Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 16



Mike membuang nafas sebalnya setelah acara pertunangan saudara Lope selesai. Lope sendiri masih bersama keluarganya untuk membantu membereskan tempat karena acara digelar di rumah pribadi orang tuanya. Sebenarnya Mike berniat menunggu Lope agar bisa bersamaan masuk ke kamar, tapi sial sekali Lope malah terlihat sangat sibuk melebihi sibuknya persiden hari ini.


" Duh, kalau aku sudah capek begini nanti bagaimana menghadapi Lope? Masak iya baru masuk sudah selesai saja? Mau taruh dimana martabatku sebagai suami dan pria tulen? " Gumam Mike saat mendapati tubuhnya yang terasa begitu lelah.


Malam ini sepertinya dia harus segera tidur, jadi nanti saat Lope masuk ke dalam kamar tenaganya sudah mulai terkumpul lagi, baru setelah itu dia akan menganu Lope dengan percaya diri, batin Mike terkekeh geli sendiri di dalam hati. Sungguh memang sangat aneh, padahal Lope memilki bentuk tubuh yang jauh dari seleranya, tapi anehnya dia begitu tertarik dengan Lope entah apa penyebabnya. Kalau cantik sih, Mike juga sudah biasa melihat wajah wanita cantik, jadi apapun alasannya Mike benar-benar tidak akan perduli lagi asalkan bisa memenuhi keinginannya sekarang ini untuk melakukan hubungan suami istri dengan Lope.


Satu jam kemudian, Lope masuk ke dalam kamar yang dulu ia gunakan sebelum menikah dan tinggal bersama dengan Mike. Lope sedikit tersenyum melihat betapa nyenyak dan lelah wajah Mike saat itu. Padahal wajahnya begitu polos ketika tidur, tapi tidak di sangka kalau Mike sangatlah mata keranjang ketika bangun dari tidur.


Perlahan-lahan Lope menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu setelahnya dia membaringkan tubuhnya di samping Mike. Pria itu benar-benar begitu lelap rupanya hingga tidak terbangun saat Lope beranting di sana.


Pagi Harinya.


Mike menatap kesal kepada Lope yang kini tengah menggunakan make up di wajahnya. Kenapa? Itu semua karena dia kesal sekali saat terbangun hari malah sudah menjadi pagi, sialnya Lope juga sudah mandi dan menggunakan baju gantinya yang baru.


" Gila, lama-lama aku jadi kasim saja. Masa iya punya cucung tapi tidak digunakan juga, padahal aku kan punya istri. Katanya kalau sudah punya istri tidak boleh asal memasukkan cucung ke sembarang lobang, sekarang kalau donat milik pribadi tidak bisa di gunakan kemana lah cucung malang ini di masukkan? Masa iya di masukkan ke lubang hidungku sendiri? Ah, aku mau bunuh diri sajalah kalau begini! " Gumam kesal Mike kepada dirinya sendiri, iya tentu saja dia bisa mendengarnya dan tahu juga kalau sedang di sindir.


Lope menghela nafasnya.


" Mandilah dulu, nanti aku siapkan baju ganti untukmu. "


Mike membuang nafas kasarnya lalu bangkit untuk segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


" Mario, lebih baik kau pikirkan baik-baik bagaimana mempertahankan rumah tanggamu. Jangan pikir Ibu tidak tahu apa yah terjadi padamu beberapa tahun silam ya? Nara memang sangat bertolak belakang dari wanita masa lalumu, tapi percayalah Nara itu bis aku percaya. Kau juga tidak perlu merasa bersalah sampai harus menjauhi semua wanita, membatasi dirimu sendiri hanya karena tidak ingin repot memikirkan urusan hati. " Ucap Ariel kepada Mario yang kini tengah duduk di kursi taman seperti kebiasaannya saat akhir pekan dan tidak ada yang bisa dia lakukan.


Mario terdiam, memang benar apa yang dikatakan Ibunya. Dia menjauhi semua wanita yang mencoba mendekatinya karena tidak ingin merasakan kekecewaan dan rasa bersalah yang menggangunya selama ini. Semua itu dia lakukan untuk tetap menjaga hatinya agar tetap dalam keseimbangan. Namun nyatanya pilihannya itu justru membuatnya terlalu terperangkap oleh masa lalu dan melarang dirinya sendiri untuk bisa melupakan masa lalu dan hidup lebih baik dari sebelumnya dan menemukan seseorang yang cocok untuknya, terlebih bisa menjaga perasaannya agar tidak perlu merasakan hal yang sama seperti di masa lalu.


Mario terdiam karena memang tidak tahu harus bagaimana menanggapi apa yang dikatakan Ibunya. Dia juga tidak begitu bodoh sampai tidak bisa merasakan kalau malam itu Nara memang masih dalam keadaan baik atau dia adalah pria yang menyentuh bagian terdalam Nara. Memang tidak heran bagaimana bisa Nara bertindak begitu berani, kalau saja Nara memiliki perasaan untuk Mario, jelas Nara tidak akan seberani itu kan?


" Nara berbeda dengan wanita itu, dia punya rasa tahu diri yang sangat tinggi, tapi tetap tidak rendah diri. Tidak semua orang bisa melakukan itu, nak. Percayalah Nara akan membantumu keluar dari masa lalu itu asalkan kau buka saja sedikit hatimu agar dia memiliki ruang untuk perlahan menempati hatimu. "


Mario mengangguk paham. Memang bisa apa dia selain melakukan apa yang dikatakan Ibunya? Dia juga tidak mungkin terus mengindari Nara yang bahkan sudah dia tiduri. Hanya saja dia ragu apakah bisa berperan sebagai suami yang sesungguhnya.


" Begitu baru namanya anakku! " Ariel memukul lengan Mario dengan wajah bahagianya tidak perduli kalau Mario meringis kesakitan.


Setelah pembicaraan dengan Ibunya selesai, Mario memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Di kamar Mario memang ada teras yang biasa di gunakan Mario untuk duduk menikmati suasana malam, kadang juga ia gunakan untuk bekerja jika sedang menginginkan angin malam di sana. Samar-samar Mario mendengar suara Nara berbicara di sana, dia coba untuk mendekati teras kamarnya dan ternyata benar Nara tengah berbicara dengan seseorang yang sepertinya salah Ibunya Nara melalui sambungan telepon video.


" Ibu, tidak boleh khawatir berlebihan seperti itu lagi ya? Aku senang tinggal disini, Ayah dan Ibu mertuaku sangat baik, suamiku juga sangat menyayangiku. Apalagi yang Ibu khawatirkan? " Nara tersenyum di akhir kalimat, dia benar-benar pintar sekali menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, bagaimanapun sikap Mario pasti adalah menyakiti hatinya, sementara Ariel yang terus memaksanya juga pasti membuatnya tertekan.


Tapi Ibu masih tidak tenang entah mengapa, nak.


Nara terkekeh.


" Ayolah, Ibu. Lihat aku baik-baik deh! Aku tidak kurusan kan? Malahan berat badanku naik dua kilogram loh. Ibu baik-baik dirumah, jangan terlalu banyak pikiran nanti tekanan darah Ibu naik lagi, Ibu mengerti? "


Baiklah, kau jaga diri baik-baik juga ya nak? Kabari kami jika kau merasa tidak nyaman atau apapun itu ya?


" Iya, Ibu. "


Mario terdiam, ternyata memang Nara memiliki sifat yang cukup baik di balik tingkah gilanya yang mesum selama ini.


Bersambung.