
Mario menatap Nara sesekali karena dia benar-benar ingin memastikan bahwa Nara kali ini tidak akan pernah mengatakan omong kosong lagi terutama dengan ukuran miliknya yang yakin sekali bahwa ukuran miliknya termasuk banyak di idamkan pria lain. Memang aneh sekali sih kalau dipikirkan lagi, padahal dia bisa saja cuek dan tidak menganggap apa yang dikatakan Nara, tapi dia justru mudah sekali tersinggung dan langsung ingin membantah tuduhan Nara yang sangat tidak benar itu.
Ariel tersenyum menatap wajah Mario yang nampak sangat fokus saat dia mencuri pandang ke arah Nara tadi. Entah sudah seberapa dalam hubungan mereka sekarang, tapi Ariel benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bahagia. Yah, siapa tahu sebentar lagi dia akan memiliki cucu, jadi bahagia Ndari sekarang seharusnya tidak masalah kan?
" Mario Ibu perhatikan sedari tadi kau terus mencuri pandang kepada Nara, kalau kau tidak tahan lagi ya bawa saja makannya ke dalam kamar, makan saja setelah kalian selesai ewita. Nanti kalian pastikan jangan lupa untuk minum vitamin agar kalian tetap kuat dan sehat ya? "
Mario memegang nafasnya sembari menggeleng sebal. Benar-benar tidak menyangka kalau Ibunya akan memperhatikannya, kalau tahu begitu ya mana mungkin Mario akan terus diam-diam menatap ke arah Nata tadi?
Nara tersenyum bangga, yah itu boleh-boleh saja kan? Ya mungkin saja wajahnya terlihat sangat cantik hari ini sampai Mario tidak rela untuk tidak menatapnya.
" Siapa juga yang mencuri pandang? Aku hanya sedang makan dan membatin, kenapa bisa aku menikahi wanita seperti itu? " Mario membuang wajahnya karena ogah mimik wajahnya kalau Nara melihatnya.
" Karena kalau bukan aku, sampai sekarang ini kau pasti masih perjaka tong tong, iya kan? "
Mario terdiam menahan dirinya agar tak menunjukan kekesalannya, bagaimanapun di sana ada Ayah dan juga adiknya yang fokus dengan makanannya, mereka benar-benar seperti sedang mencoba untuk tidak ikut campur dalam obrolan gila itu.
" Jangan bicara yang aneh-aneh, makan saja makananmu itu! " Ucap Mario berharap obrolan di antara mereka selesai sampai di situ saja.
" Aku tidak mau terlalu kenyang, soalnya aku kan mau makan yang lain. " Goda Nara sembari membatin di dalam hati, amit amit jangan sampai dia dan Mario ewita dulu beberapa hari ini. Maklum saja, untuk berpura-pura berjalan normal sampai ke meja makan saja sudah seperti berjalan di atas tumpukan moci, jadi dia hanya sekedar sok menantang tapi pengecut aslinya.
Mario membuang nafasnya, sudah lah dia benar-benar tidak akan bisa menandingi mulut Nara jadi diam adalah hal yang paling benar untuknya.
" Benar-benar pasangan yang romantis, Ibu jadi bahagia sekali deh. Yah, setelah ini lahirkan cucu yang banyak untuk Ibu ya? Kalian tidak usah pusing memikirkan berapa banyak biaya yang di butuhkan untuk membesarkan anak, kan ada calon kakeknya, iya kan sayang? " Ariel menatap Leo yang benar-benar menghindari pembicaraan aneh itu, dia hanya mengangguk karena tersedak dan terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan istrinya. Bagiamana tidak tersedak? Padahal yang membuat anak adalah Mario dan Nara, bagaimana bisa melimpahkan biaya kepada dia seorang?
" Melahirkan bukan hal yang mudah Ibu, punya anak banyak juga berarti harus siap sakit kepala dan tekanan darah naik, satu itu sudah lebih dari pada setengah. " Ucap Mario kesal. Jujur saja, sebenarnya Mario memang kurang suka terhadap anak-anak karena dia benar-benar merasakan bagaimana jahilnya Lukas saat masih kecil dan menganggap kalau semua anak pasti seperti itu. Yah, walaupun memang membuatnya enak, tapi kalau bisa ya punya anak yang sangat menurut jadi tidak membuat sakit kepala.
