
Lope meletakkan semua perlengkapan untuk Mike pakai berangkat bekerja. Mulai dari pakaian dalam, satu set baju kantor, juga sepatu beserta kaus kakinya juga. Lope sama sekali tak mengatakan apapun, dia hanya diam saja tapi dia tetap melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri. Hatinya terlalu sakit mengingat Mike ingin menamparnya tadi, ini bukan masalah berlebihan menanggapi, tapi ini tentang rumah tangga yang Lope inginkan menjadi rumah tangga yang harmonis. Kalau ingin membicarakan cinta, tentu saja Lope masih belum memiliki perasaan cinta kepada Mike. Dia hanya ingin menjadi istri yang baik, dia ingin memiliki keluarga sendiri tanpa adanya kekerasan.
Lope menikahi Mike juga bukan keinginanya, dia sama terpaksa nya seperti Mike kala itu. Sebelumnya dia juga tengah menjalin hubungan asmara dengan pria tampan yang bekerja sebagai Dokter. Tapi karena ada beberapa hal hubungannya renggang, di tambah lagi tiba-tiba orang tuanya meminta dia untuk menikahi Mike. Asalnya Lope tentu saja menolak, tapi karena terus di berikan pengertian, di tambah kekasihnya yang selalu memberikan janji tak juga di tepati, Lope akhirnya mantap menikahi Mike.
Terkejut memang saat dia tahu bagiamana sifat Mike, tapi Lope juga tidak bisa mundur begitu saja setelah mengiyakan dengan begitu yakin sebelumnya. Lope pikir Mike akan berubah menjadi lebih baik, tapi nyatanya Mike memiliki sifat buruk lain hah tidak dia ketahui sebelumnya.
Mike keluar dari kamar mandi, dia dengan buru-buru menggunakan bajunya sembari terus mencuri kacang ke arah Lope. Iya, dia tahu benar kalau Lope sedang marah atas apa yang dia lakukan tadi. Kalau boleh jujur Mike sebenarnya tidak sengaja, dia benar-benar reflek, biarpun begitu juga tetap saja dia tidak memukul Lope kan? Lalu kenapa Lope masih saja marah? Duh! Padahal kan kalau Lope tidak marah dia bisa meminta tolong untuk di pasangkan dasinya.
" Lope, apa rencana marahmu masih ingin di lanjutkan? Tunda dulu bisa tidak? Bantu aku berpakaian dulu sebentar ya? "
Lope membuang nafasnya, tidak menjawab tapi dia tetap membantu Mike agar bisa lebih cepat dalam urusan kalian.
" Lope, berhentilah merengut seperti itu ya? Kau juga jangan dendam dan menghukum cucungku. Bagaimanapun aku akan berusaha menjadi lebih baik, tolong lebih bersabar lagi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi lebih baik. "
Masih tak mengatakan apapun, Mike jadi hanya bisa diam dan kebingungan harus bagaimana lagi agar bisa mencairkan suasana di antara dia dan juga Lope.
***
Nara dengan sengaja memamerkan kemesraan serta perhatian untuk Mario terutama di depan para wanita. Entah itu aisiten manager utama, atau siapapun yang menatap Mario dengan tatapan tertarik dan menggoda, semua di buat ketat ketir dengan adanya Nara di dekat Mario.
" Pak Mario, semua file sudah di transfer ke email anda, ini adalah salinan berkasnya untuk anda baca kembali. Dia juga mengatakan untuk anda mengecek pesan yang sudah beliau kirimkan. "
Mario terdiam, dia tak menanggapi tatapan menggoda aisiten sekretaris yang mencoba untuk menggodanya. Iya, dia tahu benar jika wanita yang ada di hadapannya itu tengah mencoba menarik perhatiannya, tapi sayang sekali prinsip Mario yang begitu lurus menganggap banyak wanita banyak masalah akhirnya membuat dirinya sama sekali tidak merasa tertarik.
" Kalau sudah selesai, silahkan keluar dan tunggu saja balasannya akan di kirimkan melalui email oleh sekretaris. "
Wanita itu nampak kikuk, dia segera beranjak pergi begitu Mario mengusirnya dengan jelas.
