
Mario tersenyum senang mengingat apa yang terjadi semalam di antara dia dan juga Nara. Bagiamana tidak senang? Semalam saat dia dengan sok berani menawarkan diri untuk belajar yang namanya berhubungan badan, Nara justru terang-terangan menyerah dan mengatakan jika pinggangnya benar-benar sangat sakit dan tidak tahan lagi. Yah, padahal dia sendiri juga sedang merasakan sakit pinggang, tapi untunglah Nara sudah menyerah duluan sehingga dia tidak perlu terlihat kalau sedang sakit pinggang juga kan?
" Pak, jadwal untuk makan siang bersama Pak Rehan akan dilakukan pukul dua belas empat lima, jadi kita perlu bersiap untuk berangkat sekarang. "
Mario tersentak karena sampai tidak menyadari kedatangan sekretaris sekaligus asistennya.
" Ah, iya. "
Asisten sekretaris Mario jelas bisa melihat senyum aneh yang di tujukan tadi, benar-benar sangat tidak biasa sehingga membuat asisten sekretaris Mario merasa keheranan sendiri sembari menebak di dalam hati, kira-kira hal menyenangkan apa yang bisa membuat Presdir di perusahaan dia bekerja tersenyum seperti itu? Memang sih Mario belum lama di angkat menjadi Presdir di perusahaan RC, tapi dia sudah mengenal Mario sebelumnya dan tahu benar kalau Mario itu jarang sekali tersenyum seperti itu, bicara juga pasti hanya ada hal yang menyakitkan.
Selama di dalam perjalanan menuju restauran di sebuah hotel terkenal Mario juga beberapa kali kedapatan tersenyum bahkan terkekeh juga membuat Asisten sekretaris merinding ngeri. Kalau saja Mario berbicara ketus dia masih bisa menghadapi dengan sabar dan legowo karena itu adalah hal yang lumrah, tali tersenyum seperti sekarang ini bahkan sempat terkekeh tentu saja mengerikan baginya.
Begitu sampai di restauran yang di janjikan, Mario dan sekretaris ( Dev ) Langsung saja masuk dan menuju tempat mereka sudah membuat janji.
" Selamat siang pak Rehan, maaf sekali sepertinya saya datang terlambat ya? " Sapa Mario seraya menjabat tangan Pak Rehan yang sudah terukur padanya karena begitu menyadari kedatangan Mario, pria itu langsung bangkit dan untuk menyambut Mario. Memang Mario jauh lebih muda dari pada dirinya, tapi Mario adalah anak dari Leo yang bisa di gambarkan kualitas mereka dalam bisnis hampir saja sebanding dan tidak meragukan lagi.
" Tidak masalah karena saya juga baru saja datang. Silahkan, Saya sudah memesan beberapa menu yang saya rasa anda akan menyukainya, nanti anda bisa pesan lagi, makanan yang saya pesan sepertinya akan datang sebentar lagi. "
Mario mengangguk dan sedikit tersenyum.
" Tenang saja, saya bisa makan apapun kok. "
" Hah.... Baiklah kalau begitu, saya jadi bisa merasa lega. "
Setelah itu mereka terus mengobrol membicarakan beberapa hal juga termasuk masalah bisnis, hingga makan siang selesai pun mereka benar-benar sangat menikmati pertemuan mereka itu hingga tanpa Mario sadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus terarah padanya.
" Saya benar-benar merasa bahagia bisa makan siang bersama dengan anda, pak Rehan. " Ucap Mario karena pertemuan di antara mereka harus segera di akhiri. Tentu saja alasannya adalah kesibukan mereka masing-masing.
" Sebaliknya juga begitu, saya benar-benar senang karena akhirnya saya bisa berbincang dengan anak dari Leo yang sangat kompeten dan hebat ini. "
" Ah, anda terlalu memuji. "
" Tapi emang seperti itu kenyatannya. "
Setelah kepergian Pak Rehan, barulah Mario dan Dev menyusul untuk ikut pergi, tapi baru saja akan menuju mobil yang baru saja berhenti di depan mereka suara seorang gadis terdengar menyebut nama Mario.
