama dengan yang lainnya.


" Oh iya Grade, kau yakin dia Adah suami mu? Sedari tadi aku ingin bertanya tapi takut kau tersinggung jadi sempat aku tahan hingga barusan. "


Grade memutar bola matanya jengah, sekarang dia sudah tidak di takuti seperti dulu lagi karena kasus Ayah dan kakaknya, tapi sungguh itu bukan masalah, karena dia tidak kehilangan kepercayaan diri barang sedikitpun.


" Iya, dia memang suamiku. "


Mereka nampak saling menatap seperti tidak mempercayai apa yang di katakan Grade.


" Kau yakin? Pria itu lumpuh dan pasti itunya tidak berfungsi kan? "


Grade menghela nafas, dia menatap wanita yang bertanya seperti itu dengannya dengan tatapan tajam. Sempat dia terlihat takut, tapi karena dia ingat apa yang terjadi dengan Ayahnya Grade, wanita itu muka terlibat berani dan menatap balik tatapan Grade yang menakutkan itu.


" Jangan menunjukan betapa kau menakutkan, Grade. Aku hanya bertanya saja, jika memang pertanyaan ku tidak menyenangkan kau bisa mengabaikannya saja kan? Aku punya niat baik dengan mengenalkan seseorang pria padamu, yah tapi kalau dia mau denganmu. Semua berita tentang keluargamu kan sudah menyebar luas kemana-mana, jadi aku tidak yakin akan ada pria yang mau dengan mu. "


Grade meletakkan gelas anggur yang sedari tadi ia pegang. Sebisa mungkin dia tersenyum, tapi tatapannya tetap terlihat berani seolah berita tentang keluarganya sama sekali tidak mempengaruhi kepribadiannya.


" Aku rasa kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu, aku bisa mendapatkan pria yang aku inginkan apapun yang sudah terjadi dengan keluargaku. Kekasih mu itu juga masih terlihat tertarik denganku, bagaimana kalau ku buktikan kata-kata ku? "


Wanita itu membulatkan matanya begitu terkejut dengan ucapan Grade yang masih sama seperti dulu. Grade yang percaya diri saat berkata-kata bahkan selalu menepati ucapannya tentu saja membuat gadis itu merasa takut.


" Kau jangan berani menantang ku di balik ucapan sok perhatian mu itu, aku tidak bodoh sampai tidak tahu maksud mu berteman denganku, kalian juga memiliki maksud tersendiri, aku tetap membiarkan kalian, tapi aku tidak akan membiarkan kalian mengusik kehidupan ku. "


" Jangan tersinggung begitu, Grade. Kami hanya bertanya karena khawatir denganmu, tidak ada yang lain. " Ucap wanita yang membawa Grade kesana tadi.


" Aku sempat memikirkan ini di jalanan, alasan apa yang akan gunakan untuk memutuskan hubungan persahabatan palsu di antara kita semua ini, dan sekarang aku sudah memiliki alasannya. " Grade bangkit dari duduknya, tersenyum dengan percaya diri.


" Aku tidak akan menghabiskan waktu bersama kalian lagi, karena aku akan sangat sibuk bersama suamiku. "


Bersambung.