
Nara terdiam tak bicara begitu kedua bola matanya tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang dulu hampir saja menikah dengannya. Namanya Sogha, pria itu sebelumnya adalah tunangan Nara, dia juga sudah tiga tahun menjalin hubungan pacaran. Tapi saat perusahan Ayahnya merosok turun, Sogha bagai di telan bumi tak terlihat sekalipun meskipun Nara sampai memohon berkali-kali melalui pesan yang dikirimkan tetap saja satu pun pesan tak mendapatkan balasan.
Jelas saja Nara kecewa, dia marah, dia kesal karena kekasihnya seperti sengaja meninggalkannya di saat keluarganya sedang terjatuh dan membutuhkan pertolongan. Benar-benar Nara sangat berharap kalau Sogha dan keluarganya mau sedikit membantu agar Ayahnya mendapat space untuk bernafas sembari memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah di perusahaannya. Mimpi saja, sampai akhir Sogha benar-benar tak muncul sama sekali, hingga Nara memutuskan untuk mendekati Mario, merendahkan dirinya serendah-rendahnya, bahkan saat gagal mendekati Mario pertama kali dia sungguh sangat malu dengan dirinya sendiri yang sudah seperti wanita rendahan. Bahkan Nara sampai mendatangi kedua orang tua Mario dan memohon api bersujud untuk dinikahkan dengan Mario, berjanji dan bersedia menjadi mesin anak sekalipun tidak masalah asalkan orang tua Mario mau membantu orang tuanya.
" Apa kabar, Nara? " Sapa Sogha dengan tatapan yang membuat Nara kesal sekali, bagaimana tidak kesal? Sogha malah menatap Nara dengan tatapan pilu, dia juga terlihat sangat merindukan Nara entah benar atau tidaknya tapi Nara benar-benar kesal sekali melihat tatapan mata Sogha padanya.
" Yah begini lah, aku mau bilang baik tapi nyatanya tubuhku seperti habis di telindas truk dan di injak-injak badak. Tapi Setidaknya aku lumayan baik sebelum bertemu denganmu. " Nara sebenarnya kalau boleh jujur ingin sekali dia memukul wajah Sogha untuk melampiaskan kekesalannya. Benar-benar sangat tidak di sangka kalau dia akan bertemu dengan Sogha di pusat perbelanjaan. Niat awalnya Nara pergi untuk membeli beberapa dress tidur baru, yah maklum saja karena tiga dress miliknya di rusak oleh si Mario yang beberapa waktu terakhir ini berubah menjadi serigala jangan yang kelaparan.
" Lama tidak berjumpa, aku senang bisa melihatmu secara langsung. " Ucap Soga lagi yang pada akhirnya membuat Nara memaksakan senyumnya. Nara sebentar mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Mario.
Jemput aku ya? Aku ada di pusat belanja yang tidak jauh dari kantormu. Jangan tidak datang, aku tunggu secepatnya, kalau masih tidak datang aku benar-benar tidak akan menolak saat ada pria yang ingin menculikku.
" Nara, mumpung kita bertemu disini, bagaimana kalau kita bicara sebentar sembari makan siang? "
Nara tadinya ingin segera menolak, tapi baru saja dia akan membuka mulut seorang wanita datang dan langsung memeluk lengan Sogha membuat Nara langsung terdiam menatapnya dengan dahi mengeryit bingung.
" Sayang, aku sudah selesai belanja nih. " Gadis itu tersenyum lalu menunjukkan paper bag berisi tas di dalamnya. Nara tersenyum miris mengingat benar bahwa dulu juga Nara selalu bepergian bersama dengan Sogha saat belanja, juga berpergian ke tempat wisata.
" Ah, iya. Kita makan siang sekalian ajak Nara. "
Gadis itu mengeryit dan mengarahkan pandangannya kepada Nara, yah dia jelas menunjukkan kesan tidak suka kepada Nara secara langsung.
" Tapi apa Nara sendiri tidak sibuk? " Gadis itu bertanya dengan bibir tersenyum, tapi tatapan matanya tajam seperti sedang mengusir Nara untuk menjauh dengan segera. Hah..... Memang apa yang harus di takutkan oleh Nara? Beberapa saat lalu dia memang ingin menolak karena ogah menghabiskan waktu hanya untuk bersama dengan orang tidak penting seperti Sogha di tambah lagi gadis aneh yang sepertinya adalah kekasih Sogha yang baru.