Dari ujung ruangan Nara tersenyum, gila! Benar-benar sangat tampan, dan juga langka. Mario menunjukkan betapa berkualitas dirinya kalau di bandingkan dengan pria lainnya. Harus Nara akui, dia benar-benar beruntung karena sudah menikah dengan pria yang begitu hebat. Hem, rasanya tidak sia-sia dia dulu sampai bersujud untuk di nikahkan dengan Mario demi menyelamatkan perusahaan keluarganya.
" Sayang, apa kau sibuknya masih lama? " Tanya Nara sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Mario. Tida hanya smaoi di situ, Nara dengan cepat menelusupkan tubuhnya,aku duduk di pangkuan Mario. Lengannya memeluk leher Mario, sementara wajahnya dia hadapkan untuk bisa melihat serta saling bertatapan dengan Mario.
" Turunlah, Nara. Kau tahu kita dimana kan? Aku sedang bekerja, dan kalau kau ingin tahu smaoi kapak aku sibuk, maka seumur hidup aku akan sibuk terus. "
Nara menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan sebal.
Mario membuang nafas kasarnya lalu menatap Nara dengan tatapan intens.
" Sebenarnya kau ingin apa? " Tanya Mario pasrah.
" Ingin anak, supaya kau tidak berselingkuh demi melahirkan anak. "
" Mau anak, kau pikir anak hanya tinggal beli di toko mainan? Anak mana bisa kita dapatkan di saat kita inginkan. Anak itu hadiah Tuhan, dia akan datang kalau sudah siap, dia juga akan hadir di waktu yang tepat. "
" Duh! Kau terlalu bijak. Pria itu gampang bosan dan gampang sekali berselingkuh, benar-benar pria tidak tahu diri! Punya uang sedikit lebih banyak saja sudah sombong dan mulai sok ganteng lalu berselingkuh. Nanti kalau uangnya habis dan jadi miskin kembali lagi dengan istrinya. Cih! Memang pria yang tidak banyak gaya sulit di tebak, laki-laki itu memang seharunya miskin saja supaya tidak bisa sembarangan dengan wanita. "
Mario menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya Nara ini sedang ingin membicarakan apa? Tapi nanti kalau Mario menyuruh Nara untuk bangkit dan fokus dengan masalah tidak berarti ini bagaimana mungkin pekerjaannya akan selesai?
" Dengar ya Nara, tidak semua pria itu sebrengsek yang kau pikirkan. Aku sendiri sudah cukup banyak masalah hanya dengan menikahimu, aku tidak suka kebisingan, maka dari itu aku hanya butuh satu istri saja. Juga, Ayahku mengatakan satu kunci sukses untuk seorang pria. Jauhkan namanya wanita dalam hidup selain istri, karena satu istri akan cukup mengantarmu menuju sukses, tapi ketika memiliki wanita lagi, alias dua wanita di dalam hidup, maka percayalah kehancuran menanti di depan mata. "
Nara tersenyum senang.
" Sayang, karena kau sudah sangat baik dan membuatku bahagia sekali, aku ingin memberikan hadiah spesial untukmu loh. "
Mario mengeryit menatap kedua bola mata Nara, entah mengapa Mario seperti merasa akan terjadi sesuatu yang tidak terbayangkan olehnya.
" Tidak usah, aku tadi hanya bosabasi saja. "
" Tidak usah malu-malu begitu, sayang! "
Nara langsung bangkit dari duduknya, berjalan memutar dan bersimpuh, setelah itu dia langsung sana membuka ikat pinggang serta pengait celana Mario.
" Nara, hentikan! Kalau kau seperti ini, aku benar-benar bisa kehilangan muka kalau ada yang datang kesini! "
" Na- " Mario sudah tidak bisa berkata-kata lagi saat si dia, itu loh, si kemoceng berbulu habis di lalap oleh Nara.
" Hen hentikan! " Mario tadinya ingin bangkit dan membenahi diri, tapi baru memiliki niat pintu ruangannya di ketuk jadi ma tidak mau Mario memajukan kursinya, sedangkan Nara masih bersimpuh di ruang kecil di bawah meja tak perduli apapun dia tetap melanjutkan kegiatannya.
Bersambung.