Ariel menatap sinis Mario dan menggigit bibir bawahnya menahan kesal.
" Semua orang juga tahu satu itu lebih daripada setengah! Tapi kalau kau mau punya anak setengah, ya setidaknya atau minimal harus setengah lusin. "
" Mampus! " Lukas tersentak dan reflek berucap seperti itu membuat semua orang menatapnya dengan tatapan terkejut. Jelas saja dia takut pada satu orang, yaitu Ibunya. Lukas segera memaksakan senyumnya, menusuk dada ayam yah sedang ia makan dnegan garpu lalu menggigitnya dengan mimik seperti memiliki dendam dengan Ayah itu.
" Mampus kau ayam! Aku benar-benar puas memakanmu! " Lukas menatap Ibunya lagi dan melanjutkan senyum paksanya tadi.
" Pelan-pelan saja nak, Ayah tahu memakan ayak itu bukanlah hal yang mudah. Jadi, bagaimana kalau kita menonton bola saja sambil makan ayam goreng sekarang? " Ucap Leo yang tahu benar kalau obrolan semacam ini membuat Lukas tidak nyaman.
***
" Ah! " Pekik Wiliam saat Moza mengubah posisinya untuk berada di atas tubuh Wiliam. Sekarang ini mereka masih berpakaian lengkap, tapi memang posisi mereka benar-benar membuat siapapun akan menjadi salah paham.
" Kau seharusnya tahu kalau tidak semudah itu menyentuhku bukan? Aku hanya memintamu memberitahu bagaimana caranya bercinta, bukan mempraktekannya padaku. " Moza mencengkram dagu Wiliam berucap tanpa memperdulikan posisi tubuh mereka yang begitu ambigu.
" Bagaimana aku bisa hanya mengoceh saja menjelaskan caranya bercinta?! Semua orang tentu saja bisa omong kosong, tapi yang paling bagus ya tentu saja praktek secara langsung! "
Moza memejamkan mata sebentar membuang kekesalannya meski itu sama sekali tak terjadi, dan malah dia menjadi semakin kesal, sialnya dia juga harus tetap menahan kekesalan itu.
" Lalu kenapa kau tiba-tiba mencium leherku?! "
" Ya masa aku tiba-tiba mencium dadamu? Baru leher saja kau sudah seperti di lecehkan preman sekampung, apalagi kalau aku mencium bagian yang lain? "
Moza terdiam sebentar, dia berpikir lagi dan memang benar sih dia berlebihan dalam hal ini. Bagaimanapun Wiliam adalah suaminya, meskipun ada perasaan kesal karena selalu di tuntut untuk memiliki anak padahal dia tidak mau karena beberapa alasan, tapi mau sampai kapan dia menolak? Benar saja dia bisa memilih untuk menjadi model dan aktris, tapi apa yang akan dia dapatkan dengan itu? Usia akan semakin berlanjut menjadi tua, jika setidaknya dia memiliki anak, maka di hari tua nanti pasti akan ada anak yang menemaninya hidup.
" Kau kan bisa memulai dengan mencium tangan? "
" Aku kan bukan anakmu yang ingin pergi ke sekolah?! "
" Mencium kening misalnya? "
" Aku bukan anak sekolah dasar yang begitu menyukai mencium kening! "
" Oke oke, kau bisa memulai untuk mencium pipiku dulu kan? "
" Itu terlalu banyak membuang waktu, kalau mau mencium ya tentu saja langsung bibir, sambil main lidah, gigit sedikit dan pelan, gerakkan tangan menyentuh dada dan bokong, lalu perlahan menelusup kan tangan masuk ke dalam kain segitiga, lalu menyentuh lobang itu dan memasukkan- "
" Diam, bajingan! "
Moza terkejut bukan main karena tak sengaja memukul Wiliam sampai Wiliam pingsan seketika.
Bersambung.