" Mario? "
Mario menoleh ke arah sumber suara, terkejut memang, tapi Mario tak menunjukan ekspresi apapun. Gadis itu tersenyum dengan manis, sama persisi saat pertama kali dia melihat gadis itu dulu, hanya saja Mario sudah tidak bisa membalas senyuman manis dan indah itu lagi.
" Apa kabar? " Tanya gadis itu begitu jarak mereka begitu dekat, sekitar tiga langkah kaki saja.
" Sangat baik, kau sendiri apa kabar, Luna? "
Iya, gadis cantik itu adalah Luna, gadis yang pernah membuat Mario begitu sengsara karena rasa cinta, rindu, dan bersalah hingga pada akhirnya kerepotan sendiri akan perasannya dan menjadi menyalahkan semua itu kepada wanita yang selalu memberikan perasaan tidak nyaman.
" Aku baik juga, ini hati pertama aku kembali dari luar negeri, dan beruntungnya aku sudah bisa bertemu denganmu. "
" Iya, syukurlah kalau begitu. "
Luna terkejut sebenarnya melihat sikap Mario yang begitu berbeda dari dulu dia kenal. Tatapan yang dingin, wajah datarnya, cara berdiri dengan kesan tidak mudah di dekati.
" Kau, sudah banyak berubah ya? "
Mario tersenyum tipis tapi dia sama sekali tidak menunjukan ekspresi yang bisa di baca oleh Luna hingga lagi-lagi membuat Lina kebingungan mengartikan bagiamana perasaan Mario ketika kembali bertemu dengannya setelah sekian tahun berpisah dengan tiba-tiba.
" Iya, hidup mengajarkan banyak hal bukan? "
Luna memaksakan senyumnya, padahal harapan terbesarnya adalah bertemu dengan Mario dan bisa merajut asmara yang dulu pernah ada di hati mereka, tapi sepertinya Mario sangat sulit untuk di dekati sekarang. Sebenarnya Luna sudah mencoba mencari tahu tentang bagaimana kehidupan Mario beberapa tahun setelah mereka berpisah, tapi semua kabar mengatakan jika Mario sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun juga. Terakhir kali ada kabar yang mengatakan jika dia sudah menikah, tapi sayangnya sampai sekarang Mario maupun keluarganya belum membenarkan kabar itu, jadi Luna berharap kabar itu hanyalah gosip semata.
" Mario, kalau boleh apakah kita masih bisa berteman? "
Mario memaksakan sedikit saja senyumnya menanggapi ucapan Luna barusan.
" Ah, aku lupa mengatakan ini. " Mario menatap Luna dengan tatapan serius membuat Luna berdebar dan berharap apa yang akan di katakan Mario adalah hal yang dia inginkan juga.
" Terima kasih sudah mampir di hidupku dan memberikan pelajaran hidup yang berarti. Aku juga minta maaf untuk apa yang membuatmu tidak nyaman di masa lalu. Sejujurnya aku terbebani karena rasa bersalah yang menyesakkan itu, tapi ketika melihatmu bisa berdiri dengan baik dan terlihat sehat, aku benar-benar lega. "
Luna lagi-lagi hanya bisa memaksakan senyumnya, tentu saja ucapan Mario barusan benar-benar seperti peringatan bahwa Luna hanya akan berada di masa lalu saja.
" Waktu itu aku pergi karena keadaan tubuh ku yang kurang baik, maaf tidak memberikan kabar sama sekali padamu. "
" Tidak apa-apa, berkatmu aku bisa jadi sekarang ini, dan berkatmu juga aku jadi bertemu dengan wanita yang bodoh itu. " Mario tersenyum karena lagi-lagi teringat dengan Nara dan segala tingkahnya.
" Kau sudah memiliki wanita? Maksudku pasangan? "
" Iya, wanita yang sok berani, sok mesum, sok hebat, tapi dia membuatku merasa yakin dan begitu rindu untuk menjahilinya. "
Bersambung.