Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 87



Onard menghela nafas setelah beberapa saat dia berbicara dengan kakek demi masa depan Grade. Onard meminta kakek untuk membiarkan mereka bercerai agar Grade bisa hidup seperti yang dia inginkan. Bukannya malah mengizinkan karena sudah melihat secara langsung bagaimana keadaan Grade yang buruk beberapa akhir ini, Kakek malah terlihat senang melihat Onard yang berubah menjadi begitu perduli terhadap Grade.


Entah bagaimana caranya agar bisa membujuk kakek dan membuatnya percaya dan memahami jika pernikahan yang di paksakan untuk keduanya sama sekali tidak baik, mungkin perlahan-lahan Onard bisa menerima pernikahan itu, tapi bagaimana dengan Grade? Wanita yang sebelumya adalah mangsa yang akan dia jadikan sebuah permainan nyatanya malah begitu terlihat menderita hingga membuatnya tak taha untuk berlama-lama menyaksikan wajah sedih itu.


Setelah membicarakan masalah Grade, kakek secara pribadi akhirnya menemui Grade untuk mengajaknya bicara dari hati ke hati. Setelah mengetuk pintu kamar Grade beberapa kali Kakek akhirnya masuk ke dalam dengan langkah kaki perlahan karena memang keadaan kaki serta tubuhnya sudah tidak baik untuk banyak berjalan atau beraktivitas. Sebentar dia menatap wajah Grade yang terlihat begitu pilu, kemudian dia duduk di dekat Grade.


" Nak, kakek tahu kau sedang sedih, tapi boleh kah kakek bicara? "


Grade tak menjawab, lagi-lagi ingin menyalahkan orang lain, dan dihatinya kakek adalah orang yang sudah menjadikan semua ini terjadi, tapi dia juga selalu ingat pesan Ayahnya bahwa dia harus merubah sikapnya menjadi lebih lembut, memperlakukan yang ada di dekatnya sebagai keluarga dan mencintai mereka semua, Grade lagi-lagi tak memiliki pilihan selain memilih untuk diam, sebisa mungkin menguatkan diri, menjadikan diri agar lebih sabar.


Karena Grade tak menjawab, kakek jadi melanjutkan niatnya untuk bicara karena menganggap diamnya Grade adalah arti dari kata iya.


" Grade, kakek tahu semua ini berawal dari kesalahan yang kakek lakukan. Kakek salah, kakek minta maaf. Sekarang hanya tinggal kau satu-satunya yang tersisa, kakek hanya punya kau sebagai alasan kakek untuk hidup lebih lama agar bisa membayar hutang kakek kepada Ayahmu. " Kakek perlahan bangkit dari duduknya, dia memegangi lutut karena bagian itu lah yang sulit di kompromikan ketika dia akan bangkit untuk berjalan. Kakinya yang gemetar perlahan dia tekuk untuk berlutut perlahan sembari menahan rasa sakit di pinggangnya.


Grade yang menyadari itu membukakan matanya terkejut, terlebih minat wajah kakeknya yang seperti kesakitan sampai berkeringat hanya untuk berlutut segera dia bangkit, meraih kedua lengan kakeknya mencegahnya untuk melanjutkan kegiatan yang yakin itu pasti menyakitkan.


" Hentikan, Kakek! Apa yang mau kakek lakukan?! " Grade bertanya dengan nada bicara yang kesal, sudah cukup baginya merasakan sakitnya kehilangan kakak, juga Ayahnya sehingga melihat wajah Kakek yang kesakitan dia benar-benar tidak tahan melihatnya.


Kakek menatap Grade yang kini membantah untuk berdiri kembali dengan tegak, lalu mengajaknya untuk duduk di sampingnya sembari menangis pilu. Dia menyadari betapa besarnya luka yang sudah di torehkan di hati Ayahnya Grade sehingga anak laki-laki yang dulu begitu penurut menjadi penjahat hanya demi membalaskan dendam kepadanya.


