
Seperti dugaan Leo dan Win, Paman Daris rupanya mengancam menggunakan Ariel. Dengan mengirim sebuah video Ariel yang sedang disekap di sebuah ruangan, duduk di kursi dengan tangan terikat di belakang, mulut di sumpal kain. Sebenarnya video itu sudah sangat cukup membuat Leo goyah dan hampir melakukan hal gila dengan emosinya. Untunglah, Win tidak henti-hentinya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja saat Leo tetap tenang agar bisa berpikir dengan jernih.
Paman Daris sekarang ini sedang berada di ruangan dimana kakek sedang di rawat. Sebenarnya kakek sudah lebih baik, tapi untuk membantu Leo, dia harus tetap berbaring di rumah sakit seolah tak membaik hingga sekarang ini.
" Ayah, lihatlah kekacauan ini. " Paman Daris menatap tajam wajah pria tua yang sudah memiliki banyak sekali keriput. Dia yang sudah di penuhi oleh dendam itu seakan tak perduli jika pria yang berbaring di brankar rumah sakit adalah pria yang membesarkannya, dan membiayai kebutuhannya selama ini.
Paman Daris dengan tatapan bengisnya mendekati wajah Kakek dan tersenyum miring.
" Jika saja bukan karena ulah mu yang memberikan kasih sayang berbeda, semua ini pasti tidak akan terjadi. Oh, seharunya kau tidak membawa wanita dan putranya ke rumah, seharusnya hanya aku anak mu kan? Seharusnya hanya Ibuku istrimu kan? Heh! Lihat, putramu itu juga melakukan hal yang sama dengan mu kan? Ternyata anaknya bukan hanya Leo, tapi ada anak laki-laki lain. Benar-benar Ayah dan anak yang sangat kompak. " Paman Daris menjauhkan dirinya dari kakek. Dia kini menatap dingin wajah pria tua yang sedari tadi memilih diam dan menahan tangis di balik matanya yang memerah.
" Kau membuatku menjadi monster, padahal saat kecil aku adalah anak yang sangat patuh, aku mengikuti aturan dan nasehat mu dengan patuh, aku menjadikan mu tokoh panutan dalam hidupku. Tapi, kau bahkan tidak pantas untuk ku samakan dengan alas sepatuku. Kau sama sekali tidak terlihat sedih saat Ibuku sekarat waktu itu, kau bahkan terlihat begitu tegar berdiri di dekat tempat Ibuku dikubur, kau menggandeng tangan wanita itu dan anaknya. Apa kau ingat? Tahukah aku membencimu saat pertama kali membawa anak dan wanita itu kerumah? Hari-hari dimana kau menyakiti Ibuku, kau membuatnya terus menangis, kau terus menolaknya dengan banyak alasan hanya untuk wanita itu dan anaknya. Kau, menumbuhkan hati iblis padaku, jadi itu adalah salahmu. "
Paman Daris tersenyum miring dengan tatapan dingin.
" Dia mati karena mu, anaknya menderita juga karena mu, semuanya terjadi karena mu. Jadi menderita lah sebanyak yang kau bisa, menderita sebanyak yang Ibuku rasakan, sesakit yang aku rasakan sampai menginginkan kematian setiap saat, sampai kau memiliki keinginan membunuh yang amat besar. "
Kakek tak tahan lagi mendengar itu hingga dia menitihkan air mata. Dia akui dia salah, dia tahu dia melakukan kesalahan yang amat sangat besar. Ketika itu, dia yang begitu bahagia memiliki anak kandung tak bisa berlama-lama menyembunyikannya, dan memilih untuk membawanya pulang ke rumah. Iya, paman Daris adalah anak angkat yang di adopsi sejak dua hari dia di lahirkan karena Ibunya meninggal, dan Ayahnya tidak diketahui siapa. Istri pertamanya adalah wanita yang dijodohkan dengannya tak mampu memiliki anak karena masalah pada rahimnya. Diam-diam dia menikahi wanita lain karena menginginkan anak kandung sendiri, dan dari sanalah semuanya hancur berantakan.
