Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 31



" Sayang! " Panggil Nara membuat gadis itu dan Sogha menoleh dengan kompak.


Mario berjalan mendekat, lalu seperti biasa dia akan mencium dahi Nara berangkat juga pulang kerja alias minimal sehari dua kali. Sogha dan gadisnya kompak terkejut bukan main karena mereka tahu benar siapa Mario itu.


" Kenapa harus bertemu di sini? Kau tidak mungkin tidak tahu makanan seperti apa yang biasa aku makan kan? " Tanya Mario tak berekspresi, tapi tatapan matanya terus terarah kepada Nara tanpa perduli sedikitpun dengan dua orang di seberang mejanya.


Sogha masih membulatkan matanya karena dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Mario, dia benar-benar tahu sekali siapa Mario karena beberapa waktu lalu dia trending di media sosial karena dia sudah memimpin RC di usia yang masih muda. Banyak sekali akun-akun gadis cantik yang memenuhi setiap kolom komentar dan berharap Mario Sudi memilihnya sebagai Nyonya Mario. Bahkan saat kabar bahwa Mario sudah menikah juga masih banyak sekali gadis yang rela menjadi istri kedua, ketiga bahkan tidak masalah juga kalau harus menjadi istri ke empat.


Tunangan Sogha juga tak kalah terkejut bukan main. Padahal dia begitu bangga karena sudah akan menikahi Sogha, tapi bagaimana bisa dia berbangga diri dan terus memamerkan Sogha sebagai calon suami jika suami Nara adalah Mario yang amat tampan dan kaya?


" Oh iya, perkenalkan ini adalah Mario, dia suamiku. " Ucap Nara yang sukses membuat Sogha dan juga kekasihnya tersadar dari lamunannya.


" Apa, apa kabar? " Sogha mencoba sebaik mungkin untuk bersikap biasa saja meski tentulah itu sangat sulit untuknya. Mario yang sulit sekali untuk di temui kini malah tengah bersama Nara dan ternyata dia adalah suaminya Nara.


Mario menatap wajah Sogha dengan tatapan yang tidak bisa untuk di artikan oleh Sogha sendiri. Seperti sedang menyelidik, tapi juga seperti tidak perduli sama sekali kepadanya.


" Perkenalkan, nama saya adalah Karina. Saya Adalah kenalannya Nara, Tuan Mario. "


Semua orang kini menatap ke arah tunangan Sogha karena mereka jelas lah merasa bingung apalagi Nara, kenalan apanya? Bertemu saja baru hari ini.


" Oh. " Mario menatap sebentar, lalu memilih untuk mengeluarkan ponselnya dan entah apa yang dia lihat di layar ponselnya membuat Nara ingin tertawa. Bagaimanapun berusaha nya, mendapatkan suami yang tidak mudah di goda wanita seperti Mario adalah hal yang sangat sulit.


Karina terdiam dengan perasaan kecewa, padahal dia sudah memasang wajah manis dan anggun, tapi kenapa malah dia merasa seperti di acuhkan mentah-mentah? Mario kan sudah sempat melihat kearahnya sebentar, apakah benar dia sama sekali tidak tertarik padanya walau sedikit?


Sogha, pria itu tertunduk lesu. Bagiamanapun dia bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud dari tunangannya, ditambah lagi dia merasa rendah diri karena ternyata Nara malah sudah menikah dan suaminya adalah seorang Mario yang jelas tidak bisa di bandingkan dengan dirinya.


Sebenarnya, dulu Sogha sama sekali tidak berniat meninggalkan Nara, tapi karena kedua orang tuanya langsung memintanya untuk pergi demi menjauhkan diri dari Nara yang orang tuanya akan bangkrut, menolak pun dia tidak sanggup setelah di tekan mati-matian oleh orang tuanya. Tak lama Sogha di minta untuk menikahi anak dari kenalan bisnis Ayahnya, tapi sial sekali karena baru satu bulan menikah ternyata istrinya malah sudah mengandung empat bulan. Setelah kejadian itu Sogha langsung memutuskan untuk bercerai, dan sekarang lagi-lagi dia di paksa menerima perjodohan dengan Karina yang tujuannya adalah untuk mengembangkan bisnis kedua belah pihak.


