Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 72



Ariel mengeryit mencari keberadaan pria yang biasanya tidur disampingnya. Setelah tangannya tak mendapatkan apapun selain banyak dan selimut, perlahan dia bangkit dari posisinya, membuka lebar matanya, dan yah memang Leo sudah tidak berada di kamar lagi. Ariel menghela nafas, kemudian bangkit untuk menuju kamar mandi, dan ternyata Leo juga tidak berada di sana. Mungkin sudah ke luar duluan ke meja makan, atau ke ruang kerjanya.


Segera Ariel menyalakan keran air shower untuk membasuh tubuhnya dengan bersih, barulah setelah itu dia bergegas keluar setelah dia beres dengan penampilannya. Sepanjang jalan Ariel berjalan, rupanya Leo memang tidak berada di sekitar sana, sudah sampai dia kem meja makan juga tak mendapati Leo disana.


" Selamat pagi, Nona Ariel? " Sapa seorang pelayan yang bekerja untuk memasak di dapur.


" Pagi, lihat Leo tidak? "


" Tuan sudah pergi pagi-pagi sekali, bersama dengan Tuan Win. "


Ariel tersenyum dan mengangguk. Tumben sekali Leo pergi pagi-pagi, pastilah terjadi sesuatu di kantor, atau ada hal mendesak lainnya. Tak mau ingin banyak berpikir, Ariel memilih untuk duduk santai di meja makan karena dia tahu juga kalau Ibunya pasti tidak ada di rumah, Ibunya itu sangat rajin hingga tidak membuang banyak waktu. Berangkat pagi-pagi sekali, pulang juga kadang hampir larut malam.


Dari kejauhan Sephora menatap Ariel dengan tatapan iri. Sungguh dia kesal karena Ariel sangat santai di hari-hari nya. Tidak perlu bekerja keras, cukup makan dan tidur saja, memiliki banyak fasilitas mewah, sedangkan dia? Sekarang malah kain lap dan pakaian kotor yang menjadi teman kesehariannya.


" Benar-benar tidak pantas menjadi Nyonya. " Gumam Sephora kesal sendiri melihat apa yang di dapatkan oleh Ariel. Beginilah hati seseorang kalau sudah di racuni iri, lalu dengki akan menggerogoti, kemudian rasa sakit saat melihat orang lain merasa bahagia, membandingkan dengan dirinya yang tidak kenal bersyukur dan menganggap Tuhan tidak adil dalam banyak hal.


Ariel, dia justru melamun memikirkan semua hal yang terjadi. Sebenarnya bukan tidak ingin melupakan apa yang sudah terjadi, hanya saja itu terlalu sulit, bayangan akan darah, mayat, apalagi saat Mark tersenyum sebelum menutup pintu dan tak lama bom meledak dengan suara yang begitu menggelegar seperti petir di hujan badai. Sungguh dia tahu seberapa berusaha nya Leo untuk membuatnya melupakan hal itu, tapi dia adalah manusia yang tidak akan lupa apapun tentang apa yang dia lalui di dalam proses kehidupan ini.


" Nona, ayo di makan sarapannya. Tuan sudah menyampaikan secara langsung untuk memastikan Nona sudah sarapan dengan baik. "


Ucapan pelayan itu benar-benar membuat Ariel tersentak dan sebentar teralihkan. Dia sebentar menatap nasi goreng dengan toping sosis, telur, juga ada acar di sana. Rasanya dia benar-benar tidak ingin makan karena menelan makanan juga tidak mudah baginya sekarang ini.


" Duh, nyonya muda banyak sekali gayanya ya? Makan tinggal makan saja pakai banyak melamun! "


Ariel mengeryit menatap orang yang berbicara, sambil membatin bahwa dia mengenal suara itu.


Sephora....


Agak kaget memang karena dia melihat Sephora tiba-tiba berada disana, tapi saat melihat kain lap dan celemek di tubuhnya, Ariel sekarang menjadi paham kenapa Sephora berada di sana. Ah, dia juga melihat Ibu tiri dari kejauhan sedang menyapu di ujung ruangan. Duh, indah sekali dunia ini, batin Ariel.