" Jangan menganggap ku bodoh, aku tentu saja tahu jika aku anak angkat. Saat usiaku dua puluh tahun, aku mencocokan DNA kita dan tidak cocok. Aku memang kecewa, tapi aku bersyukur, setidaknya aku bukan anak kandung dari bajingan sepertimu. "
Paman Daris tersenyum miris mengingat betapa menyedihkan hari-hari yang ia jalani setelah Ibunya meninggal.
" Aku tumbuh sampai sepuluh tahun lebih dengan cinta kasih mu, kau selalu mengatakan bahwa aku adalah anakmu yang paling membanggakan, kau bilang aku adalah harapan mu, kau bilang kau mencintaiku selamanya, kau bilang aku adalah matahari mu, kau bilang aku adalah separuh hidupmu. Kau selalu merentangkan tangan mu untuk meraih tubuhku, kau tersenyum dengan begitu lembut, tatapan mu yang penuh kasih itu membuat ku memiliki harapan yang begitu besar. Kau membuatku mencintaimu melebihi batasan ku, kau seperti memberikan banyak janji dan harapan bahagia untukku, tapi tiba-tiba kau memukul ku dengan kenyataan yang tidak bisa ku terima. Kau menyakitiku berkali-kali, kau menyakiti wanita yang biasanya kau manjakan saat kau membawa sepasang anak dan Ibu itu. Kau lebih banyak tersenyum kepada mereka, lalu dengan tatapan acuh kau tunjukan kepada kami setiap waktu. Kau, begitu brengsek! Kau membawa ku terbang tinggi, sangat tinggi sekali sampai aku tidak bisa melihat ke bawah, dan kau membanting ku jatuh ke dasar jurang sampai aku tidak bisa melihat ke atas. "
Kakek terus menangis dengan bibirnya yang bergetar hebat. Iya, dia salah, dia paham sekali dia salah, maka dari itu selama ini dia memilih diam berharap semua akan membaik suatu hari nanti. Tapi, tanpa ukuran tangan sebagai obat darinya mana mungkin semua akan membaik?
" Daris..... " Panggil kakek lirih.
Tuan Daris kembali berjalan mendekat, dia meraih selimut yang menutupi sebagian tubuh Kakek, lalu menariknya sampai ke dada.
" Jangan mati dulu, menderita lah sebanyak-banyaknya, dengan begitu aku juga akan mati dengan tenang. " Ucap Paman Daris dan segera berjalan keluar meninggalkan Kakek yang semakin menangis tanpa suara.
***
" Em! " Ariel meronta karena sudah tidak tahan dengan tangannya yang terasa. segitu sakit. Ikatannya terlalu kencang, kain yang di ikat ke mulutnya juga sangat kuat membuat mulutnya terasa sakit. Ada dua pria yang menjaganya, Mark yang baru datang membuat Ariel menatapnya dengan tatapan meminta untuk dibukakan ikatannya. Tapi Mark malah menatapnya dengan tatapan datar.
" Tuan, Tuan besar meminta kita menyelesaikan ini secepatnya. Saya harus berjaga di depan, biarkan saja dia yang melakukannya, anda hanya cukup memeriksa apakah sudah mati atau belum. " Ucap satu pria yang sedari tadi menjaga Ariel disana.
Ariel, dia melotot kaget mendengar ucapan pria itu. Bukankah itu artinya adalah membunuhnya?
" Berikan saja padaku, buat aku yang melakukanya. " Ucap Mark menyodorkan tangannya untuk menerima pisau lipat yang super tajam.
" Anda yakin? "
Mark menatap pria itu dengan tatapan kesal.
" Apa aku perlu mencoba menancapkan pisau ini ke tubuh mu dulu? " Tanya Mark dengan tatapan mengancam. Pria itu tentu merasa takut, dengan segera dia menggeleng, dan seperti yang dia katakan tadi, dia akan menunggu di luar untuk berjaga-jaga.
" Biarkan aku pegang tubuhnya, Tuan. " Ucap pria satu lagi.
Ariel, dia hanya bisa melotot dan memohon melalui tatapannya untuk tidak menyakitinya.
Bersambung.