" Jadi kau sudah menikah ya, Nara? " Gumam Sogha yang bisa di dengar jelas oleh Nara dan yang lainnya.


Sebenarnya tidak penting untuk cemburu dengan pria yang di anggap tidak selevel dengannya, tapi tetap saja perasaan tidak suka itu di rasakan oleh Mario. Setelah membuang nafas sebalnya, Mario menatap Sogha yang terlihat kelu seperti pria yang baru saja kehilangan cinta sejatinya.


" Hei bung? Kau sedang menyesali apa? Kau tidak boleh bersedih dan menunjukan wajah itu setelah kau tahu istriku sudah menikah. "


" Aku, hanya ingin mengatakan beberapa hal yang ingin di jelaskan kepada Nara, tapi sepertinya apapun yang aku katakan nanti tidak akan mengubah apapun. " Ujar Sogha masih terlihat tak berdaya.


" Sudah tahu kalau itu percuma, kenapa masih disini? "


Sogha tersentak menatap Mario sebentar, benar-benar wajah datar yang menyebalkan! Bagaimana bisa orang memasang wajah datar tapi mulutnya berbicara dingin seperti itu?


" Ah, maaf ya Tuan Mario. Bagaimanapun hubungan Sogha dan juga Nara kan terjalin lumayan lama. Menurut teman-teman mereka, Nara dan Sogha ini dulunya adalah pasangan serasi, dan juga sangat saling mencintai. Sebetulnya pernikahan antara aku dan Sogha juga terjadi karena perjodohan saja, jadi wajar kalau Sogha akan terlihat tertekan. Dia itu kan masih mencintai Nara, jadi seperti inilah ekspresi dia saat bertemu Nara yang entah bagaimana bisa menikah dengan Tuan Mario. "


Nara menaikkan sisi bibirnya karena merasa sebal, padahal tadi dia menempel terus seperti kuman membandel kepada Sogha, sekarang seolah ingin menjelaskan bahwa hubungan mereka adalah karena perjodohan dan bahkan sampai membahas soal masa lalu tidak penting hanya untuk membuat Mario memiliki minat padanya.


" Panjang sekali penjelasanmu apa tidak pegal mulutmu? "


" Pft! " Nara menutup mulutnya karena tidak tahan dengan tanggapan Mario kepada Karina.


Sementara Karina, wanita itu tersentak dan sudah tidak mampu lagi berbicara. Ternyata Mario benar-benar bukan pria yang mudah untuk di goda, Mario bahkan dengan jelas menunjukan di mana kelasnya yang tidak akan bisa di jangkau oleh Karina.


" Nara, apakah menikahi Tuan Mario untuk menyelamatkan perusahaan Ayahmu? "


Nara tersentak menatap Sogha yang baru saja mengajukan pertanyaan dengan wajah putus asa. Mungkin tebakannya Sogha memang benar, tapi kalau memikirkan situasinya saat awal menikahi Mario perusahaan Ayahnya memang hampir bangkrut, tapi sekarang perusahaan Ayahnya membaik pesat jadi bagaimana dia akan menjawab pertanyaan Sogha barusan.


" Bodoh sekali! Dia menikahiku karena dia lelah bermain dengan kotoran anjing sepertimu. " Ucap Mario lagi-lagi menghina dengan wajah datarnya.


Nara tersenyum tipis, gila! Jadi begini rasanya menjadi istri dari seorang Mario yang sangat ketus dan juga menyebalkan bagi orang lain? Hah, karena hal ini Nara jadi berdebar jantungnya.


" Tuan Mario, meskipun kau kaya dan di segani banyak orang, setidaknya kau tidak bisa menghina seseorang seenakmu. " Sogha tentu saja marah, tapi dia tidak bisa berbicara dengan nada tinggi karena di hadapannya adalah seorang Mario.


" Bagaimana bisa kotoran anjing menyamakan dirinya dengan sebutan orang? " Ujar Mario.


Bersambung.