" Grade, tolong maafkan lah kakek yang tua bangka penuh dosa ini, kakek benar-benar meminta maaf, pengampun untuk dosa yang kakek berikan kepada keluargamu. Kakek salah, dan kakek juga egois karena masih tetap ingin menahan mu disini. Kakek menyayangimu, jadi tolonglah tetap lah berada di sisi kakek, jika memang tidak bisa dan masih ingin membenci kakek, maka hukumlah kakek dengan kebencian mu asal kau tetap bersama kami di sini. "


Grade mengangguk dan memeluk kakek.


***


Selama satu bulan ini Ibu tiri benar-benar sudah seperti orang gila yang mencari Sephora kesana kemari, dia bahkan sampai datang ke apartemen Bram, dan harus melihat betapa menjijikkannya Bram karena dia malah asik bersama dengan wanita. Padahal Ibu tiri sudah memberitahu Bram berkali-kali jika Sephora menghilang, tapi pria itu malah nampak tidak perduli dan sibuk dengan urusannya sendiri.


Sudah satu bulan, dia benar-benar sudah pasrah. Tadinya memang ingin pergi melapor ke kantor polisi, tapi karena ada pesan singkat yang dikirim atas nama Sephora yang menyatakan jika Sephora sedang baik-baik saja pada akhirnya membuat Ibu tiri tak melaksanakan niatnya. Tuan Diro juga ikut mencari selama ini, dia bertanya kepada semua teman Sephora tapi tak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Sephora.


Awalnya sih Ariel ingin ikut mencari karena kasihan juga kalau wanita itu menghilang, tapi karena Leo melarang keras jadi Ariel hanya bisa mengikuti saja ucapan suaminya, terlebih saat dia mengatakan jika Sephora sudah berniat meracuni Leo, maka Ariel benar-benar jadi ogah mencari keberadaan Sephora. Iya, orang jahat biasanya akan panjang umur, jadi tidak mungkin Sephora akan mati secepat itu, jadi tunggu saja kapan waktunya wanita itu akan kembali.


" Sayang, kenapa kau kurusan? Apa kau tidak makan dengan baik? " Tanya Ibu tiri khawatir melihat Sephora jauh lebih kurus saat sebelum menghilang.


Sephora memaksakan senyumnya, dia sebisa mungkin harus menyembunyikan fakta bahwa dia sangat menderita selama di sekap oleh Daniel, dia juga sudah berjanji dan bahkan juga sudah menandatangani surat perjanjian yang salah satu persyaratannya adalah tidak boleh menceritakan apa yang terjadi sebulan ini, tidak boleh asal menyebutkan nama Daniel, dia juga di karang banyak hal yang tidak bisa dia jelaskan melalui kata-kata.


" Maaf membuat Ayah dan Ibu khawatir. Sebulan ini aku benar-benar stres dengan kehidupan kita, terlebih menjadi pelayan dan tulang bersih-bersih bukanlah hal yang mudah, jadi aku kabur dan berisitirahat dari pikiran penat yang aku rasakan. Maaf ya, Ayah Ibu? "


Ibu tiri memeluk Sephora kembali, dia mengusap wajah Sephora yang nampak kusam tidak seperti dahulu.


" Sephora, seharusnya kau bisa kan menghubungi kami setiap hari agar kami tidak khawatir kan? "


Sephora memilih mengangguk saja karena tida tahu lagi harus menjawab apa sedang dia juga masih merasa begitu tertekan dan kebingungan.


Ariel dan Leo yang melihat dari kejauhan hanya bisa berbincang membicarakan mereka.


" Kenapa ya aku merasa kalau Sephora seperti tidak biasanya? Dia seperti habis di penjara saja. "


Leo terdiam karena dia tahu banyak apa yang terjadi dengan Sephora beberapa akhir ini.


" Berhentilah memikirkan dia, bukanya kita punya target untuk segera punya anak? "


Ariel menatap Leo sebal.


" Jadi maksudmu? "


" Masuk ke kamar, ku pintu, dan mari buat anak, bagaimana? "


Bersambung.