Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 27



Bak orang yang kehilangan seluruh respect kepada mantan kekasihnya yang pernah mengacak pikiran dan akal sehatnya, Mario bahkan terus saja teringat dengan wajah Nara yang menahan tangis tapi masih saja sok kuat dengan tubuhnya yang jelas gentar hebat. Memang seharunya dia terbayang akan masa lalu dan terus fokus kepada manta kekasihnya yang begitu membekas hingga mengubah kepribadiannya, tapi aneh sekali karena Mario justru tidak bisa konsen saja sekali gara-gara wajah Nara.


" Si bodoh mesum itu sedang apa ya sekarang? Dia pasti sedang banyak tidur dan minum susu juga suplemen untuk memulihkan tubuhnya kan? Pft.... Lucu sekali. " Gumam Mario lalu tanpa sadar terus terkekeh karena memang sulit sekali untuk dia tahan keinginan untuk tertawanya itu.


Lagi-lagi Dev hanya saja menahan diri dan terus membatin heran dengan sikap bosnya yang begitu berubah. Kalau saja saja Mario banyak tertawa setelah bertemu gadis cantik tadi, mungkin Dev masih bisa memaklumi dan mengira kalau Mario pasti bahagia karena jatuh cinta pandangan pertama dengan Luna, tapi Mario kan sudah aneh dari sebelum bertemu dengan Luna, sekarang benar-benar jadi pertanyaan besar untuk Dev, kira-kira sehebat apa sifat orang yang mampu membuat Bosnya terkekeh begitu terus seharian ini?


Di tempat lain.


Begitu Mario masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja tanpa pamit, rasanya Luna benar-benar bingung sekali dan merasa di abaikan oleh pria yang dulu begitu posesif dan seperti menganggap Luna adalah dunianya. Jelas dia mendengar kalau Mario mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan seorang wanita dengan mimik tersenyum selah wanita yang sedang dia ceritakan itu begitu memiliki kesan yang luar biasa.


" Wanita seperti apa sih yang sudah membuatmu berpaling dari perasaanmu terhadap ku? Padahal kau sudah bertahun-tahun tetap teguh dengan hatimu yang selalu tertuju padaku. "


***


Wiliam terdiam setelah semua pekerjaannya selesai, hari ini benar-benar dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi karena seluruh pikirannya tertuju kepada Moza.


Iya, dia dan Moza sudah melakukan hubungan suami istri untuk pertama kali semalam. Semua benar-benar berjalan lancar pada awal mereka melakukan pemanasan, tali begitu Wiliam mencoba meneroboskan kemoceng berbulu miliknya, dia benar-benar di buat terkejut bukan main karena kenyataannya Moza benar-benar masih dalam ke adaan suci. Bukannya tidak bersyukur mendapatkan istri yang masih bersih, cuma rasanya Wiliam seperti merasa kotor sendiri.


Tapi sayangnya perasaan itu hanya bertahan sebentar, karena setelah kemoceng berbulu miliknya berhasil menerobos, Moza mulai memekik sakit lalu memaki tanpa dia sadar pastinya. Ah, sebenarnya sih Wiliam sebal karena di saat dia ingin melenguh enak, Moza malah memekik sakit dan lagi mengatakan, sakit brengsek! Ingin sekali pergi saja tapi sayang juga karena rasanya enak di banding wanita sebelumya. Jadi ya sepanjang melakukan itu dia hanya mendengar keluhan sakit dan makian saja, pada akhirnya semua selesai dan memuaskan sekali bagi Wiliam karena di tengah-tengah kegiatan dia anggap saja makian dari Moza itu seperti suara lenguhan enak, dan anggap saja Moza sedang mengatakan, lagi, ayo lagi, lagi, aku mau lagi! Dengan begitu beres kan?