" Tidak, aku tidak sibuk kok. Aku malah terllau santai, palingan beberapa sesekali saja untuk menghabiskan uang supaya tidak terlaku banyak. Mau makan di mana? Hari ini aku saja yang bayar semua makanannya. Anggap saja ini traktiran dariku sebagai ucapan selamat karena sepertinya kalian sudah akan melangkah maju ke jenjang yang lebih serius. " Nara mengakhiri ucapannya dengan senyum yang begitu manis tak menunjukan rasa kesal sedikitpun.
Beberapa saat kemudian.
Nara yang sudah duduk bersebrangan meja dengan Sogha dan kekasihnya gelisah karena menunggu Mario yah tidak juga datang apalagi membalas pesan darinya. Dia sudah mengirim lokasi dimana Nara berada sekarang, jadi tidak mungkin kalau Mario akan tersesat.
Lain yang di rasakan Nara, gadis yang tak lain kekasihnya Sogha justru tersenyum jahat dan meremehkan karena dia mengira kalau Nara sedang gelisah karena bill makanan mereka sangat banyak. Begitu juga dengan Sogha, pria itu nampak tak tega karena beranggapan sama seperti kekasihnya.
Ucapan Sogha ini langsung membuat Nara mengeryit bingung menatapnya. Apakah dengan pakaian yang serba malah pemberian mertuanya itu masih membuatnya terlihat miskin hingga tidak mampu membara bill yang menurutnya tidak seberapa setelah menjadi istri Mario.
" Kau ini sedang mengkhawatirkan yang tidak perlu, santai saja dan jangan banyak berpikir nanti kau cepat tua dan mati. Sekarang aku tidak semiskin yah kau kira. " Balas Nara lalu menunjukan wajah sebalnya karena berpura-pura biasa saja memang tidak muda.
" Sayang, cincin untuk pernikahan kita besok sudah bisa di ambil kau tidak lupa kan? "
Sogha tersentak, dia diam sebentar sembari menatap Nara yang sempat menatap ke arahnya beberapa saat sebelum Nara membuang pandangan.
" Iya. " Jawab Sogha tapi kedua bola matanya terus mengarah kepada Nara, dia masih saja menunjukan tatapan rindu membuat sang kekasih barunya merasa kesal dan cemburu.
" Sayang, pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari saja jadi jangan banyak bersantai ya? "
Sebenarnya Nara agak bingung dengan apa yang terjadi dengan Sogha. Dulu dia mendengar kabar kalau Sogha di jodohkan dengan seseorang, lalu anehnya wanita itu sudah hamil beberapa bulan padahal pernikahan baru satu bulan. Apalagi sekarang ini? Menikah lagi kah? Lalu yang kemarin kemana? Ah, rasanya ingin tahu dan bertanya tali dia malu kalau memperlihatkan benar bahwa dia penasaran.
" Sayang, aku sudah tidak sabar deh menunggu hari pernikahan kita. " Ucap Gadis itu dengan sikap, tingkahnya yang manja-manja membuat Nara menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan jijik. Yah, dia tahu dan sadar benar jika gadis itu ingin memanasi Nara untuk menunjukkan bahwa dia adalah calon istri dari Sogha.
Makanan sudah sampai, tapi Mario masih saja belum datang membuat kadar sebal yang di rasakan Nara semakin naik ditambah gadis gila yang ada di hadapannya terus bergelayut manja kepada Sogha.
" Nara, kau tidak makan? " Tanya Sogha.
Baru akan menjawab kedua bola mata Nara minat Mario yang baru saja dan tengah menatap ya dengan wajah datarnya.
" Sayang! " Panggil Nara membuat gadis itu dan Sogha menoleh dengan kompak.
Mario berjalan mendekat, lalu seperti biasa dia akan mencium dahi Nara berangkat juga pulang kerja alias minimal sehari dua kali. Sogha dan gadisnya kompak terkejut bukan main karena mereka tahu benar siapa Mario itu.
Bersambung.