" Aduh, aku mau makan nasi goreng cabai hijau, tapi biarkan dia yang buat ya? " Ucap Ariel kepada pelayan yang tadi menyiapkan sarapannya, kemudian jari telunjuknya terarah kepada Sephora.


" Jangan gila! Aku tidak bisa masak. "


Pelayan itu menatap tak suka karena Sephora sama sekali tidak menghormati Ariel yang jelas adalah Nyonya muda di rumah itu.


" Kau adalah pembantu juga sepertiku kan? Nona Ariel adalah Nyonya, dia istri dari Tuan Leo yang juga adalah Tuan utama kita, jadi tolong buatkan saja apa yang diminta Nona Ariel. "


Dengan hati kesal Sephora berjalan menuju tempat memasak, lalu dengan asal-asalan dia membuat nasi goreng dengan cabai hijau yang sudah di haluskan begitu banyak, senyum jahat itu menyeringai sembari membayangkan betapa indahnya melihat Ariel kelabakan alias kepedesan nantinya.


" Silahkan di makan, Nyonya muda. " Sephora tersenyum begitu manis seraya menyerahkan sepiring nasi goreng yang hijaunya sudah seperti daun segar karena terlalu banyak cabai hijaunya. Tidak apa-apa, Ariel benar-benar tida masalah dengan itu, kenapa?


" Aduh, tiba-tiba kok aku jadi malas makannya ya? Tolong makan ya Sephora? "


Sephora melotot kaget, begitu Ariel tersenyum seperti sudah tahu benar apa yang sedang dipikirkan Sephora sembari memasak nasi goreng itu tadi.


" Ayo makan, kakak. Lihat tuh, nasi gorengnya sudah seperti ular daun warnanya, tidak lihat juga nasi goreng melambai-lambai untuk kakak makan? "


Sephora menghembuskan nafas kasarnya menahan kekesalan yang memuncah dari dadanya, dan sudah mulai naik ke kepala.


" Aku tidak lapar, silahkan kau saja yang makan. Aku sudah makan sebelum datang kesini, jadi perutku tidak mungkin bisa menampung sebanyak ini. "


Ariel tersenyum menatap Sephora.


" Aku kan tidak bilang untuk menghabiskan semua? Minimal lima sendok saja sudah cukup kok. "


Sephora ingin sekali memukul wajah Ariel sebenarnya, tapi pelayan yang ada di dekat Ariel sepertinya selalu bersiap dan mengawasinya.


" Ayo makan! " Ariel tersenyum sembari menyodorkan makanannya.


" Aku tidak lapar, aku tidak su- " Sephora tidak berani melanjutkan kata-katanya karena tidak sengaja melihat tatapan tajam mengancam dari pelayan yang berdiri tak jauh dari Ariel.


Dengan tangan gemetar Sephora menyendok nasi goreng itu, lalu menyuapkan ke mulutnya. Baru dua suap, wajah Sephora sudah sangat merah, bibirnya juga sudah Semerah darah karena rasa pedas yang begitu menyengat.


" Ayo dilanjutkan makannya, kakak. " Ucap Ariel yang membuat Sephora semakin harus menyendok lagi nasi goreng pedas jahanam itu.


" Hah! Hah! Hah! " Sephora terengah-engah, keringatnya bercucuran deras, wajahnya juga semakin memerah. Sudah tak tahan, Sephora meletakkan sendoknya, meminum semua air yang ada di meja, tak terkecuali juga milik Ariel. Masih tak bisa mengurangi rasa pedasnya, Sephora menyiram air es ke kepalanya, juga meminumnya sesekali hingga pada akhirnya dia pingsan dengan kondisi tubuh yang basah kuyup.


" Ya ampun.... " Ariel tersenyum begitu geli melihat Sephora seperti itu.


" Dulu kau pernah melakukan ini padaku kan? Aku bahkan sampai diare seminggu gara-gara kau. Pelan-pelan saja Sephora, ini hanya permulaan loh, ah! Aku tidak sabar menunggu kau bangun nanti. "


Bersambung.