" Yah, sebenarnya aku ada menyesal juga sudah mencoba bagaimana rasanya Moza. Gara-gara itu aku jadi ingin pulang dan melakukan itu lagi dengan dia kan? Duh! Malas sekali kalau harus menggoda Moza duluan, tapi kalau tidak di goda mana mungkin tiba-tiba saja aku pulang dan menyeruduk Moza seperti banteng. "


Wiliam membuang nafas sebalnya, tuh kan jadi seperti ini, dia benar-benar terus ingin pulang karena sulit sekali melupakan bagaimana Moza yang tidak di pungkiri semua hak dalam dirinya benar-benar sangat memukau. Mulai dari wajah, bentuk tubuh, auranya, pokoknya semuanya membuat Wiliam mulai gelisah tidak nyaman.


" Lebih baik aku pulang dulu deh, alasan saja sakit kepala, urusan anuan nanti cari cara membujuknya tanpa harus mengakui kalau kemoceng berbulu ku ini bereaksi hanya dengan membayangkan dia saja. " Gumam Wiliam lalu bangkit dengan segera untuk menuju ke parkiran dan lanjut menuju apartemennya yang ia tinggali bersama dengan Moza.


***


" Tuh kan, Lope. Untung saja lubangmu itu aku gunakan tadi, karena kalau tidak itu benar-benar bahaya sekali loh. " Ucap Mike benar-benar sumringah sekali dia karena pada akhirnya dia bisa menuntaskan sesuatu yang terpendam dalam beberapa bulan terakhir ini.


" Lu lubang apa? Gunakan, memangnya aku barang? "


" Cuma istilah saja kok, perempuan yang sudah menikah itu memang seharunya rajin melakukan hubungan suami istri supaya mendapatkan banyak manfaatnya. "


" Memang apa manfaatnya? "


" Pertama, lubangmu itu tidak berlumut dan tidak berdebu. Kedua, berhubungan suami istri sesering mungkin akan membuat stres berkurang drastis, tubuh segar, pikiran cerah, hati senang, mulut makan, kantung penuh, hidup jadi bahagia selalu. Kau mau kita hidup sebahagia itu kan? Jadi ayo kita semangat, bangun pagi kita lakukan, jam makan siang aku akan pulang untuk itu, malam juga akan kita lakukan lagi, jadi sudah pasti kita kan bahagia tujuh turunan deh. "


Lope membuang nafasnya, anaknya pula yang berlumut dan berdebu? Memangnya Mike pikir bagian itu miliknya terbuat dari besi?


" Mike, sudahlah jangan memikirkan itu terus menerus. Pokoknya sewajarnya saja dan aku juga sebisa mungkin tidak akan menolak asalkan kau tidak boleh membawa wanita lain ke dalam hubungan rumah tangga kita, apalagi sempai berselingkuh. "


Mike mengangguk saja meski dia tidak begitu mendengarkan apa yang di katakan Lope barusan. Pokonya dia benar-benar sedang bahagia karena akhirnya dia bisa kikuk kikuk alias ewita dengan istrinya yang cantik dan juga sangat wangi itu.


Baru saja mulut Lope berhenti menasehati, suara dering ponsel milik Mike terdengar, dan posisi ponsel Mike berada di meja makan jadi Lope bisa melihat siapa yang menghubungi Mike saya itu.


" Pricilia? " Lope membuang nafas sebalnya menatap Mike yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan kini hanya bisa terdiam tak berani berekspresi apapun, dia juga tidak berani beralasan.


" Aku angkat telepon dulu ya? " Izin Mike yang Sebenarnya ingin menjaga sebentar untuk mematikan sambungan telepon dan mematikan ponselnya.


" Berikan! "


" Hah? "


Mike bangkit dan menurunkan resleting dengan wajah ngeri.


" Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Aku minta ponselmu bukan cucungmu! "


Mike tak berani mengatakan apapun tapi setidaknya itu lebih melegakan di banding mengikuti pemikirannya yang beberapa waktu lalu melihat berita tentang suami yang berselingkuh lalu cucungnya di tebas oleh sang istri karena istrinya tidak bisa menahan amarahnya lagi.


" Ini nih, ambil saja Lope. Mau kau hancurkan, mau kau lindas, mau kau remukkan menjadi sejuta bagian aku juga rela kok. " Ucap Mike seraya menyerahkan ponsel miliknya.


Bersambung.