Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 37



" Berpikirlah seperti itu, karena dengan begitu aku akan tertawa tiada henti di akhir cerita. " Ucapan Ibu Maria begitu menggema di kepala Tuan Diro. Entah mengapa ucapannya seperti sebuah tombak besar yang menghunus hatinya. Apakah selama ini dia salah sangka? Tapi bagaimana dengan hasil uji DNA?


Ibu Maria tersenyum, dia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tas yang sedari tadi ia jinjing. Daftar uang yang digunakan Ibu tiri dan Tuan Diro beserta Sephora, kemudian kesepakatan untuk menjodohkan Sephora dengan Leo, tapi nyatanya Marile dijadikan alat pertukaran karena Sephora mengetahui kondisi Leo yang serba kekurangan kalau dari segi fisik.


" Jangan banyak berpikir, Diro. Ini tanda tangani bersama dengan istri tercintamu itu. " Ibu Maria menyodorkan selembar surat perjanjian yang intinya adalah, pihak Tuan Diro dan keluarga harus segera melunasi semua uang yang digunakan mereka dalam satu Minggu, kalau tidak maka mereka harus segera keluar dari rumah untuk membayar sebagian hutang, lalu sisanya akan di tunda dalam jangka waktu satu bulan, kalau masih juga tidak lunas, maka Tuan Diro, Ibu tiri, dan juga Sephora harus mau bekerja di kediaman Leo sampai hutang mereka lunas.


" Apa-apaan ini?! " Protes Ibu tiri yang semakin tak terima, bagaimana bisa dia harus berakhir sebagai babu? Seumur hidup dia selalu dimanjakan oleh keluarganya, jadi mana mungkin dia Sudi menjadi babu di rumah orang yang dengan mentah-mentah dia tolak sebagai menantu meski uangnya banyak, dan lagi dia juga tidak Sudi berada di satu tempat dengan orang yang cacat dan memiliki wajah menjijikan seperti Leo itu.


" Kalau begitu, kembalikan saja semua yang kalian ambil dari putriku, maka kalian tidak mungkin akan merasakan penderitaan itu kan? "


Ibu tiri terdiam karena dia tak tahu harus mengatakan apa. Sekarang tentu saja dia belum mampu mengembalikan semua uang yang di ambil dari Ariel, dan tidak Sudi juga kalau harus menjadi pembantu di rumah Ariel dan Leo.


" Tidak bisa! "


Ibu Maria menghela nafas, lalu menatap Ibu tiri dengan tatapan mengancam.


" Kalau tidak mau di berikan satu Minggu, silahkan tinggalkan rumah ini sekarang juga, aku beri satu jam untuk keluar. Nanti sisinya kalian urus sesegera mungkin, setidaknya lusa semua sudah masuk ke dalam rekening Ariel putriku. Ah, apa aku harus menyeret kalian keluar, dan membuat kalian menjadi tontonan dan pembicaraan para tetangga? "


Tidak ada pilihan lain, juga tak mau memperpanjang masalah, Tuan Diro meraih surat perjanjian itu dan menandatangani surat perjanjian. Ibu tiri hanya bisa melotot tak percaya, tapi karena tak memiliki pilihan lain pada akhirnya dia juga hanya bisa memberikan tanda tangannya, begitu juga dengan Sephora.


" Bagus, kalau begitu aku akan pergi sekarang juga. Oh, nanti kalau kalian memang tidak sanggup bayar, tolong bersihkan rumah ini dengan membuang semua barang-barang ini ya? Meskipun aku yang beli, tapi karena kalian sudah memakainya selama bertahun-tahun, tentu saja aku tidak Sudi menggunakannya. Satu lagi, aku juga sudah lelah menyandang gelar narapidana, dan aku juga tidak mau di kenal orang dengan mantan nara pidana kasus korupsi, jadi aku akan mengorek tempat sampah yang agar pelaku sebenarnya tidak akan bisa hidup tenang lagi. "


Ibu tiri menelan salivanya, dan dia sama sekali tidak berani mengatakan apapun karena ucapan Ibu Maia barusan benar-benar membuatnya mati kutu.


Setelah mengatakan itu, Ibu Maria mengajak Ariel untuk pergi keluar dari sana.


" Ah, Ibu tadi keren sekali! " Ariel mengacungkan kedua jempol nya untuk mewakili betapa hebat Ibunya di matanya.


Ibu Maria mencubit pipi Ariel dengan gemas. Sungguh tidak menyangka kalau Ariel sekarang sudah dewasa, dia tampak sangat cantik, bahkan yang masih sulit untuk dia percaya adalah Ariel sudah menikah dengan orang hebat meski memiliki kekurangan pada fisiknya.


" Ibu bisa begitu karena Ibu memikirkan mu, nak. Ibu sebenarnya orang yah paling malas berdebat, tapi karena ini demi mu, demi putriku satu-satunya yang sudah menderita selama ini, hal seperti tadi hanyalah hal kecil bagi Ibu. "


Ariel memeluk Ibunya karena merasa amat senang. Memang begitu bahagia memiliki Ibu yang bisa mendampingi seperti sekarang ini, jadi bukan salahnya jika tidak akan mau berpisah dengan Ibunya apapun yang terjadi nanti.


Ibu Maria mengusap rambut Ariel dengan lembut, dia juga mengecup puncak kepala anaknya dengan lembut penuh kasih.


" Ibu yang bersalah nak, andai saja waktu itu Ibu lebih giat dan tidak kehilangan banyak koneksi, mungkin kau tidak akan hidup menderita selama Ibu di dalam penjara. "


" Aku sekarang tidak apa-apa, Ibu. Aku sangat bahagia, aku bahkan sampai lupa bagaimana rasanya saat aku menderita waktu itu. "


Ibu Maria tersenyum bahagia dan membuatkan saja putrinya masih memeluknya seperti itu entah sampai kapan, dia juga tidak masalah sama sekali.


Sesampainya di rumah Leo, Ibu Maria masuk ke kamarnya untuk istirahat sebentar, sementara Ariel juga ikut masuk ke kamarnya untuk istirahat setelah kelelahan melihat pertunjukkan terhebat yang pernah ia lihat selama hidupnya.


***


" Saya ingin meminta maaf karena membuat anda marah, saya hanya gelap mata untuk sesaat karena saya bingung bagaimana melukis jarak formal di antara kita. " Arumi bersimpuh di hadapan Presdir Nard memohon ampun atas apa yang ia buat hingga Presdir Nard bisa semarah ini.


Presdir Nard mengeraskan rahangnya, menatap Arumi marah, tapi dia juga tetap menahan diri sebisanya agar tidak melayangkan pukulan kepada seorang wanita. Beberapa saat yang lalu, Arumi yang datang ke ruangan Presdir Nard merasa sangat lega dan bahagia karena tak mendapati Ariel di sana, karena merasa sudah lelah dengan jarak formal mereka, Arumi mencoba untuk menggoda Presdir Nard dengan membuka kancing bajunya hingga batas dadanya agar Presdir Nard melihatnya dan tergoda. Sayang sekali itu sama sekali tak berpengaruh, jadi Arumi mencoba melangkah lebih jauh dengan menggerayangi punggung Presdir Nard. Masih tak berhasil, dan Presdir Nard masih diam, jadi Arumi pikir tidak masalah kalau menjalankan tangannya ke bagian paha tengah. Sayang, belum sampai ke tempat itu, tangan Presdir Nard dengan cepat menepisnya.


" Kau minta maaf karena aku marah, bukan karena kau sadar apa yang kau lakukan salah? Hah! Sungguh mahkluk bodoh yang tidak tahu diri. " Ujar Presdir Nard.


" Maaf, saya terlalu jatuh cinta dan mengagumi Presdir, jadi saya tidak bisa menahan diri tadi. "


" Sayang sekali, aku sudah ada yang punya. "


Arumi mengernyit bingung.


" Maksud Presdir? "


" Aku sudah menikah, aku tidak menginginkan wanita lain, karena yang lain tidak akan bisa seperti dia. Berhentilah memikirkan hal bodoh, istirahatlah banyak-banyak di rumah, kau bisa datang lagi saat pikiran mu sudah kembali waras. "


Mana mungkin? Jelas-jelas tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita, bagaimana mungkin dia sudah menikah?


Bersambung.